©shutterstock

Mengenal Sindrom Rubella

Perkembangan penyakit di dunia memang tidak pernah surut. Semakin zaman berkembang semakin banyak penyakit yang bermunculan. Beberapa penyakit memang terjadi lantaran pengaruh gaya hidup yang kurang baik, namun ada pula penyakit yang memang muncul dalam bentuk wabah pada waktu tertentu. Salah satunya adalah sindrom Rubella. Meski penyakit ini termasuk penyakit yang sudah cukup lama diketahui kemunculannya, tetapi kewaspadaan pada penyakit Rubella sebaiknya selalu ditingkatkan.

 

Menurut World Health Organization (WHO) sindrom Rubella merupakan penyakit yang disebabkan oleh penularan virus Rubella. Virus ini mudah sekali ditularkan dari cipratan air liur yang keluar bersamaan saat si penderita Rubella bersin maupun batuk. Di samping itu, virus ini hanya bisa berkembang dalam tubuh manusia, sehingga tak bisa ditularkan dari hewan.

 

Lebih lanjut, WHO menginformasikan bila virus ini mudah sekali menyerang anak-anak. Hanya saja, bahaya infeksinya tak seberat ketika menyerang ibu hamil. Sindrom Rubella yang terlampau akut bisa menyebabkan kematian janin maupun cacat bawaan yang selanjutnya dikenal sebagai Congenital Rubell Syndrome (CRS) atau sindrom Rubella turunan.

 

Pada kasus anak-anak, Rubella ditunjukkan dengan gejala ringan seperti ruam, demam ringan atau masih di bawah suhu 39 derajat Celcius, dan mual-mual. Ruam ini sendiri dimulai dari pada bagian wajah dan leher sebelum akhirnya menyebar ke seluruh tubuh dalam rentang waktu 1-3 hari. Selanjutnya virus akan terus melakukan infeksi ke tubuh dengan jangka waktu 5-7 hari. Gejala ini bisa berkembang selama 2-3 minggu, sementara proses penularan virus ke luar bisa terjadi 5 hari setelah adanya ruam dalam tubuh.

 

Sementara pada kasus yang menyerang ibu hamil, Rubella mulai menyerang pada tahap awal kehamilan. Itulah sebabnya kenapa peluang virus Rubella ini mengganggu perkembangan janin hingga mencapai 90 persen, karena hampir sepanjang masa kehamilan Rubella menginfeksi. WHO menambahkan bila tak segera dilakukan penanganan, maka bisa berpotensi menyebabkan keguguran maupun cacat saat lahir.

 

Untuk mengatasi hal ini WHO sudah memberitahukan kepada banyak negara untuk menggunakan vaksin Rubella. Biasanya dokter akan memeriksa kondisi kandungan saat seorang ibu sudah dinyatakan positif hamil. Di samping itu, sudah seharusnya secara inisiatif ibu melakukan kontrol berkala, sehingga bisa lebih banyak mendapatkan informasi tentang perkembangan janin serta dengan harapan menjauhkan calon si kecil dari gangguan penyakit berbahaya seperti Rubella. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait