Membaca Kerewelan Anak

Tidak sedikit yang bertanya-tanya kenapa ketika si anak ditinggal kerja atau jauh dari kita, justru bisa menjadi mandiri atau bisa bekerja sama dengan orang dewasa di sekitarnya, seperti mbaknya atau neneknya.

Tapi begitu ibunya datang atau pada saat dia tahu ibunya sedang libur, si anak mulai menunjukkan kerewelan dan kemanjaan. Apa yang menyebabkan hal ini muncul dan bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?

Secara umum perubahan perilaku anak itu seringkali muncul sebagai tren perkembangan, dalam arti itu terjadi hanya beberapa bulan saja dan setelah itu anak harus belajar hal lain dengan nalurinya.

Perilaku anak dilatarbelakangi oleh berbagai sebab sehingga jarang sekali ada sebab tunggal. Studi PBB mengungkapkan bahwa anak yang kurang dekat secara emosi dengan orangtua, terutama dengan ibu, ditemukan lebih rentan rewel.

Kalau dibaca dari sini, maka kerewelan dan kemanjaan anak itu perlu dipahami sebagai pertanda barangkali kita perlu membangun kedekatan emosi dengan anak atau si anak minta perhatian.

Di sisi lain, setiap anak punya naluri yang menggerakkan dirinya untuk membangun sebuah kedekatan/ kelengketan dengan orangtua. Anak ingin membangun attachment.

Jika kita sebagai orangtua memberi respon yang bagus, maka yang muncul adalah positive attachment. Tapi, bila kitanya galak atau memberi respon negatif, maka yang muncul adalah negative attachment.

Artinya, ketika kita mendapati anak semakin rewel saat kita di rumah, ini perlu kita baca sebagai sesuatu yang wajar terjadi lalu kita ciptakan interpretasi (tafsiran) yang mendukung pengasuhan positif.

Wajar dalam arti kita melihatnya sebagai perilaku anak-anak yang perlu kita terima sebagai kenyataan. Jangan sampai kita mengingkarinya atau membangun idealisasi lain.

Kenapa? Semakin kuat kita mengingkari atau membangun idealisasi, misalnya berharap anak itu harus anteng, maka reaksi kita akan semakin buruk.

Interpretasi positif juga sangat penting misalnya kita menafsirkan itu adalah pertanda agar kita lebih dekat atau anak ingin menunjukkan sesuatu kepada kita. Sebab, interpretasi itu ikut menentukan reaksi dan aksi kita.

Di samping itu, yang juga perlu kita lakukan adalah mengajarkan pengertian atau disiplin menaati kesepakatan dengan kita. Misalnya, kita ikuti dulu maunya dia apa, lalu kita bikin kesepakatan agar dia on the track.

Tentu, karena yang kita hadapi itu anak-anak, dipastikan prosesnya tidak selancar yang ada dalam teori. Dipastikan ada cekcok atau perbedaan pendapat atau ada dinamika lain yang di luar harapan.

Saat menghadapi keadaan demikian, reaksi negatif dari kita terkadang sulit dihindari. Sebisa mungkin, kita perlu mengusahakan reaksi itu sebagai strategi mental belaka, bukan emosi yang meledak.

Kalau pun harus pakai emosi, jangan sampai kebablasan sehingga menjadi sumber insecurity pada anak. Gesekan antara kita dengan anak terkadang perlu sebagai bagian dari pendidikan, tapi kebablasan tentu jelek.

Share artikel ini:

Artikel Terkait