Mama Lagi Sibuk Naaak, Masak Sih Ke Kamar Mandi Sendirian Tidak Berani ....?

Apakah Anda pernah meneriakkan kata-kata di atas atau yang serupa pengertiannya?

Terkadang, kita punya pandangan yang berbeda dengan anak. Menurut kita, dia mestinya sudah mulai berani ke kamar mandi sendirian. Usianya sudah tidak seperti dulu lagi. Lagian, kamar mandi kan di rumah sendiri. Kenapa mesti ditakuti?

Itu kira-kira pandangan kita.

Tapi bagi si anak, ternyata tidak seperti itu. Dia harus diantar dan ditunggu.

Jadi, sikap seperti apa yang baiknya perlu kita tunjukkan?

Karena kita menginginkan anak-anak berkembang sesuai keadaan dan kenyataannya, maka yang perlu kita hindari adalah jangan sampai melihat ini sebagai kesalahan yang perlu kita sesali, misalnya dengan memarahi.

Untuk proses pembelajaran, ini adalah sesuatu yang wajar. Hanya saja, tentu tidak pas kalau kita biarkan dia manja dan takut. Justru kita perlu melihatnya sebagai peluang untuk melatih keberanian dan kemandiriannya.

Caranya bagaimana? Yang bisa kita lakukan di sini adalah memberi pendampingan bertahap. Kalau kita langsung paksa dia supaya tidak takut, seringkali itu terlalu menghentak, karena belum tentu dia siap.

Kita dampingi dulu, tapi kita lepas pelan-pelan. Akan lebih bagus kalau kita bikin kesepakatan, misalnya nanti setelah ulang tahun ke-5 atau apa, mama hanya mengantar, tapi tidak perlu menunggu.

Selama pendampingan, akan sangat bagus kalau kita menjelaskan fakta bahwa di kamar mandi itu tidak ada yang perlu ditakuti sambil menunjukkan buktinya.

Di samping itu, penting juga untuk menjelaskan proses kemandirian, misalnya dimana meletakkan gayung, bagaimana menyalakan air, dan seterusnya.

Di sini, yang perlu kita hindari adalah jangan sampai kita menargetkan kesempurnaan menurut standar kita secara langsung. Biarkan dia berproses melatih dirinya supaya menjadi mandiri.

Tidak sedikit orangtua yang memotong proses sehingga kesadaran anak untuk bertanggung jawab dan mandiri menjadi teputus. Misalnya, kita menyuruh dia mandi, tapi karena tidak sempurna menurut versi kita, lantas kita turun tangan langsung.

Mestinya, kita lebih dulu memberikan pengarahan dan sebisa mungkin tetap memfasilitasi dia untuk menempuh proses sendiri. Jika dilakukan dalam suasana yang harmonis, ini akan menjadi referensi penting buat anak.

Jika target di atas tercapai, meski prosesnya tidak mulus, cepat-cepatlah kita menghargai prestasinya. Anak kita sudah berhasil mengatasi ketakutan dan berhasil melatih kemandirian.

Bentuk penghargaannya terserah. Mungkin kita puji, kita peluk, atau kita beri hadiah kesayangan. Selanjutnya, kita lihat apalagi yang perlu kita latih dari dia berdasarkan perkembangannya.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait