Membatasi Konsumsi Berlebih Gula untuk Anak

Dari alam, manusia mendapat gula dalam bebuahan, madu, tebu dan pohon enau. Semuanya terasa lebih manis dan menyehatkan. Setelah dewasa, gula dibutuhkan tubuh lebih untuk memenuhi cita rasa manis di lidah ketimbang buat keperluan tubuh untuk bertumbuh. Kelebihan mengkonsumsi gula harian malah menimbulkan kegemukan dan membuat berbagai masalah kesehatan.

Setelah lepas minum susu, tubuh memperoleh gula (darah) dari menu berkarbohidrat. Nasi, mi, sagu, jagung, kentang, ubi dan roti diubah oleh pencernaan menjadi gula juga; glukosa namanya. Sedikit diperoleh dari buah, sayur, dan kacang-kacangan. Gula siap pakai jenis ini yang dijadikan tenaga oleh mesin tubuh untuk beraktivitas sehari-hari.

Gula modern dibuat oleh manusia menjadi gula pasir, dan gula merah. Gula buatan ini yang secara kultur mempengaruhi kesehatan manusia. Mengapa selayaknya perlu dibatasi?

SESUNGGUHNYA segala yang serba manis perlu dibatasi sejak anak masih kecil. Lidah anak yang diajarkan menyukai manis, cenderung akan terbentuk kebiasaan menuntut lebih banyak menu dan minuman serba manis nantinya. Dalam batas takaran tertentu di mata medis tidaklah bermasalah, asal tidak berlebihan. Namun bukan lantaran kelebihan mengkonsumsi gula saja yang bikin orang jadi kencing manis, tetapi pada orang kencing manis, gula berlebihan bisa menjadi ”racun”.

Mengkonsumsi gula, dari mana pun sumbernya, jika porsinya berlebihan bikin tubuh cenderung menjadi gemuk. Kegemukan sendiri yang membawa orang berisiko terkena berbagai penyakit selain sakit-gula, terancam pula terkena jantung, stroke, atau kanker. Gajih berlebih, dan lemak darah yang tinggi bisa disebabkan pula oleh masukan berlebih gula yang tidak dibakar (dengan aktifitas).

Kalau untuk menu berkarbohidrat saja agar sehat perlu dibatasi, apalagi untuk gula agar tidak sampai kegemukan. Gula yang anak konsumsi, kebanyakan dari jajanan, ikut memberi musabab berat badan anak cenderung lebih dari ukuran ideal. Bukankah rata-rata anak sekarang cenderung kelebihan berat badan.

Gemuk semenjak kecil lebih berbahaya ketimbang menjadi gemuk setelah dewasa. Mengapa? Oleh karena gemuk sejak kecil berarti selain jumlah sel-sel lemaknya melebihi normal, ukuran selnya pun lebih besar dari rata-rata. Kondisi ini yang membuat anak yang sudah gemuk akan tetap gemuk sampai usia dewasa. Bakat yang mestinya tidak boleh terjadi. Peran konsumsi gula amatlah besar. Mandat menciptakan anak sehat yang diberikan kepada setiap orangtua yang semestinya harus tetap diemban.

Bukan saja hanya itu. Efek jelek berlebihan gula pasir sudah banyak diteliti sejak puluhan tahun lampau. Bahwa sifat gula pasir yang mengalami proses pengolahan (refined process), yang berarti sudah ditambahkan unsur kimiawi ke dalamnya, tidak lagi sealami air tebu, madu, air enau. Maka sekarang lebih banyak orang menginsyafi untuk seberapa bisa membatasi konsumsi gula pasir. Selain ada tambahan bahan kimiawi selama proses pengolahannya, beberapa zat dalam air tebu hilang, serta muncul pula zat lainnya yang tidak menyehatkan. Maka dibanding gula merah, baik yang berasal dari pohon kelapa, maupun dari pohon enau, gula pasir tidak lebih menyehatkan.

Kita tahu pengaruh buruk semua kimiawi dalam makanan dan minuman baru muncul efeknya setelah mengonsumsi untuk jangka waktu yang lama. Jika pengaruh ini sudah dimulai semejak usia kecil, betapa beratnya risiko menjadi tidak sehat yang harus anak pikul nantinya.

Orang-orang di Barat sudah kembali memilih makanan dan minumnan yang berasal dari alam, dan seberapa mungkin menjauhi segala menu yang bersifat olahan. Sumber alami kita sendiri betapa beragam. Kalau bisa memilihkan buat si Kecil hanya yang bersumber dari alam saja, mengapa memilih yang buatan. Termasuk tidak memilihkan bukan gula alam.

Anak masih perlu dibantu untuk memilihkan makanan dan minuman bergula. Pilihan yang akan ikut menentukan nasib tubuhnya setelah dewasa dan menjadi tua nantinya. Maka setiap orangtua perlu bijak dalam menyusun menu serba manis di meja makan. Termasuk memilihkan jenis gula, selain membatasi gula yang diberikan bagi si kecil. ***

Share artikel ini:

Artikel Terkait