Mengajak Si Kecil Minum Obat

Kegiatan minum obat bisa jadi bukan kegiatan yang menyenangkan buat anak. Namun bila dikenalkan dengan penjelasan manfaat dan cara pemberiannya anak tak akan menolaknya.

Memberikan pengertian tentang obat bagi anak balita cukup dijelaskan secara sederhana dan konkrit tentang fungsi obat, kapan mengkonsumsinya dan berapa takarannya. Misalnya contoh seperti ini, "Nak, kamu kan lagi batuk, jadi kalau habis makan nasi minum obat ya." Sambil menunjuk obat yang bersangkutan, cukup satu sendok kecil ini. Buat anak yang sudah mulai bisa membaca, kita ajak mereka membaca bersama tentang nama dan fungsi obat, serta aturan-aturan pemakaiannya.

Bila si kecil harus minum obat yang berasa pahit, sehingga ia cenderung menolaknya, perlu diberi penjelasan. Dengan memakan atau meminum obat tersebut ia bisa sembuh. Dijelaskan kalau sembuh ia bisa bersekolah, dapat bepergian, maupun bermain-main. Ajukan juga pertanyaan seperti ini misalnya, “Bukahkah tidak enak kalau adik sakit terus?” Memang di tahap-tahap awal membujuk dengan sedikit paksaan diperlukan untuk kebaikannya. Sebaliknya, bila anak sudah pernah merasakan obat yang berasa manis, bisa jadi ia akan suka. Namun jangan senang dulu. Bagaimana pun obat bukanlah minuman atau makanan yang dengan bebas dapat dikonsumsi sesukanya tanpa aturan. Mengkonsumsi obat dalam jangkan panjang, apalagi tanpa aturan akan berdampak yang lebih serius buat anak.

Walau obat berasa enak, perlu dijelaskan bahwa obat bukan permen. Terangkan juga fungsi dan waktu pemakaian obat tersebut. Anak perlu diawasi dan jangan biarkan minum sendiri. Kalau dibiarkan, anak-anak akan mengganggap obat sama seperti permen. Boleh dimakan kapan saja. Karena itu sebaiknya obat diletakkan di tempat yang sulit terjangkau dan dikunci. Utamanya bagi ibu-ibu yang punya anak berusia 3 tahun ke bawah. Demikian juga dengan orangtua, meski sekarang ini banyak obat-obatan yang beredar bebas dan mudah diperoleh tanpa resep dokter, harus tetap hati-hati. Sikap kita sebaiknya berpihak kepada sesuatu yang jelas dan memberi manfaat optimal bagi kita (efektif) dan ekonomis (efisien).

Seringkali orangtua hanya mempertimbangkan aspek efisiensinya saja. Misalnya dengan membeli obat-obatan yang banyak di toko obat karena tidak perlu bayar dokter dan obatnya murah. Sikap efisien tersebut boleh-boleh saja, sepanjang gejala penyakit ananda sangat umum atau ringan (misalnya flu atau batuk) dan dalam 1-2 hari sudah mereda. Akan tetapi jika gejalnya intensif dan luar biasa (misalnya demam berkepanjangan) maka ananda perlu dibawa ke dokter, agar jelas penyakit apa yang diderita dan obat apa yang tepat untuknya.

Agar si kecil bersahabat dengan obat
Biasakan minum vitamin dalam berbagai bentuk agar anak sudah tidak asing lagi terhadap obat-obatan.
Terangkan fungsi obat ketika ada anggota keluarga yang sakit. Ketika mengkonsumsi obat, hendaknya anak tidak ditakut-takuti, bahkan usahakanlah agar situasinya menyenangkan (misalnya sambil mendengarkan lagu kesayangannya).

Share artikel ini:

Artikel Terkait