Mengembangkan Sikap Mandiri pada Anak

Berk (2005) menulis bahwa secara bertahap anak-anak umur 2 – 6 tahun mulai mandiri dalam berpakaian dan makan. Anak yang berumur 2 tahun mulai memakai dan melepas baju yang mudah ia gunakan. Pada saat berumur 3 tahun, anak mulai dapat pergi sendiri dan mengurus keperluan toiletnya. Anak umur 4–5 tahun dapat berpakaian dan melepas pakaiannya tanpa harus diawasi. Pada waktu makan, anak-anak prasekolah sudah dapat menggunakan sendok dengan benar dan makan sendiri. Pada umur 4 tahun mulai bisa menggunakan garpu dan sekitar umur 5 – 6 tahun mereka sudah dapat menggunakan pisau untuk memotong makanan lunak.

Anak mandiri biasanya mampu mengatasi persoalan yang menghadangnya. Kemandirian itu tentu harus dilatih sejak dini. Orangtua jangan gampang berteriak “tidak” atau “jangan,” bila menginginkan anak cerdas dan penuh percaya diri. Kemandirian sangat erat terkait dengan anak sebagai individu yang mempunyai konsep diri, penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem), dan mengatur diri sendiri (self regulation). Anak paham akan tuntutan lingkungan terhadap dirinya, dan menyesuaikan tingkah lakunya. Anak mandiri mampu memenuhi tuntutan lingkungannya.

Secara umum kemandirian bisa dilihat dari tingkah laku, bentuk emosional dan sosial. Anak mampu berpisah dalam waktu singkat dengan orangtuanya, misalnya saat mulai bersekolah. Anak bisa masuk ke kelas dengan nyaman karena mampu mengontrol dirinya. Ini bentuk secara emosional. Kemudian secara sosial, anak tidak harus selalu berinteraksi dengan pengasuhnya. Ia bisa berhubungan dengan orang lain secara independen sebagai individu. Sejak usia dini, sekitar 2-3 tahun, anak sebetulnya sudah menunjukkan perilaku dasar mandiri. Orangtua bisa melihat keinginan mandiri itu dengan memperhatikan gejala yang ada.

Tak sedikit orangtua yang takut bila anaknya yang berusia batita melakukan hal-hal tertentu. Saat anak ingin naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, bahkan langsung digendong. Akibatnya, anak jadi penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri. Tak ada salahnya memperbolehkan anak naik-turun tangga sendiri, tentunya dengan diawasi dan dijaga oleh orangtua maupun pengasuhnya. Yang dapat membuat anak terlambat mandiri adalah orangtua yang cenderung terlalu protektif. Mereka merasa tidak nyaman melepaskan anaknya. Padahal, setiap anak mampu mengukur, seberapa jauh ia dapat mengontrol diri sendiri. Saat berada di ketinggian tertentu, anak mempunyai insting dasar untuk bertahan dan tidak melompat. Seharusnya biarkan anak melakukan hal yang diinginkannya, tetapi tetap harus diawasi.

Banyak orangtua tergolong pencemas. Kecemasan itu sebagai bentuk kompensasi dari kesibukan atau perasaan ketidakkompetenan orangtua. Sebagai akibatnya, anak tidak kunjung mandiri. Sebaliknya, Anak malah bersikap manja. Kemanjaan itu bisa timbul karena perasaan tidak aman dalam dirinya. Perasaan ini muncul karena pola asuh orangtua yang terlalu melindungi, memanjakan, atau karena kepribadian anak yang cenderung penakut. Hal lainnya karena pengaruh lingkungan. Ada lingkungan yang membuat anak merasa terancam.


 Saat berada di kehidupan nyata, anak yang manja ini bisa terkaget-kaget. Pasalnya, tak semua orang peduli pada dirinya dan memenuhi keinginannya seperti halnya di rumah. Hal ini akan menciptakan anak yang tidak percaya diri. Anak yang manja sulit menyesuaikan diri di antara teman-temannya. Rentang toleransi anak manja biasanya rendah.

Tidak ada kata terlambat untuk melatih anak menjadi mandiri. Asalkan ada kesempatan bagi anak untuk menunjukkan perilaku mandirinya. Hanya saja, akan semakin sulit manakala usia anak makin bertambah karena sebelumnya anak selalu bergantung pada orangtua dan pengasuhnya. Anak akan menuntut untuk terus dilayani, diperhatikan, hingga akhirnya sulit diubah. Seberapa pun sulitnya, anak tetap bisa dilatih mandiri. Yang penting, orangtua konsisten bahwa ada hal-hal yang bisa dilakukan anak, khususnya kemampuan adaptif. Dengan dilatih mandiri, anak akan lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan cerdas.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan adalah :

  1. Beri kesempatan memilih. Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya, bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya.
  2. Hargailah usahanya. Hargailah sekecil apa pun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya, terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya.
  3. Hindari banyak bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua, yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet.
  4. Jangan langsung memberi jawaban. Meskipun salah satu tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tugas Andalah untuk mengoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar.
  5. Dorong untuk melihat alternatif. Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah, orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong.
  6. Jangan patahkan semangatnya. Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan "mustahil" terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali Anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya yang ingin dicapainya.


Share artikel ini:

Artikel Terkait