Melatih Atensi Dan Peduli

Di setiap fase perkembangan anak seringkali muncul kekhasan yang ditunjukkan melalui perilaku atau sikap.

Ketika dia sudah mulai bisa menikmati interaksi dengan TV, buku bacaan, atau mainan, terkadang dia tidak menaruh atensi atau kepedulian saat dipanggil. Setiap ibunya memanggil, selalu cuek. Apa yang bisa kita lakukan?

Sejauh anak kita tidak dinyatakan memiliki gangguan pendengaran oleh dokter/ profesional, yang perlu kita lakukan lebih dulu adalah mengembalikan kenormalan atensi dan pedulinya. Jangan sampai dia kebablasan dengan kebiasaan seperti itu.

Caranya? Tentu ada banyak. Misalnya untuk langkah awal, kita memberi penjelasan dahulu. Jelaskan bahwa sikap itu perlu diubah dan diperbaiki. Atau, kita juga bisa menanyakan kepada anak untuk mendapatkan judgement yang memperkuat bahwa sikapnya perlu diperbaiki.

Jika masih berlanjut, kita perlu memberi penyadaran melalui bukti (pengalaman) agar ia mendapatkan pelajaran. Misalnya, saat dia memanggil kita, kita bikin strategi pura-pura tidak dengar, seperti yang dilakukannya.

Sejauh itu kita lakukan sebagai bahan untuk mendiskusikan perilaku dengan anak, tentu dapat kita coba. Yang penting, jangan sampai sikap kita ini dipahami sebagai aksi balas dendam.

Cara lain yang terbilang agak tegas juga adalah menyepakati deal tertentu. Ini bisa kita lakukan ketika kebiasaannya tidak menunjukkan perubahan dalam waktu yang lama. Misalnya, jika dia masih membiasakan perilakunya itu, kita menyepakati konsekuensi yang bakal muncul, katakanlah seperti tidak jadi dibelikan hadiah tertentu atau harus merasakan hukuman tertentu.

Asalkan itu diberlakukan secara fair, mengandung pendidikan, dan dengan cara yang tidak menghancurkan (destruktif), tetapi terbuka dan friendly, cara demikian perlu kita tempuh.

Namanya juga anak-anak, cara apapun yang kita tempuh, biasanya sangat jarang menghasilkan output yang langsung sempurna. Tidak seperti halnya kita bikin kue, yang begitu resepnya kita coba, kuenya langsung tercetak. Anak-anak adalah makhluk dinamis. Karenanya, perlu kita beri kesempatan untuk belajar mengubah diri dengan risiko ada kesalahan dan kekurangan di sana-sini.

Intinya, jangan sampai kita membiarkannya dan menganggapnya sepele sehingga pemahaman anak tentang mana perbuatan yang perlu dipertahankan dan mana yang perlu diperbaiki, menjadi kabur.

Semoga bermanfaat

Share artikel ini:

Artikel Terkait