Mengembangkan Sikap Percaya Diri pada Anak sejak Dini

Ada hubungan yang kuat antara bagaimana perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri dan bagaimana cara ia berperilaku. Oleh karena itu, anak perlu dibantu untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Beberapa cara untuk membantu anak meningkatkan kepercayaan dirinya :

  1. Lakukan attachment parenting : Sikap orang tua yang responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan anak, sehingga anak mengetahui apa yang diharapkan dari diri mereka & merasa memiliki kontrol terhadap lingkungan. Jika tidak, mereka merasa diri tidak berharga sehingga membuat mereka berpikir tidak berharga, butuh dikasihani dan putus asa.
  2. Tingkatkan / perbaiki kepercayaan diri anda sendiri sebagai orang tua :
    Mengasuh anak adalah kegiatan terapeutik. Jika ada problem masa lalu yang mempengaruhi pola asuh yang sedang dilakukan orang tua, sebaiknya ia mencari pertolongan psikologis dan mengkonfrontasikannya.

    Jika orang tua memiliki self-image yang buruk, khususnya jika ia merasa bahwa itu disebabkan karena pola asuh orang tuanya dahulu, maka cobalah untuk menghentikan pola asuh keluarga yang buruk itu.

  3. Jadilah cermin yang positif :
    Khususnya pada anak-anak pra-sekolah yang sedang belajar tentang dirinya sendiri, akan tergantung dari reaksi-reaksi orang tua mereka. Apakah orang tua merefleksikan gambaran yang positif / negatif pada anak-anak mereka ? Apakah orang tua memberikan pandangan pada anaknya bahwa ia menyenangkan ? Pendapat dan keinginannya berharga untuk orang tuanya ? Pada saat orang tua memberikan refleksi positif terhadap anaknya, maka anak tersebut akan berpikir positif tentang dirinya
  4. Bermainlah dengan anak :
    Pada saat bermain, anak akan menerima pesan bahwa ia berharga. Pandanglah bermain sebagai investasi dalam perilaku anak, kesempatan kepada anak untuk merasa spesial, bisa mengungkapkan inisiatif tentang permainan yang akan dilakukan
  5. Panggilah anak dengan namanya :
    Memanggil anak dengan namanya & disertai dengan kontak mata akan memberikan pesan kepada anak tersebut bahwa ia spesial. Anak belajar mengasosiasikan bagaimana cara orang tua menggunakan namanya dengan perilaku yang diharapkan darinya.
  6. Lakukan prinsip berkelanjutan (carryover) :
    Pada saat anak bertambah besar, kembangkanlah potensi / talenta yang ia miliki. Bila anak menikmati suatu aktivitas, ia akan memiliki self-image yang lebih positif dan dapat berlanjut pada aktivitas-aktivitas lain. Contohnya : meningkatkan kesenangan & kenikmatan yang diperoleh anak dari kegiatan atletiknya sekaligus juga mendukungnya pada bidang akademis.
  7. Bantu anak mencapai kesuksesannya :
    Mengenali kemampuan anak, memberi semangat untuk mencoba mengembangkan kemampuan tersebut.Jika orang tua tidak melindungi anaknya dari harapan-harapan yang tidak realistis, maka rasa kompetisinya akan terancam. Pastikan bahwa anak percaya bahwa orang tuanya menghargainya karena siapa dirinya, bukan karena bagaimana penampilannya.
  8. Lindungi anak dari orang-orang yang dapat merusak self-esteemnya :
    Dengan pola asuh attachment selama 3 tahun pertama kehidupan anak dan tetap dipertahankannya hubungan yang erat dengan anak, maka orang tua telah memberikan dasar yang kuat mengenai nilai-nilai (values) tentang rumah, keluarga dan hubungan interpersonalnya. Sebagai hasilnya, anak mengembangkan hati nurani dan rasa hormat terhadap kebijaksanaan pengasuhan sehingga di masa yang akan datang dia dapat memasuki kehidupan nyata dengan aman tanpa harus terhanyut dengan pergaulannya. Hati-hati dengan pemilihan teman-teman, sekolah, pergaulannya, karena nilai (value) & konsep diri anak dipengaruhi oleh orang-orang yang memiliki peran penting dalam hidupnya seperti saudara, guru, pemuka agama dan teman-teman.
  9. Berikan tanggung jawab pada anak :
    Dengan melibatkannya pada perawatan / pemeliharaan lingkungan kehidupan keluarga, baik di luar maupun di dalam rumah, memberikan tugas-tugas rumah tangga, dapat membantu mereka merasa lebih berharga, menyalurkan tenaga mereka ke perilaku yang bermanfaat dan mengajarkan keterampilan-keterampilan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait