Mengajarkan Prilaku Tertib Sejak Dini

Karakter dan kepribadian manusia sebagian besarnya dibentuk dari proses pembelajaran. Karenanya, akan sangat baik jika pembelajaran sudah diberikan sejak dini. Pembelajaran dini akan memberikan sedikitnya dua keuntungan. Pertama, kita sudah menanamkan tradisi belajar, dan kedua, kita telah membiasakannya dengan pola hidup positif.

Tentunya pembelajaran itu dimulai dari yang paling sanggup dilakukan. Bagi dini, yang paling mendasar adalah pembelajaran berprilaku tertib dan bertanggung jawab. Untuk melihat sejauh mana pembelajaran itu sudah kita jalankan, mari kita renungkan pertanyaan di bawah ini:

  1. Apakah kita sering melibatkan dia merapikan mainan yang berantakan?
  2. Apakah kita sudah menegaskan kesadaran akan hak milik dan kewajibannya?
  3. Apakah kita selalu mencoba memberikan pemahaman kepada anak mengenai efek prilakunya bagi anggota keluarga lain?

Bila mayoritasnya belum atau sudah namun belum konsisten, saatnya kita mulai untuk menjadikannya konsisten. Mengapa?

Melibatkan anak dalam merapikan mainan yang telah dipakainya mungkin kurang besar kontribusinya, namun dengan cara itu kita telah memberi kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab. Jika kita langsung menyuruh orang lain untuk membersihkannya atau melakukannya sendiri, proses pembelajarannya akan terpotong.

Menegaskan pentingnya menyadari hak milik dan kewajibannya memang tak seberapa hasilnya. Tapi, ini telah membantu dia untuk menyadari mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Ini bisa kita mulai dari mainan, makanan, dll.

Memberikan pemahaman kepada anak tentang bagaimana efek prilakunya bagi anggota keluarga lain, misalnya gaduh saat yang lain sedang serius, memanggil kakak atau mbaknya saat makan, dst, memang terkesan sepele. Tapi, bila itu diajarkan dengan penjelasan yang mudah dimengerti, ini akan menjadi bekal penting.

Anak akan belajar memahami orang lain, mengalahkan egoisme, dan empati. Tapi bila kita diamkan atau selalu kita bela secara tidak pada tempatnya, anak akan mengembangkan prilaku anti sosial, egois, dan tidak peduli. Padahal, ini semua adalah hambatan dalam mengembangkan kapasitas sosialnya nanti.

Hampir semua orangtua sudah menjalankan apa yang kita bicarakan di atas. Bedanya, ada yang menyadari itu semua proses pembelajaran dan ada yang menganggapnya itu biasa-biasa saja. Kualitas hasil belajar akan tergantung pada sejauh mana kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan itu adalah pembelajaran.

Share artikel ini:

Artikel Terkait