Support System Bagi Ibu Baru

Menjadi seorang ibu baru, dalam hal ini ibu yang baru pertama kali memiliki bayi, bisa sangat mengejutkan. Ibu baru akan menghadapi kenyataan baru yang di luar perhitungannya.

Meski persiapan optimal tetap dibutuhkan, dari mulai mental, emosional, material (barang-barang yang dibutuhkan untuk si Ibu sendiri dan calon bayi), dan lain-lain, tapi dalam prakteknya sudah pasti banyak kekurangan sana-sini atau banyak hal baru yang akan dihadapi.  

Karena itu, kemampuan yang paling dibutuhkan di sini adalah kesiapan menghadapi hal baru itu, terutama menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Atau dengan kata lain, seorang calon ibu harus bersedia menjadi learner, pembelajar.   

 

Persis seperti yang pernah diungkapkan oleh seorang sastrawan dan bangsawan Inggris, John Wilmot, “Sebelum saya nikah, saya punya enam teori tentang bagaimana membesarkan anak-anak, tapi setelah saya menikah, saya punya enam anak dan tak punya satu teori pun”.  Jadi, kuncinya adalah siap menjalaninya sambil terus belajar.

 

Nah, berbicara soal pembelajaran itu, hemat saya yang paling mendasar di sini adalah bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang terdekat mengenai hal-hal penting yang perlu kita komunikasikan sehingga orang-orang terdekat itu tahu dan paham mengenai kita.

 

Membangun komunikasi dengan suami adalah wajib karena dialah orang yang saat ini paling dekat dengan kita. Komunikasikan apa pun perlu dilakukan bersama sehingga sama-sama memahami. Jangan sampai kita berharap suami bisa memahami kita padahal kita belum optimal berkomunikasi atau lebih banyak diam. Ayah dan Ibu bisa berbagi tugas, apalagi di masa-masa awal setelah kelahiran.

 

Mulai intensif berkomunikasi dengan orangtua juga wajib (sangat dibutuhkan). Orangtua di sini bisa orangtua sendiri, bisa mertua, atau bisa juga orang lain yang  dapat kita jadikan guru dan penolong. Kita bisa belajar dari pengalaman mereka. Mungkin tidak menelan bulat-bulat, karena masa yang memang sudah berubah. Tapi kita bisa mengambil hal-hal yang positif dan relevan dengan kondisi kita.

 

Yang juga perlu kita lakukan adalah berkomunikasi dengan orang-orang yang masuk ke dalam daftar pendukung atau pembantu (supportive people), misalnya saudara, suster, pembantu, dokter, dan lain-lain, mengenai apa saja yang kita butuhkan dari mereka. Komunikasikan dengan jelas bantuan apa yang kita butuhkan bagi mereka. Berkaitan dengan dokter, Ibu bisa membuat daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada dokter saat berkunjung. Seringkali kita memiliki banyak pertanyaan, tapi terlupa saat kontrol ke dokter. Konsultasi kpada konselor profesional juga bisa jadi pilihan. Konselor laktasi misalnya, apabila Ibu menghadapi kesulitan yang berkaitan dengan menyusui.

 

Ibu perlu menyadari kalau tidak semua bisa ia kontrol, ada hal-hal yang perlu kita percayakan kepada orang lain. Karena tubuh Ibu juga membutuhkan istirahat, jadi tak ada salahnya meminta bantuan orang-orang yang terpercaya. Ibu bahagia, berarti bayi yang bahagia pula, bukan?

 

Semoga bermanfaat

 

Ubaedy, AN – Your Softskill Learning Partner.

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait