Mendorong Anak untuk Tekun

Setiap orang tua tahu betapa senangnya anak-anak mencoba suatu hal yang baru. Biasanya dimulai dengan semangat menggebu. Ia mau melakukan apa pun agar bisa ikut atau terlibat dalam suatu hal baru. Namun setiap orang tua juga tahu, kerap kali antusiasme ini tak berlangsung lama. Saat mulai dihadapkan pada tantangan atau melihat hal menarik lain, semangatnya langsung menurun ke titik nol. Tidak mau menyelesaikan atau menekuninya apa yang telah dimulai. Begitu juga saat menghadapi pelajaran, kerap kali begitu menghadapi kesulitan, anak akan menyerah pada kesulitan itu, bukannya tekun berusaha untuk mengatasinya.

Ketekunan memang kunci penting untuk mendapatkan pencapaian. Bahkan para orang tua di Cina dan Jepang percaya bahwa untuk mencapai prestasi ketekunan anak berperan lebih penting dibandingkan kecerdasannya. Ya, karena ketekunan lah yang akan membuat anak terus berusaha menghadapi semua kesulitan sehingga pada akhirnya mampu meraih apa yang diharapkan. Lantas bagaimana kita mendorong sikap tekun pada anak-anak? 

Guru, mentor dan orang tua berperan besar dalam mendorong ketekunan pada anak-anak. Pembimbing yang baik memiliki kemampuan untuk memahami batas kemampuan anak bimbangannya, dan kemudian memotivasi mereka untuk berusaha lebih keras dan tak menyerah. Beberapa kiat yang diberikan para pembimbing ini akan membantu Anda mendorong anak-anak agar lebih tekun.

• Ajak anak untuk melihat jauh ke depan. Bahwa apa yang harus mereka lakukan sekarang bukanlah untuk kepentingan saat ini saja, namun akan bermanfaat di masa akan datang. Misalnya bagaimana memahami dan mempelajari matematika tidak hanya untuk mendapatkan nilai baik pada ulangan nanti, tapi juga diperlukan jika ia  ingin menempuh mencapai cita-citanya, misalnya menjadi pilot atau insinyur.

• Buat target-target kecil yang mengarah pada target besar di akhir. Dengan cara ini anak tak terintimidasi, karena tujuan akhir yang begitu besar dan berat. Dengan membuat target-target kecil ini Anda memecah masalah yang begitu besar dan abstrak menjadi hal yang dimengerti dan bisa dijalani. Target-target kecil ini  membuat anak dapat memahami apa yang harus dilakukan, merasa bangga karena berhasil mencapainya, sekaligus memompa semangatnya untuk terus berusaha mencapai tujuan akhir.

• Jangan lupa ‘merayakan’ keberhasilan-keberhasilan kecil dalam proses belajar. Puji anak atas usaha yang telah mereka lakukan dan beri semangat bila hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Pujian dan penghargaan yang mereka peroleh akan membuat anak bangga dan tahu bahwa usaha mereka dihargai, sehingga mereka bersemangat untuk terus melakukannya.

• Berikan pengertian bahwa proses belajar memang tidak selalu mulus, ada saat dimana mereka tidak mengerti atau frustasi dalam prosesnya. Namun bila mereka tidak menyerah, maka ilmu atau ketrampilan tersebut akan menjadi milik mereka selamanya. Beri mereka pengertian bahwa ada saat dimana mereka merasa ingin menyerah, tapi dengan mencoba sekali lagi siapa tahu mereka akan berhasil.

• Tak ada istilah salah atau gagal dalam belajar. Tekankan pada anak-anak, bahwa apa yang disebut kesalahan sesungguhanya adalah kesempatan untuk belajar. Bila anak mau belajar dan mengambil pelajaran dari kesalahannya, mereka justru akan mendapatkan banyak keuntungan. Jadi ajari mereka untuk tidak takut membuat kesalahan, karena dari situlah mereka bisa belajar, dan kesalahan akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan tidak  mencoba sama sekali.

• Saat mengajarkan anak untuk tekun, buat perumpamaan dengan hal yang dipahami anak, seperti olah raga misalnya. Katakan bahwa seperti halnya dalam latihan basket, perlu latihan berulang-ulang sampai ia bisa memasukkan bola dalam ring dengan mulus. Begitu juga halnya dengan mempelajari matematika misalnya, perlu latihan dan latihan terus menerus supaya akhirnya bisa.

• Usik kebanggaan anak dengan memberi pemahaman bahwa pencapaian pribadinya sesungguhnya merupakan sumbangan besar bagi kelompok, kelas atau bahkan sekolahnya. Maka keberhasilannya adalah keberhasilan kelompok, kelas, atau sekolahnya.

• Jangan lupa ajarkan bahwa yang terpenting bukanlah ‘kemenangan’ yang diraih, namun justru kemenangan terhadap diri sendiri karena mampu mendisiplinkan diri dan mengatasi halangan terbesar yaitu rasa malas dan mudah menyerah.

Share artikel ini:

Artikel Terkait