Manfaat dan Mudarat Gula

Konsumsi gula pasir dunia setiap tahun kian meningkat. Sejak usia kanak-kanak, mereka sudah diperkenalkan dengan makanan yang serba manis. Padahal jangankan sampai mengonsumsi berlebihan, memilih gula pasir sebagai pemanis saja pun mestinya dibatasi. Sedikit manfaatnya, dan besar mudaratnya. Mengapa?

SUDAH lama gula pasir dipertimbangkan agar tidak digunakan secara berlebihan. Bukan hanya karena gula sebagai karbohidrat lekas menambah kalori harian tubuh kita, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Apakah itu?

Kimiawi industri
Bahan kimiawi makin membanjiri industri makanan dunia, sejak awal manusia tak mungkin mencukupi kebutuhan sumber makanan hanya dari alam saja lagi. Untuk produksi massal itulah, industri membutuhkan bahan pengawet, selain kimiawi lainnya untuk mengemas, memproduksi makanan dan minuman. Termasuk perlunya membuat gula pasir.

Ratusan jenis bahan kimiawi diciptakan baru setiap tahun, yang sebagian baru kemudian terbukti tidak aman bagi tubuh manusia. Namun yang terjadi, tidak semua industri makanan memikirkan tingkat keamanan bahan kimiawi yang dipakainya. Beberapa jenis zat tambahan dalam makanan (additive) masih dipakai padahal sudah dilarang.

Informasi simpang siur makanan minuman berbahan aditif yang masih dinilai aman, dan mana yang sudah tidak boleh beredar, membingungkan konsumen dunia. Pada saat yang sama bahan makanan-minuman buatan yang sudah sejak lama diproduksi, baru belakangan kedapatan ternyata tidak aman bagi tubuh manusia.

Bukan air tebu bahan pembuat gula pasir yang dianggap tidak aman, melainkan bahan kimiawi yang mengubah air tebu menjadi kristal gula pasir itu. Sekarang ini, orang mempertimbangkan membatasi gula pasir.

Supermarket sekarang ini menjadi cermin sadar sehatnya orang sekarang. Kita menemukan gula merah di supermarket, karena makin banyak orang mencari gula merah dan meninggalkan gula pasir.

Batasi manis-manis
Oleh karena yang serba manis umumnya berasal dari gula buatan, dalam hal ini gula pasir, maka paling bijak bila membatasi pemakaiannya. Ciptakan lidah anak sejak awal agar tidak diberikan rasa manis dalam menu dan penganan hariannya. Bila lidah anak tidak tercipta oleh yang serba manis, maka setelah dewasa, anak tidak gemar yang terlalu manis.

Kalaupun perlu yang manis, sebaiknya memilih gula merah (jawa) saja. Gula ini lebih alami ketimbang gula pasir, maka lebih menyehatkan. Sumber pemanis alami lain dapat kita peroleh dari madu. Madu bahan alam yang tidak tercemar kimiawi apa pun. Selain manis alami, kaya kandungan vitamin, mineral dan enzim.

Sebetulnya gula atau sumber makanan yang manis tidak terlalu punya peran besar dalam hal nutrisi. Ia hanya memberikan kalori untuk tenaga, yang sebetulnya banyak penggantinya. Kalau ubi, bebuahan manis, dan madu tersedia, kita mestinya tak perlu menambahkan gula dalam makanan dan minuman harian kita.

Gula dan yang serba manis lainnya tidak memberi peran yang besar dalam menyumbangkan zat gizi sebagus telur, ikan, atau tempe. Orang bisa tetap sehat tanpa mengonsumsi gula. Sebaliknya kelebihan mengonsumsi gula justru menambah asupan kalori tubuh. Selain bikin kegemukan, efek samping gula pasir khususnya, buruk bagi kesehatan kandung kemih.

Begitu juga jika memilih pemanis buatan. Tidak semuanya aman, dan menyehatkan bila dikonsumsi untuk waktu lama. Mengingat tidak semua pemanis buatan tergolong aman, maka sebaiknya kita lebih waspada memilihnya.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan


 

Share artikel ini:

Artikel Terkait