Mengajarkan anak berpenampilan sesuai usia

Soal penampilan, biasanya anak-anak punya selera sendiri. Meski orangtuanya seorang designer kondang sekalipun, belum tentu anak mau mengikuti arahan dan selera orangtuanya. Yang sering menjadi masalah dalam hal ini adalah bagaimana kalau pilihan anak kita yang mungkin masih duduk di Sekolah Dasar, dalam hal berbusana, meniru para artis yang kita nilai kurang pantas menurut usianya? Atau bagaimana kita menyikapinya jika dia memilih pakaian atau perhiasan yang menurut kita akan berpotensi menganggu keamanan dan kenyamanan?

Di sini memang perlu ada dua ruang, yaitu ruang yang membebaskan anak memilih penampilan sekehendaknya, dan ruang dimana kita mesti mengarahkannya. Artinya, tidak kita bebaskan 100% semau anak. Demi perkembangannya, anak kita butuh pengaturan dan arahan dari kita, termasuk dalam berpenampilan. Tapi tidak juga kita sedikit-sedikit ikut campur, mengoreksi, atau membatalkan inisiatifnya.

Ruang kebebasan perlu kita berikan untuk inisiatif dia yang menurut kita sesuai dengan perkembangannya, misalnya soal memilih baju santai atau baju tidur.

Kalau semua kita arahkan dan semua pilihannya kita koreksi, maka dia akan mengembangkan rasa ragu dan rasa malu ketika hendak berinisiatif. Sayang 'kan perkembagannya terganggu karena ulah kita? Pertanyaannya adalah kapan atau pada batas apa kita mulai perlu ikut mengatur dan mengarahkan?

Soal batas ini memang kita perlu melihat perkembangan anak berdasarkan interaksi kita. Secara umum, kita bisa menggunakan standar keamanan. Misalnya, kita mengarahkan anak untuk tidak menggunakan aksesoris yang dapat 'mengundang' niat jahat hingga mengancam faktor keamanan.

Atau bisa juga menggunakan standar kenyamanan. Kita dapat mengarahkan anak untuk menggunakan pakaian yang simpel karena kita mau ia bebas bergerak ketika kita ajak jalan-jalan.

Atau juga kita bisa menggunakan standar kepatutan menurut norma sosial di lingkungan kita. Memang ini agak relatif. Maksudnya, apa yang pantas menurut lingkungan tertentu belum tentu dianggap pantas juga oleh lingkungan lain.

Katakanlah anak mau memakai lipstik yang dalam standar lingkungan kita dinilai kurang/ belum patut. Kita bisa menjelaskan kepatutan itu kepadanya.

Dan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah mengarahkan anak agar penampilannya bisa memperkuat identitasnya, baik identitas jender atau identitas budaya. Misalnya, mengarahkan anak perempuan memakai pakaian perempuan atau sebaliknya.

Soal bagaimana kita mengarahkan si kecil, memang bisa beragam. Yang penting, fokus kita bukan menyerang inisiatifnya atau mengangkat kesalahannya, tetapi murni mengarahkan.

Pengarahan bisa dilakukan dengan menawarkan pilihan, memberi penjelasan, menunjukkan model, meminta alasannya, menjelaskan alasan kita, dan lain-lain.

Share artikel ini:

Artikel Terkait