Menciptakan belajar menjadi menyenangkan

Matematika itu Menyenangkan, juga Menguntungkan
Mendengar kata "matematika", kening kebanyakan orang langsung berkerut. Di kepalanya terbayang angka-angka yang rumit dan susah dipecahkan. Di benaknya tergambar rumus-rumus yang sulit dihapal dan dimengerti.

Matematika juga kerap dipahami sebagai sesuatu yang mutlak, sehingga seolah-olah tak ada kemungkinan cara dan jawaban lain yang berbeda-beda. Ya, matematika diyakini sebagai formula yang serba pasti karena dia sudah terkenal sejak zaman lahirnya para penemu dengan nama "ilmu pasti"

Murid-murid yang mempelajari matematika di sekolah pun menerima pelajaran matematika sebagai sesuatu yang mesti tepat dan tak sedikit pun boleh salah. Pendeknya, baik di sekolah atau di rumah, matematika menjadi beban dan bahkan hal yang menakutkan.

Saat mengukur tinggi pohon, misalnya, tak tersedia jawaban "sekitar" --contohnya, "sekitar 10 meter". Kalau tak punya penggaris setinggi 10 meter, ya si pengukur mesti menentukan letak tempat dia berdiri dan berapa jaraknya dari pohon, lalu ia mesti mengambil busur dan menentukan berapa derajat sudut kemiringan pucuk pohon dengan titik tempat dia berdiri itu. Setelah itu ia mesti memakai rumus Phytagoras atau dalil kalkulus (sinus dan cosinus) sebagai alat pemberi kepastian tinggi pohon. Rumit.

Apakah Anda akan memaksakan kepastian-kepastian dalam ilmu ini kepada anak Anda yang baru saja (hendak) mengenal matematika? Jika ya, Anda telah membantu mempersiapkan buah hati Anda ke dalam kelompok calon pembenci matematika di masa depan. Dan menjadi benarlah apa kata filosof Bertrand Russell yang menyebut matematika sebagai "keindahan yang dingin".

Mary Pride, seorang ibu rumahtangga di Boston Amerika Serikat, yang menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar home schooling menyarankan agar Anda segera menjauhkan segala image "mengerikan" matematika seperti yang berkembang saat ini dari hadapan anak.

Caranya, kata Mary Pride, matematika justru harus dikenalkan pada anak sedini mungkin. Jangan menunggu anak besar--misal hingga kelas 1 atau 2 SD. "Perkenalkan istilah matematika dan apa yang termasuk di dalamnya dengan cara yang menyenangkan. Buatlah kesan bahwa matematika itu menyenangkan, dan kalau perlu menguntungkan," kata Pride.

Menguntungkan? Pride menganjurkan untuk memberi hadiah untuk setiap permainan matematika yang dibuat menjadi semacam lomba yang menyenangkan. Hadiah itu disarankan bukan berupa barang yang bisa merangsang anak konsumtif atau permen yang jika sering diberikan tak baik bagi kesehatan gigi anak.

"Tawarkan, misalnya, dongeng yang paling disukai anak untuk dibaca menjelang tidur atau berikan pilihan tempat yang disukai untuk berakhir pekan," ucapnya. "Jangan lupa ketika anak bisa menjawab pertanyaan, ia harus dipuji. Ibu-ibu sering lupa dan pelit memuji."

Matematika yang menyenangkan itu bisa disuguhkan dalam bentuk permainan, lagu-lagu yang diciptakan sendiri, gambar-gambar yang memadukan angka dengan hewan atau bunga dan buah, atau merangsang pengalaman anak untuk merasakan inderanya sendiri.

Jika di kebun Anda ada beberapa bunga yang bisa dijangkau anak, misalnya, ajaklah anak Anda untuk memegangnya sambil menghitung berapa jumlah bunga itu. Tak usah sampai lebih dari 10, 5 bunga pun yang dihitung sudah sangat bagus. Ajak anak mengucapkan hitungannya dengan suara yang keras. Ini akan melatih memori anak. Dengan menghitung, anak juga bisa merasakan halusnya bunga dan mengenal warna.

Atau ajaklah anak Anda menghitung jarinya sendiri. Hitunglah dari 1, 2 dan seterusnya, lalu dibalik dari belakang ke depan (dari angka yang tinggi kembali ke 1). Berulang-ulang. Menghitung jari tak usah buru-buru. Bikinlah lagu "menghitung jari" jika anak menunjukkan tanda-tanda bosan.

Lewat hitungan jari itu juga bisa dibikin permainan agar anak menghitung jumlah jempol (tangan dan kaki), telunjuk, atau ruas jari yang lain. Jika anak bisa menghitung dengan tepat, pujilah dan beri hadiah yang sudah Anda rencanakan. Dari sini anak bisa belajar menghitung dan sekaligus lebih mengenal anggota tubuhnya.

Pride juga menyarankan untuk mengajarkan bahasa asing sejak dini lewat permainan matematika yang menyenangkan itu. Saat anak menyebut "satu", kasih tahu dia ada bahasa lain selain bahasa Indonesia yang menunjuk 1. Tapi pengajaran bahasa asing itu dianjurkan untuk tak mengganggu tujuan sebenarnya untuk mendekatkan anak dengan matematika.

Sebelum bermain atau menyanyikan lagu untuk permainan itu jangan lupa untuk memberi tahu bahwa itu semua adalah "permainan matematika". Ini bermanfaat untuk menanamkan memori pada anak bahwa matematika itu menyenangkan.

Lewat permainan ini, Pride membuktikan bahwa anak perempuan yang menurut penelitian dikatakan lebih lambat mencerna matematika ketimbang anak laki-laki terbantahkan. "Lewat home schooling atau pengajaran di rumah, anak perempuan justru lebih cepat mencerna matematika daripada anak laki-laki, karena anak perempuan ternyata lebih mudah menyesuaikan game dan lagu-lagu "permainan matematika," katanya.

Memang, untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada matematika, anak-anak lebih dulu perlu dirangsang untuk menyenangi angka. Setelah angka, Anda kemudian bisa menyuguhkan permainan "tambah-tambahan", "pengurangan" dan sebagainya. Suguhkanlah permainan itu secara bertahap dan senantiasa menyenangkan.

Jika anak salah menjawab, Anda jangan pernah mencelanya atau memberi nilai buruk atau tak memberi hadiah sama sekali. Bagaimana pun anak-anak menyukai hadiah. Masalahnya, tinggal pilihkan hadiah apa untuk jawaban benar dan untuk jawaban yang "belum benar". "Anak-anak itu menyukai semua yang menguntungkan dan menyenangkan hatinya," kata Pride. Jadi cobalah di rumah.

Share artikel ini:

Artikel Terkait