Pembersih Daerah Kewanitaan

Ada daerah-daerah tertentu dalam tubuh wanita yang memerlukan perhatian khusus. Salah satunya adalah di daerah kewanitaan. Apabila kebersihannya kurang dijaga, dapat menimbulkan sejumlah penyakit. Namun bagaimana cara yang tepat merawatnya? Mari kita bicarakan caranya.

WANITA zaman dahulu tidak pernah merawat daerah kewanitaannya secara khusus. Sekadar menyabuni, lalu mengeringkannya, dan selesai. Rata-rata perempuan zaman dulu tidak terlalu bermasalah bukan berarti perawatan ala kadarnya dinilai mencukupi. Tidak disadari kalau penyakit anyang-nyangan, misalnya, sering terjadi karena kurang perawatan di daerah yang perlu senantiasa bersih.

Self Cleansing
Kemaluan wanita itu terdiri dari bagian permukaan luar atau vulva, dan bagian yang lebih ke dalam berupa lorong vagina. Paling penting mendapat perhatian justeru bagian yang menjadi pintu masuk atau vulva. Selain ia bertetangga dengan liang kemih yang berada di atasnya, juga berdekatan dengan liang dubur di bawahnya. Besar kemungkinan vulva tercemar oleh yang berasal dari liang dubur, atau ia sendiri kemungkinan mencemari liang kemih di atasnya. Oleh karena itu perlu diperhatikan kebersihannya.

Sedangkan liang vagina dijaga pintu masuknya oleh vulva. Vulva  menjaganya dari segala hal agar tidak sembarang bisa memasukinya. Pintu vulva dalam keadaan normal selalu mengatup. Namun kemungkinan ada benda asing masuk bukan tak mungkin terjadi, tanpa pemiliknya menyadarinya. Kendati betul itu terjadi, lorong vagina yang kedalamannya sekitar 14 Cm itu bersifat membersihkan dirinya sendiri, atau bersifat self cleansing.

Benda asing yang memasuki vagina, akan dikeluarkan sendirinya oleh vagina, sehingga yang metode membilas vagina, sejatinya tidak diperlukan. Karena vagina akan membersihkan dirinya sendiri.

Lebih penting merawat permukaan vagina atau vulva dari ancaman tidak steril. Pada saat haid, selama haid, dan sehabis melahirkan, masa-masa yang memerlukan perhatian agar tidak terjadi infeksi pada vulva atau vulvitis. Penyakitnya muncul berupa keputihan.

Pembalut haid perlu diganti beberapa kali dalam sehari pada hari-hari pertama haid. Darah kotor yang dibiarkan berlama-lama pada pembalut, bisa mengundang bibit penyakit datang mengancam daerah vulva. Begitu juga bila membasuh dengan air yang diragukan kebersihannya. Yang ini kerap terjadi di toilet umum.

Tidak perlu berlebihan membersihkan
Merawat permukaan vagina sebatas membersihkan daerah sekitarnya, ala kadarnya sebagaimana lazim perempuan zaman dahulu melakukannya. Mandi secara wajar saja, lalu mengeringkannya. Seharusnya membasuh dan membersihkan dari arah depan (vulva) ke arah belakang (liang dubur), dan bukan arah sebaliknya. Kebiasaan membasuh dan membersihkan dari arah liang dubur ke arah vulva itulah yang berisiko membawa bibit penyakit. Seperti kasus keputihan dan anyang-anyangan umumnya sering terjadi.

Hal lain yang perlu diingat, bahwa di vulva itu terdapat kuman yang hidup berdampingan secara damai. Namanya Doderlein. Kuman ini bersahabat dengan tubuh karena kuman inilah yang menciptakan suasana sekitar permukaan vagina menjadi masam. Suasana masam diperlukan untuk mengusir bibit penyakit.

Hanya apabila suasana sekitar  vulva masam itulah, kecil kemungkinan terjadi infeksi di situ. Maka suasana masam karena kehadiran kuman bersahabat itu harus dijaga agar permukaan vagina terbebas dari ancaman infeksi.

Yang keliru dilakukan perempuan modern, justeru menjadikan suasana sekitar vulva tidak lagi masam. Tanpa disadari dengan maksud agar lebih bersih lalu membersihkannya dengan bahan kimia sabun, antisepsis, atau bahan kimiawi lainnya yang membunuh kuman yang menjadi sahabat vulva itu. Matinya kuman yang dibutuhkan vulva agar bisa tetap masam, menjadikan pintu masuk vagina mudah ditembus bibit penyakit, karena sudah kehilangan suasana masamnya. Itu sebab pemakaian bahan kimawi dalam bentuk apa pun pada daerah permukaan vagina atau vulva, sebaiknya dihindari.

Lebih penting memerhatikan cara membasuh sehabis berkemih. Kebiasaan membasuh dengan air lebih berisiko menimbulkan suasana di sekitar vulva menjadi basah dan lembab. Suasana basah sehabis membasuh dengan air berpotensi menginfeksi vulva juga bila airnya tidak steril. Suasana basah di vulva juga mengundang jamur kulit, sehingga terancam keputihan oleh jamur juga. Sebaiknya sehabis berkemih, membasuh dengan air bersih kemudian mengeringkannya dengan tisu.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait