Mengajarkan Toilet Training Pada si Kecil

Rasanya, banyak sekali yang harus kita kenalkan pada sang buah hati. Dari segi keterampilan, kecerdasan, bahkan kemandirian si kecil. Dan, hal ini adalah hal yang tidak mudah. Diperlukan kesabaran dan ketekunan yang besar dari orang tua.

Sejak dini anak harus dilatih untuk mengontrol keinginan untuk buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK), disamping anak juga terlatih untuk membedakan keinginan untuk BAB atau BAK. Selain itu, dengan mengajarkan anak untuk BAB atau BAK di toliet, atau yang sering dikenal dengan istilah toilet training sejak dini, diharapkan anak akan terbiasa melakukannya pada waktu dan tempat yang tepat.

”Anak dapat dikenalkan konsep toilet training sejak usia 2 tahun, atau ketika anak sudah mengerti perintah dan aturan”, demikian ungkap Dra. Risa Kolopaking Psi, Msi pada acara talkshow yang diadakan Dancow Parenting Center dan Delta Radio 99.1 FM pada hari Kamis, 25 Juni 2009.

Ada hal yang perlu diingat oleh orang tua, yakni kita jangan mengharapkan anak dapat dengan cepat terbiasa dengan toilet training tersebut. Kadang-kadang, hari ini mereka mengerti yang kita ajarkan dan mampu mengontrol keinginan BAB atau BAK, namun, beberapa hari kemudian anak kembali mengompol atau buang air tidak pada tempatnya. ” Yang terpenting adalah orangtua harus tetap sabar dan tekun”, demikian lanjut Risa yang merupakan seorang psikolog ini.

Ciptakan pula suasana belajar yang menyenangkan, agar anak juga merasa nyaman saat melakukan toilet training tersebut.


Trauma Si Kecil.....

Salah satu penyebab anak trauma atau sulit menerapkan toilet training adalah adanya kejadian yang tidak menyenangkan pada saat mereka BAB atau BAK. Sembelit atau konstipasi adalah salah satu contohnya.

” Masalah sembelit atau konstipasi memang kerap ditemui pada anak-anak yang berumur 6 bulan keatas”, demikian papar Farida Yuniarti, seorang Nutrisionis dari PT. Nestle dalam acara yang sama. ” Hal ini disebabkan, usia tersebut adalah masa peralihan dari ASI menuju makanan padat, dan hal ini akan berlangsung sampai usia 1 tahun”, lanjutnya.

Untuk menghindari konstipasi atau sembelit tersebut, diperlukan suatu usaha untuk melindungi saluran cerna si kecil, yakni dengan cara memenuhi kebutuhan si kecil akan serat, cairan, dan juga kebutuhan si kecil akan probiotik dan prebiotik.

Probiotik adalah mikroorganisme baik yang berfungsi untuk melindungi saluran cerna. Dengan saluran cerna yang terlindungi, maka daya tahan tubuh si kecil juga akan baik, karena produksi daya tahan tubuh yang terbesar terletak pada saluran cerna. Sedangkan prebiotik adalah makanan yang diperlukan oleh probiotik agar tetap hidup. Kedua komponen ini sangat berguna untuk menciptakan saluran cerna yang sehat. Salah satu contoh dari probiotik ini adalah Lactobacillus Protectus dan Bifidobacteria. Sedangkan contoh dari prebiotik ini adalah Prebio-1.

Selain itu, kita harus membiasakan si kecil untuk mengkonsumsi makanan yang seimbang. Makanan seimbang adalah makanan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah dan susu.

Berdasarkan susunan tersebut, sayur dan buah mutlak diperlukan oleh sang buah hati sebagai sumber serat, disamping mengandung vitamin dan mineral. Dengan terpenuhinya kebutuhan serat si kecil,  diharapkan dapat mencegah sembelit. Selain itu, kebutuhan cairan juga harus dipenuhi, karena kekurangan cairan dapat membuat massa feses menjadi lebih keras sehingga akan menimbulkan sembelit. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah cukupnya aktivitas fisik si kecil. Aktivitas fisik yang cukup juga akan membuat pergerakan usus, yang merupakan bagian dari saluran cerna menjadi maksimal, sehingga dapat tercegah dari masalah sembelit.

Agar probiotik dan prebiotik tercukupi, Ibu dapat memberikan sang buah hati suatu produk makanan atau minuman yang memang sudah diperkaya kedua zat tersebut. Salah satunya adalah susu yang telah diperkaya kedua zat tersebut.

Namun, di dalam pemberian susu tersebut harus diperhatikan pula cara pembuatannya. Sebaiknya, dalam membuat susu tersebut, jangan menggunakan air panas, karena dapat mematikan mahkluk hidup yang menguntungkan tersebut. Gunakanlah air hangat atau air dingin untuk mencampur susu yang telah diperkaya dengan probiotik.

Dengan terjaganya jumlah probiotik dalam saluran cerna si kecil, maka akan membuat penyerapan zat gizi dalam makanan juga menjadi optimal. Dan, kelebihan prebiotik atau probiotik tidak akan terjadi. Karena, kelebihan prebiotik akan dibuang melalui tinja, sedangkan probiotik yang hidup dalam saluran cerna biasanya berusia pendek, yakni sekitar 2 hari – 2 minggu. Karena usianya yang pendek inilah, maka kita harus selalu memastikan bahwa jumlah probiotik dalam saluran cerna sang buah hati tetap lebih dominan daripada mikroorganisme yang merugikan.

 Selain sembelit, trauma pada si kecil juga dapat disebabkan karena kebersihan yang tidak terjaga dengan baik di dalam toilet, misalnya toilet kotor, bau, dan licin, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan pada si kecil. Oleh sebab itu, kita harus selalu  memperhatikan kebersihan dalam toilet tersebut.

Risa juga menyarankan agar kita harus membiasakan si kecil untuk membuang ”hajatnya” secara teratur. Dengan keteraturan tersebut, maka tubuh memiliki irama yang tetap dalam proses pembuangan sisa-sisa dari metabolisme tubuh, sehingga akan memperlancar proses tersebut.

Share artikel ini:

Artikel Terkait