Memprediksi Tinggi Badan Anak

823999b021e4c9027250a99cb60ad02b16da11be.jpeg

Tinggi badan anak bagian dari pertumbuhan, selain berat badan, serta menjadi bertambah besarnya organ-organ dalaman tubuh. Di samping faktor genetik, sistem hormonal tubuh ikut bekerja dalam menentukan apakah seorang anak akan normal tinggi badannya, ataukah justru di bawah normal. Namun dengan semakin bertambah maju perekonomian terkait pula dengan gizi, olahraga, dan teknologi, pertambahan tinggi badan anak melampaui faktor genetiknya. Bisakah kita memprediksinya secara individu, kita membahasnya di sini.

DARI ayah dan ibu yang tidak tinggi, kecil kemungkinan anak bisa tinggi. Tinggi badan sebagian diwarisi oleh faktor gen. Kalau ada juga anak yang lebih tinggi dari ayah-ibunya, gen itu diwariskan dari kakek atau neneknya. Sekarang peran faktor lingkungan melampaui peran gen.

 

Faktor turunan dan hormon

Ayah dan ibu tinggi saja belum tentu melahirkan anak yang tinggi kalau ada masalah dengan kelenjar gondok, kalau bukan kelenjar anak ginjal (suprarenalis) pada anaknya. Anak yang dilahirkan dengan fungsi kelenjar gondok rendah (hypothyroidism) kemungkinan akan menjadi pendek. Maka penting sekali untuk rutin memeriksa fungsi gondok sejak lahir karena bila terdeteksi positif masih bisa dikoreksi bila kekurangan fungsi gondoknya belum telanjur terlambat untuk dikoreksi.

Demikian pula apabila fungsi kelenjar anak ginjalnya lemah saja. Kelenjar ini yang berperan membentuk hormon seks terkait dengan pertumbuhan tulang. Pada kasus pubertas dini (praecox puberty) pertambahan tinggi badan terhenti sebelum usia pubertas karena tulang-tulang panjangnya sudah menutup untuk bisa bertambah panjang. Koreksi terhadap kasus pubertas dini akan memberi harapan anak masih bisa bertambah tingginya selepas usia pubertas.

Hanya membawa gen turunan tinggi saja namun kurang asupan gizinya, menghambat  anak menjadi normal tinggi badannya sesuai warisan gennya. Semua anak yang kurang gizi, rendah asupan kalori dan protein, juga tidak menjadi normal tinggi badannya.

Tinggi badan juga membutuhkan kecukupan asupan kalsium. Kita tahu kalsium diperlukan tubuh untuk pembentukan gigi-geligi selain tulang-belulang juga. Jadi bakat tinggi saja namun tidak didukung oleh asupan kalsium yang memadai sudah pasti akan mempengaruhi tinggi badan anak.

Laju tinggi badan berlangsung pesat setelah usia balita menuju usia pubertas. Pada masa ini anak tidak bertambah gemuk, melainkan bertambah tinggi. Hanya apabila menu meja makan di rumah senantiasa lengkap dan memadai porsinya, termasuk ketersediaan sumber kalsiumnya, maka tinggi badan anak akan sesuai dengan bakat yang diwarisinya. Tinggi badan anak akan mencapai titik optimal yang menjadi milik warisan tubuhnya.

 

Peranan faktor lingkungan

Tinggi badan akan berhenti selewat usia 18-an tahun. Maka perlu dikejar sebelum tiba pada usia itu. Terlebih yang bakatnya tidak tinggi. Dan upaya itu dimungkinkan. Tengok saja anak-anak di Jepang generasi “baby boomers”, setelah Perang Dunia II, tinggi badannya rata-rata melebihi ayah-ibu mereka. Faktor lingkungan bekerja di sini.

Faktor lingkungan berarti juga soal gizi anak sekarang yang selain lebih beragam, juga berlebih seiring dengan kondisi keluarga yang lebih sejahtera. Faktor sadar sehat, wawasan kesehatan yang lebih memasyarakat, mengurangi sejumlah hambatan proses tumbuh-kembang anak. Makin jarang anak jatuh sakit, makin mengurangi hambatan terhadap tumbuh-kembang anak. Menjadi tingginya anak juga tidak ada kesempatan kedua.

Selain gizi yang jauh lebih berkualitas, bahkan cenderung menjadi berlebihan pada anak-anak generasi “baby boomers”, faktor aktivitas fisik juga semakin beragam dan lebih intens, termasuk ragam kegiatan berolahraga di sekolah maupun di rumah, faktor penopang lainnya kenapa anak sekarang cenderung lebih tinggi.

Pengaruh pergaulan anak-anak sekarang, yang lebih cepat matang secara biologis akibat lebih dini mengenal sensasi seksual dari pengalaman bergaul dengan lawan jenis, selain dari bacaan, tontonan, serta imbas multimedia, ikut memicu hormon seks tubuh mereka. Hormon seks juga berpengaruh langsung pada pertumbuhan tulang.

 

Tinggi dewasa = 2 kali tinggi usia 2 tahun

Bayi dilahirkan dengan panjang rata-rata 48 Cm. Dalam setahun pertambahan panjang bisa mencapai 23-25 Cm, sehingga rata-rata anak berumur setahun sudah mencapai tinggi badan 71 Cm, yang ekstrem bisa mencapai 75 Cm pada anak di Barat. Kenaikan tinggi selewat umur setahun, akan meraih sekitar pertambahan 5 Cm saat anak berumur 2 tahun.

Untuk gampangnya memperkirakan tinggi badan setelah anak berumur 3 tahun dapat digunakan rumus 80 + (5 x umur anak) Cm. Jadi anak yang sudah berumur 3 tahun idealnya sudah mencapai tinggi badan 80+15 Cm atau 95 Cm kalau semua faktor yang mempengaruhinya berlangsung normal, dan berjalan lancar.

Untuk sekadar memperkirakan saja kalau anak berumur 1 tahun tingginya sekitar satu setengah kali panjang lahir. Umur 4 tahun 2 kali panjang lahir; umur 6 tahun satu setengah kali tinggi umur setahun, dan umur 13 tahun sekitar 3 kali panjang lahir. Setelah dewasa (di atas 18 tahun) tinggi anak mencapai 2 kali tinggi waktu berumur 2 tahun. Jadi kalau seorang anak umur 2 tahun tingginya 85 Cm, maka tinggi badan dewasanya akan sekitar 170 Cm.

Barang tentu faktor genetik tidak mungkin dimanipulasi. Yang sudah mewarisi gen yang tidak tinggi tak bisa diubah. Namun satu yang masih mungkin dilakukan agar tinggi badan anak terpicu di luar faktor yang sudah disebut di atas, yakni dengan cara aktivitas fisik harian digiatkan, selain ditingkatkan. Lebih banyak berolahraga, terutama yang banyak melakukan kegiatan melompat, meloncat, selain olahraga renang yang kesemuanya itu perlu ditunjang oleh gizi yang optimal, protein dan kalsium khususnya.***