©shutterstock

Penyebab Merkuri Begitu Berbahaya

Pecinta seafood kini harus berhati-hati menyantap makanan favoritnya. Walaupun mengandung protein tinggi dan kaya asam lemak omega 3, kandungan merkuri yang cukup tinggi pada ikan laut dan kerang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Akibat ancaman kadar merkuri, Food and Drug Administration (FDA) dan Environmental Protection Agency (EPA) Amerika, menyarankan perempuan hamil, ibu menyusui, dan anak-anak untuk menghindari beberapa jenis ikan laut dan kerang. Apa sih alasan merkuri begitu berbahaya bagi kesehatan?

Kehilangan Fungsi Panca Indra

Jika terus-menerus mengonsumsinya, merkuri dapat mengendap dalam tubuh dan secara bertahap mulai menimbulkan masalah pada penglihatan atau pendengaran. Dalam kasus yang ekstrim, bisa menyebabkan buta atau tuli, seperti yang disampaikan Melodie Coffman, M.Sc, spesialis gizi masyarakat di New England University.

Berbahaya bagi Perempuan Hamil dan Bayi

Menurut situs Natural Resources Defense Council, paparan merkuri sangat berbahaya bagi perempuan hamil dan anak-anak. Selama beberapa tahun pertama kehidupan, otak anak masih berkembang dan cepat menyerap nutrisi. Bahkan dalam dosisi rendah, merkuri dapat mempengaruhi perkembangan anak, menghambat kemampuan berjalan dan berbicara, mengganggu kemampuan atensi, dan menyebabkan keterlambatan dalam belajar. Jika merkuri masuk ke dalam tubuh saat hamil, dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bayi baru lahir, seperti keterbelakangan mental, cerebral palsy, tuli, dan kebutaan.

Masalah pada Sistem Saraf

Konsumsi ikan yang mengandung merkuri secara teratur, misalnya tuna, dapat menyebabkan beberapa kelainan saraf. Gejala-gejala yang dapat timbul adalah kehilangan koordinasi, sulit untuk berjalan, kaku pada sendi, dan cerebal palsy yang dapat berkaitan dengan terjadinya kejang, kesulitan bicara, bernafas, mendengar, dan melihat.

Untuk menghindari dampak merkuri pada kesehatan tubuh US Enviromental Agency merekomendasikan untuk membatasi konsumsi seafood sebesar 170 gram per minggu. Sementara kalau dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia konsumsi ikan masih diperbolehkan hingga maksimal 1,8 kg per minggu per orang selama ambang batas merkuri tidak lebih dari 162 ppb.

Adapun menurut BPOM merkuri paling banyak ditemukan pada ikan laut seperti ikan todak, mackerel, tilefish dan hiu, yang sebaiknya dihindari untuk dimakan. Sebagai gantinya bisa mengonsumsi ikan air tawar seperti mujaer, nila dan lele atau ikan laut yang rendah kandungan merkurinya, tetapi kaya omega-3 seperti tuna, salmon dan teri.

Tidak ada ciri spesifik pada ikan-ikan yang terkandung merkuri, namun Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, menyebutkan bila ikan yang mengandung merkuri biasanya memiliki fisik tubuh berwarna putih mengkilap. Jadi, mulai cermat dan teliti memakan ikan ya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait