Sahabat Nestlé

Sarapan Secara Teratur Menurunkan Risiko Sindroma Metabolik

Sindroma metabolik adalah sekelompok metabolik dan faktor-faktor risiko kardiovaskular yang sering mengawali berkembangnya diabetes tipe 2 dan penyakit jantung (Ramos dan Olden, 2008). Data terbaru dari Korea National Health and Nutrition Examination Survey (KNHANES) ke-4 yang digunakan untuk meneliti tren antara sarapan, pola   sarapan dan risiko sindroma metabolik (Yoo et al. 2014).

Penelitian itu melibatkan 16.734 warga Korea, yang pola dietnya dinilai menggunakan recall konsumsi pangan 24 jam dengan makanan yang dikategorikan ke dalam 37 kelompok yang berbeda. Analisis faktor digunakan untuk grup peserta menjadi dua jenis sarapan; sarapan tradisional Korea, biasanya hidangan gurih asin dengan nasi putih dikukus, atau susu/sereal sarapan. Sebuah kelompok ‘tidak sarapan’ juga dipertimbangkan. Analisis varian digunakan untuk membangun hubungan antara kebiasaan sarapan dan prevalensi sindroma metabolik, yang ditunjukkan dari 16% peserta.

Setelah data disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin, hasil penelitian menunjukkan bahwa sarapan menurunkan risiko sindroma metabolik sebesar 18%. Pola yang kuat dari konsumsi susu/sereal sarapan secara bermakna dikaitkan dengan risiko sindroma metabolik yang lebih rendah, dengan dose response yang terlihat. Pada kuartil tertinggi dari susu/sereal sarapan, risiko profil metabolik 27% lebih rendah dibandingkan dengan kuartil terendah. Hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya kandungan natrium dan beban glikemik pada kelompok ini. Untuk sarapan tradisional, hubungan itu kurang jelas karena hanya pola terkuat, yaitu kuartil tertinggi, secara bermakna dikaitkan dengan rendahnya resiko sindroma metabolik dengan penurunan resiko 17%.

Sarapan susu/sereal tampaknya menjadi pilihan yang paling menjanjikan untuk kesehatan metabolik, meskipun perlu dicatat bahwa pola ini disukai oleh orang-orang muda yang cenderung memiliki indeks massa tubuh lebih rendah.

Share artikel ini:

Artikel Terkait