Sejauh Manakah Aturan Keluarga Dibutuhkan?

Jika dilihat dari aspek  perkembangan, sebetulnya setiap anak itu punya dua kebutuhan yang sekilas nampak saling bertentangan. Pertama, anak membutuhkan aturan, walaupun aturan ini tidak selalu disenangi anak. Anak butuh untuk diatur atau didisiplinkan untuk mengembangkan rasa tanggung jawab, self-control, ketaatan terhadap ajaran, etika, norma, dan berbagai bentuk perkembangan positif lain. Dengan aturan itu nantinya dia akan mendapatkan sesuatu yang berguna. Banyak, kan orang dewasa yang bahagia dan bangga atas buah disiplin yang pernah ia jalani waktu kecil?

Tapi, jangan lupa bahwa kebutuhan anak bukan saja aturan. Anak juga butuh kebebasan untuk mengembangkan kreativitas, inisiatif, kemandirian, dan beberapa hal positif lain. Kalau semua serba diatur, anak akan terbiasa dengan pola hidup robot, kurang fleksibel terhadap perubahan hidup, dan sangat mungkin akan berontak terhadap aturan yang mengekangnya.

Untuk memenuhi kebutuhan akan kebebasan, anak-anak terkadang melakukan sesuatu yang biasa kita sebut menentang, membantah, keras kepala, atau kita juga sering menyebutnya dengan istilah nakal. Padahal itu semua adalah ekspresi kebebasan.

Nah, keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama, mau tidak mau harus bisa memenuhi dua kebutuhan itu secara proporsional. Di sinilah pentingnya kita bicara tentang aturan keluarga.

Setiap keluarga idealnya perlu memiliki aturan, baik yang sifatnya umum atau khusus. Aturan itu bagus sejauh tidak mengatur seluruh kegiatan anak sehingga mengekang kebebasannya lalu membuatnya seperti robot atau mesin.

Tentu, aturan pun harus kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, misalnya aturan mematikan televisi saat belajar, aturan tidak bisa membawa gadget canggih ke luar rumah, aturan ibadah, aturan menggunakan uang, dan lain-lain. Namanya anak-anak, pastinya akan memprotes dan ini bagus. Latihlah logikanya untuk berpikir tentang alasan, manfaat, benar-salah, dan seterusnya. Setelah itu, di sinilah kesempatan kita untuk memasukkan beberapa pengertian.

Yang tidak kalah pentingnya adalah contoh atau dukungan dari orang dewasa. Sulit kita menetapkan aturan walaupun yang sepele seperti mematikan televisi saat belajar jika orang dewasa di sekitarnya tidak mendukung. Demikian juga peranan pembiasaan dan penegakan. Tidak cukup kita hanya menetapkan aturan sekali lalu berharap akan berjalan sendiri. Perlu dibiasakan dan ketika mau menyimpang, perlu ditegakkan. Di sinilah kesabaran dan fleksibilitas menjadi awal keberhasilan.

Yang sangat mendasar lagi adalah jangan membuat aturan karena ingin meniru orangtua kita dulu mentah-mentah. Munculkan kreativitas dan inovasi.  Orang bijak bilang: “Even the best can be improved”. Atau juga janganlah membuat aturan sebagai reaksi penolakan kita secara mentah-mentah terhadap apa yang pernah menimpa kita dulu. Sikap ekstrim seringkali mendatangkan yang kebalikannya. 

Menetapkan peraturan tentu perlu dilakukan secara bijak. Yang umumnya dilakukan guru di kelas pun cukup baik dan bisa kita tiru di rumah, yaitu dengan melibatkan anak-anak dalam proses menetapkan aturan. Tentu akan ada diskusi dalam prosesnya, pada saat ini lah kita bisa menjelaskan kepada anak mengapa aturan tersebut baik untuk diterapkan. Menetapkan aturan tanpa alasan yang jelas tentu lebih sulit untuk dipatuhi anak dibandingkan apabila ia paham nilai positif dari aturan tersebut. Selain itu juga akan membantu untuk konsisten menjalankannya, karena aturan tadi sudah disepakati bersama terlebih dahulu. Konsistensi juga merupakan kunci berhasilnya menjalankan aturan keluarga.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait