Membesarkan Hati Si Kecil Ketika Minder

Ada sebagian anak yang merasa minder karena berat badannya berlebih. Mindernya bisa jadi karena sering diledek dan diberi nama panggilan yang merendahkan.  Lalu, bagaimana membantunya agar hatinya tetap besar?

Sumber keminderan adalah konsep-diri. Konsep-diri adalah kesimpulan seseorang tentang dirinya. Konsep-diri ini pasti  ada yang negatif dan ada yang positif, ada yang lemah dan ada yang  kuat.

Minder seringkali berangkat dari konsep-diri yang lemah atau yang negatif. Ada anak berpikir dirinya banyak kelemahan karena sudah dapat kesimpulan jelek dari lingkungan akibat kegendutan atau berpikir dirinya orang lemah dan tidak mampu mengubah keadaan.

Minder dapat menyebabkan tidak pede (percaya-diri) dalam bergaul, cenderung menarik diri ketika ada masalah, malu secara tidak beralasan, kurang bahagia dengan dirinya, dan bahkan bisa berdampak pada prestasi.

Konsep-diri pada anak–anak dibangun dari dua sumber, seperti juga orang dewasa, yaitu  sumber internal (kesimpulannya sendiri) dan eksternal (perkataan orang lain yang ia benarkan).

Apa yang perlu kita lakukan untuk membantu si buah hati ketika terserang keminderan akibat konsep-dirinya yang lemah atau negatif? Berikut adalah hal-hal yang perlu kita lakukan untuk membantunya:

Pertama, bantulah dia menciptakan pemahaman positif tentang dirinya, bisa lewat omongan, bacaan, tayangan, atau cerita dari masa lalu kita. Anak-anak sangat senang mendengarkan cerita orangtuanya di masa kecil tentang bagaimana mengatasi masalah dan menang.

Kedua, bantulah dia untuk belajar memaafkan omongan orang lain, terutama yang melontarkan kata-kata menghina atau merendahkan. Memaafkan di sini pengertiannya adalah menghapus kebencian di dada dengan pemahaman yang positif atau dengan menggunakan ajaran agama. Ajaran di sini penting karena sulit kita memaafkan orang kalau dasarnya tidak ada.

Ketiga, melakukan agenda perbaikan yang nyata dengan cara melakukan atau menghindari. Inilah intinya. Misalnya berkonsultasi ke ahli tentang berat badan ideal lalu menjalankan program nyata, katakanlah olahraga, mengatur makanan, dan seterusnya.

Keempat, menghindari penyerangan, menyalahkan atau menekan. Ini dapat membuat anak semakin terpojok dan terbebani. Lebih baik kita mengambil posisi mendorong dia untuk melakukan sesuatu yang positif.

Kelima, membantu dia menggali keunggulan atau kelebihannya di berbagai bidang yang mungkin, misalnya tampil di panggung, nilai raport yang bagus,  suka menolong, dan lain-lain. Ini akan membuat anak belajar memperbaiki konsep-diri.

Yang perlu kita hindari adalah mengajarkan anak untuk ngeles, menerima diri apa adanya tanpa ada dorongan untuk berubah, atau hanya menyalahkan. Ini ujung-ujungnya tidak memotivasi anak untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait