Mengapa Balita Berbohong

Dia pun belum sepenuhnya memahami konsep berbohong karena dia belum mengerti bahwa kebenaran sebenarnya didasarkan pada kenyataan yang terjadi. Sebagai
contoh, bila mainannya berserakan di lantai, bisa saja dia mengatakan bahwa dirinya tersandung dan
menabrak rak mainan sehingga seluruh mainannya jatuh berantakan. Padahal pada kenyataannya, dia
berusaha mengambil satu mainan saja, tapi tanpa sengaja menjatuhkan mainannya yang lain.
Pada tahap usia ini, imajinasi anak sedang berkembang. Menurut beberapa ahli, ketika seorang
batita berharap bahwa sesuatu terjadi karena suatu hal, dia bisa memanipulasi kebenaran karena dia
percaya bahwa yang dia katakan akan menjadi kenyataan.
Jawaban polos bisa meluncur mulus dari mulutnya karena dia berharap memang itulah yang
terjadi. Dan dia percaya bahwa memang itulah yang seharusnya terjadi.
Penjelasan lain mengenai kebohongan batita adalah sindroma si anak baik (angelic syndrome). Menurut psikolog anak Dra. Endang Retno Wardhani, anak ‘terpaksa’ berbohong karena dia takut dimarahi. “Anak takut tidak bisa memenuhi standard yang diberikan orang tua. Ketika orang tuanya selalu memuji saat dia berbuat baik dan memarahi saat dia berbuat nakal, anak bisa berbohong demi menghindari hukuman, yaitu dimarahi orang tua.”Ada kalanya anak berbohong sebagai bentuk reaksi dalam merespons suara Anda. Misalnya, ketika Anda bertanya dengan nada tinggi dan menuduh, “Kamu ya, yang menjatuhkan gelas?” si kecil langsung bisa merasakan adanya nada tidak suka di suara Anda. “Dia tahu akan dimarahi jika menjawab jujur. Akhirnya, spontan dia menjawab.

Meskipun kebohongan adalah bagian dari tahap perkembangan batita, tetap saja hal itu tidak bisa dianggap lalu. Bagaimanapun, Anda perlu mencegah agar berbohong tidak menjadi kebiasaan buruk di kemudian hari. Berikut adalah beberapa hal yang bisa lakukan saat menghadapi kebohongan batita Anda;

Jangan Beri Label Negatif. Ingatlah, anak Anda sebenarnya tidak berniat menipu Anda. Yang dia inginkan hanyalah satu hal sederhana, yakni tetap dikenal sebagai anak manis di depan Papa dan Mama. Menyebut dia pembohong tidak akan menyelesaikan masalah. Karena hal itu bisa membuatnya memilih untuk tidak berbagi perasaannya dengan Anda.

Dorong Kebiasaan Jujur. Tak perlu menggunakan hukuman atau ancaman demi menerapkan kebiasaan yang baik. Misalnya, ketika si kecil menyalahkan hewan peliharaan atas pecahnya gelas di atas meja, Anda bisa mengatakan, “Mama tidak marah. Tapi kamu harus jujur kepada Mama, apa betul kamu yang menjatuhkan gelas? Sebab Mama tidak melihat ada orang lain di meja makan selain kamu.”

Beri penghargaan. Memupuk kebiasaan jujur juga bisa dilakukan dengan memberi penghargaan kepada si kecil yang bersedia mengakui kesalahannya. Puji keberaniannya.

Belajar konsekuensi dari perbuatan. Lebih dari pujian, anak juga harus tetap belajar mengenai konsekuensi dari perbuatannya. Dengan demikian, Anda tidak hanya mengajarkan anak untuk mengakui perbuatannya, tapi juga mengarahkannya kepada proses memperbaiki kesalahan yang dia perbuat. Suatu kecakapan yang jauh lebih lebih berguna daripada sekedar merespons interogasi Anda.

Turunkan Standard. Tidak jarang orang tua menerapkan standar yang tinggi kepada anak, termasuk soal bersikap manis setiap waktu. Bukanlah tugas mudah bagi seorang anak yang baru berusia 2 atau 3 tahun untuk memenuhi standard perilaku yang ada di keluarga ataupun di masyarakat, karena dia sendiri pun belum cakap dalam sosialiasi. Tak ada salahnya Anda bersikap lunak sedikit agar menciptakan lingkungan yang bersedia memberikan toleransi pada kesalahan. Bagaimanapun, anak Anda perlu tahu bahwa dirinya akan tetap disayang orang tuanya sekalipun dirinya berbuat nakal.

Anda Juga Berbohong?
Bukanlah hal yang mengejutkan bila anak belajar dengan meniru perilaku orang-orang di lingkungan
terdekatnya, dan dalam hal ini adalah orang tuanya. Jadi, bila batita Anda sering berbohong, tidak
tertutup kemungkinan jika dia belajar dari Anda. Contoh kebohongan paling umum yang diucapkan
orang tua adalah, “Disuntik itu tidak sakit. Seperti digigit semut,”  Mungkin hal ini terdengar sepele,
tapi hasilnya belum tentu demikian. Bagi batita, disuntik adalah hal yang menakutkan dan memang
menyakitkan. Ketika hal yang Anda ucapkan tidak sejalan dengan kenyataan, si kecil bisa merasa
Anda mengkhianati kepercayaannya. Dan bukan tidak mungkin dia melakukan hal yang sama kepada
Anda demi mendapatkan yang dia inginkan.

Bangun Rasa Percaya
Anda tentu tidak bisa mengharapkan anak Anda tumbuh menjadi sosok yang bisa dipercaya jika Anda
sendiri kerap berbohong. Bagaimanapun, Anda juga perlu meyakinkan anak bahwa Anda bisa
dipercaya. Sebagai contoh, ketika mengiming-imingi anak dengan sesuatu, misalnya dengan camilan
atau mainan, tepatilah janji tersebut. Jika tidak bisa memenuhi, sebaiknya Anda tidak menggunakan
sogokan agar anak bersedia mematuhi Anda. Selain itu, minta maaf lah ketika Anda berbuat salah
atau mengecewakan perasaan si kecil. Dengan demikian, dia akan belajar bahwa dia tidak perlu takut
mengakui kesalahan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait