Pentingnya Pemeriksaan Gigi Berkala Pada Anak

Masalah kesehatan gigi sering terlupakan, dan terabaikan. Pendidikan kesehatan gigi di sekolah masih rendah, dan kedua, tidak semua orang mempraktikkan bagaimana memelihara gigi agar sehat dan kuat sampai akhir usia. Bagaimana supaya gigi anak tidak bermasalah, pemeriksaan rutin berkala gigi geligi merupakan sikap dasar menjamin kesehatan gigi keluarga.

Bila gigi susu anak mengalami keropos atau caries dentis, berarti gigi perdana akan tanggal sebelum waktunya. Kita tahu setiap gigi punya umurnya sendiri-sendiri. Gigi tanggal sebelum umurnya itulah awal mengapa gigi menjadi tak beraturan susunannya kelak.Terlebih lagi apabila keropos gigi menimpa gigi tetap. Selain gigi menjadi tidak utuh lagi, dan bila dibiarkan menjadi rusak dan hancur, gigi memerlukan gigi palsu agar tidak kelihatan ompong.

 

Proses kimiawi

Rusaknya gigi bukan karena peristiwa mekanis, melainkan sebab berlangsungnya peristiwa kimiawi yang mengenai lapisan terkuat gigi, yakni email. Kita tahu lapisan terluar gigi ini luar biasa keras, bahkan tergigit benda cukup keras pun belum tentu rusak. Tergigit pasir dalam nasi, atau serpihan tulang tak harus retak, misalnya.

Kalahnya kekuatan lapisan permukaan gigi lebih karena tergerus oleh zat kimiawi masam yang terbentuk oleh dua unsur. Adanya sisa makanan yang terselip di sela gigi, serta adanya kuman di rongga mulut. Keduanya bersekutu membentuk zat kimiawi perusak email gigi. Lapisan sekeras itu dikalahkan oleh kimiawi masam, menipis, tergerus, lalu keropos.

Bukan segala jenis sisa makanan yang menimbulkan masalah pada gigi. Hanya jenis sisa makanan yang tergolong karbohidrat saja yang berpotensi untuk membentuk kimiawi asam perusak gigi, termasuk nasi, mie, roti, ubi, jagung, dan semua yang bergula.

Pada saat keropos masih berukuran sangat renik, mungkin tak tampak oleh mata telanjang, itulah saat terbaik untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada email gigi. Makin lekas bintik lubang gigi ditambal, makin terjamin keutuhan gigi bertahan lebih lama di rongga mulut. Untuk itu bantuan dokter gigi diperlukan. Karena kalau  makin dalam lubang gigi, sudah sulit untuk dipertahankan keutuhan giginya.

 

Membatasi makan coklat dan permen

Hewan pemakan daging seperti harimau, tidak pernah bermasalah dengan giginya. Kucing pun tidak pernah keropos giginya, sebagaimana halnya anjing, serta hewan carnivora lainnya. Kerusakan gigi hewan carnivora lebih sebab peristiwa mekanis.

Gula dalam biskuit, dodol, jenang, coklat dan permen merupakan jenis yang sering mengancam keutuhan gigi.Orangtua hendaknya mengawasi konsumsi makanan-makanan tersebut. Apabila anak menghendakinya, jumlahnya harus dibatasi dan segera gosok gigi setelahnya agar tidak ada sisa yang dapat merusak gigi.

Terlebih terhadap gigi susu. Kita tahu lapisan email gigi susu tidak sekuat pada gigi tetap. Maka untuk menjadi rusaknya gigi lebih besar dibanding gigi tetap. Apabila ancaman dari jenis makanan berpotensi bikin keropos gigi dibiarkan menghadang, gigi susu akan tanggal sebelum waktunya, dan berakibat susunan gigi geligi anak kelak tidak seindah semestinya lagi.

 

Rutin pemeriksaan gigi berkala.

Sekurang-kurangnya tiga bulan sekali memeriksakan gigi anak ke dokter gigi. Dalam UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) sebetulnya ada kegiatan memeriksa gigi secara rutin berkala. Tapi belum semua sekolah melaksanakan kegiatan peningkatan kesehatan gigi itu. Maka tugas semua orangtua sendiri menaruh perhatian besar terhadap kegiatan ini.

Apa harapannya? Supaya andai sudah ada titik lubang gigi serenik apa pun, sudah langsung terdeteksi, sehingga langsung ditambal. Semakin dini lubang gigi terdeteksi, semakin baik nasib gigi ke depannya nanti.

Menggosok gigi sehabis makan

Menggosok gigi dibiasakan sejak kecil. Sebelum mampu anak melakukannya sendiri, tugas ibu membantu. Sejak usia bayi biasakan membersihkan permukaan gigi dengan kapas basah steril. Bersihkan setiap selesai menyusui, dan sehabis diberikan biskuit. Bila sudah mampu menggosok gigi sendiri, biasakan juga membersihkan gigi setiap selesai makan. Bukan sebelum makan.

Kekeliruan tersering, menggosok gigi dilakukan sebelum makan, dan bukan sehabis makan. Mengapa? Oleh karena bila tujuannya supaya membebaskan permukaan gigi dan sela gigi dari sisa makanan, terutama jenis makanan berkarbohidrat, mestinya dilakukan sehabis makan.

Tak cukup sekadar menggosok gigi. Agar tak ada bagian permukaan gigi yang terluput dari sisa makanan penyebab keroposnya gigi, cara menggosok gigi perlu diajarkan. Secara sistematis menyikat seluruh permukaan gigi tanpa ada satu bagian pun yang terluput, baik arah horizontal maupun arah vertikal.

Paling sering membersihkan gigi arah vertikal yang kurang diperhatikan, sehingga sisa makanan masih saja ada yang terselip di celah gigi. Maka kendati sudah tertib membiasakan menggosok gigi, namun karena caranya kurang sempurna, maka tetap saja gigi terancam rusak juga.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait