Ketika si Praremaja Menolak Dipeluk

“Aku gak mau dipeluk Ibu di area sekolah. Malu, sudah gede. Lebih-lebih kalau dilihat sama adik kelas. Pernah waktu itu pipi aku ada merahnya, bekas lipstik Ibu yang masih nempel. Adik kelas pada ngeledekin. Malunya luar biasa . . . .”, itulah mungkin ungkapan si anak kelas V SD mewakili ribuan temannya.

Ketika masa kanak-kanak berakhir dan mulai memasuki ke usia remaja, atau yang akrab disebut praremaja, sering mulai terlihat adanya perubahan sikap pada anak-anak ini. Kalau dilihat dari usia atau kelas, praremaja umumnya mulai kelas 4-6 atau usia 9 sampai menjelang 12 tahun. Mereka terkadang malu atau menolak untuk diberi pelukan seperti dulunya.

Bagaimana sikap orangtua sebaiknya? Kita sebagai orangtua idealnya perlu mulai belajar untuk memahami perkembangan jiwanya. Ini tidak berarti dia sudah kurang butuh kasih sayang kita lagi. Kasih sayang dan kedekatan justru semakin dibutuhkan karena masalah dan tantangan yang dihadapi semakin banyak. Hanya saja mungkin cara dan bentuknya berbeda. Misalnya kita bisa cukup bergandengan tangan erat, merangkul pundaknya, atau memberikan pelukan atau ciuman sayang di situasi dan kondisi yang kondusif (mendukung), katakanlah saat masih di mobil sebelum ia turun ke sekolah, mau tidur, mau pergi, dan seterunya, biasanya bukan di depan orang banyak.

Kenapa anak praremaja itu mulai malu atau menolak untuk dipeluk orangtuanya? Sebetulnya ini bisa kita tangkap sebagai aksi simbolik atau isyarat yang menjelaskan adanya hal-hal baru dalam jiwanya. Secara psikologi dijelaskan bahwa pada praremaja ada dua karakteristik yang menonjol dan saling berdekatan.

Karakteristik pertama adalah mulai menguatnya self-identity. Dia mulai menunjukkan inilah aku, terserah aku, aku ingin jadi ini, dan seterusnya. Pendeknya, ia ingin mulai menunjukkan jatidirinya, identitasnya, dan karakternya. Di saat yang bersamaan ada karakteristik kedua, yaitu menguatnya feeling of independence (ingin bebas atau mandiri) Dengan munculnya dua karakteristik psikologis itu maka paslah atau wajarlah kalau dia malu atau menolak ketika diperlakukan seperti anak kecil lagi.

Tidak hanya sampai di sini. Praremaja juga mengekspresikan pencarian dirinya dan kebebasannya dalam berbagai bentuk. Misalnya pada pakaian, penampilan fisik, bentuk gazet, dan lain-lain. Meski orangtuanya ahli desainer sekalipun, belum tentu anaknya mau mengikuti arahan orangtuanya. Dia punya selera sendiri.

Sebetulnya, apapun bentuk eksplorasi dan eksperimentasi yang dilakukan praremaja, dari mulai membantah orangtua sampai ke hal lain yang menurut kita tidak baik, itu perlu dikasih ruang untuk dipahami. Kan tidak bagus juga kalau anak kita nanti tumbuh dan berkembang hanya mengenal sesuatu yang normal-normal saja.

Yang tidak boleh adalah kebablasan atau menabrak bahaya. Karena itu, kedekatan, kasih sayang dan pondasi nilai-nilai (agama, budaya, dll) menjadi benteng penting. Ini adalah karena meski mereka begitu kuat ingin bebas dan mandiri, tapi secara jiwa sebetulnya mereka masih rapuh dari pengaruh.

Jadi, tidak bisa dilepaskan 100%, tapi tidak bisa juga didekap 100%. Semua sesuai dengan porsinya saja.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait