Perlukah Mengajarkan Anak Menghapus Stereotip?

Stereotip itu adalah label mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif atau jenerik dan sebagian besarnya tidak tepat.

Secara umum, stereotip itu datangnya dari luar. Ada yang dikaitkan dengan jenis kelamin, daerah, atau bangsa. Tentu saja, ada stereotip yang bernada positif dan ada yang negatif.

Terlepas stereotip itu positif atau negatif, sebaiknya kita perlu mengajarkan anak agar tidak hidup di bawah bayang-bayang stereotip dari luar. Kenapa? Ini supaya anak memiliki kepribadian dan karakter yang kokoh. Kekokohan ini hanya bisa dibangun dengan mengajarkan prilaku yang basisnya adalah nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kemaslahatan. Nilai itu bisa kita ambil dari pengetahuan, kitab suci, atau kultur lokal (kearifan leluhur).

Secara psikologi, anak yang basis prilaku hidupnya adalah nilai-nilai dari dalam dirinya, yang kita transfer melalui pengasuhan, akan memiliki mental yang lebih kuat atau yang disebut internal locus of control. Semakin kuat si anak mengontrol prilakunya berdasarkan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya, berarti semakin kuat kepercayaan diri dan jati dirinya. Sebaliknya, semakin kuat pengaruh eksternal dapat mengontrol prilaku anak, maka semakin lemah kepercayaan diri dan jati dirinya.

Agar anak mulai belajar membebaskan diri dari stereotip itu, kita perlu memberikan penjelasan dan penyadaran mengenai pentingnya menjalankan nilai-nilai dalam hidup, misalnya sombong itu jelek, empatik itu bagus, dan seterusnya. Selain itu disiplin juga penting, kalau hanya dijelaskan, nilai itu akan meresap sedikit. Disiplinlah yang akan menancapkan nilai itu. Yang juga penting adalah membangun kultur atau lingkungan di rumah yang menjunjung tinggi nilai-nilai. Sulit kita mengajarkan anak menjadi empatik kalau model komunikasi yang ia rasakan di rumah dipenuhi konflik negatif.

Untuk anak yang sudah mamasuki usia 6-11-an tahun, kita juga mulai perlu membangun keyakinan pada diri si anak mengenai kelebihan, keunggulan, atau kompetensi pribadinya agar anak lebih percaya diri dengan kemampuannya. Caranya adalah dengan memberikan dukungan dan penyaluran.

Terakhir, selain perlu membebaskan anak dari pengaruh stereotip yang ditujukan ke dirinya, kita juga perlu membebaskan stereotip negatif yang ditujukan pada keragaman suku yang kita kenal dari pikiran si anak. Ini agar anak tak terbebani opini negatif dan punya semangat untuk menghargai kekayaan kultural di kita. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait