Senang sih senang…tapi anak jangan digoyang keras-keras, bisa berbahaya.

Si ayah senang betul dengan adanya bayi. Saking senangnya, bayi sering dilempar ke atas berulangkali dan digoyang-goyang. Apalagi kalau bayinya cekikikan karena dilempar..walaupun tidak tahu apa karena senang atau geli. Hati-hati…menggoyang bayi terlalu keras bisa menyebabkan hal yang buruk.

Di negara Barat, sering dilaporkan adanya shaken baby syndrome karena bayi terguncang kepalanya, baik sebagai bagian dari penyiksaan anak maupun karena tidak sengaja.

Shaken baby syndrome sering terjadi pada anak kurang dari 2 tahun, tapi bisa juga sampai 5 tahun. Sering luput di diagnosis. “Anaknya tidak pernah jatuh kok, masak digoyang-goyang saja bisa cedera di dalam otak?” Lagi pula dari luar tidak tampak apa-apa.

Tapi jangan terlalu takut sampai tidak berani menimang anak. Keadaan ini tidak akan terjadi karena goyangan sayang atau saat bermain dengan anak, tapi karena goyangan jengkel. Goyangannya pasti keras, sampai orang lain pasti takut melihatnya. “Aduuuh, anaknya jangan digoyang begitu dong…nanti patah lho…” Orangtua atau pengasuh sering sedang mengalami stres, terlalu disiplin sampai sering memukul anak kalau anaknya "bandel", dan bila mendengar anak menangis memang sering jengkel. Atau memang sudah sering melakukan penyiksaan fisik.

Gejala shaken baby syndrome
Gejala shaken baby syndrome sangat bervariasi, dari yang ringan sekali (tidak pernah sampai ke dokter) sampai yang berat (masuk rumah sakit tetapi tetap saja masih sering salah diagnosis). Yang ringan jadi kehilangan nafsu makan, muntah, agak lemas, dan rewel dan biasanya salah diduga menjadi penyakit lain. Gejala yang berat, anak menjadi tidak sadar. Eh…sudah tidak sadar pengasuh masih mencoba menidurkan anak, dengan harapan agar nanti jadi sadar sendiri. Baru panik kalau sudah kejang-kejang. Selain itu anak dapat mengalami kelumpuhan, pucat, matanya juling, tidak mau tertawa atau bicara.

Shaken baby syndrome disebabkan perdarahan di ruang antar selaput otak, yang disebut sebagai ruang subdural dan ruang subarakhnoid. Perdarahan juga bisa terjadi di retina mata. Sering salah didiagnosis sebagai radang selaput otak. Waktu diambil cairan otak dari ruang sumsum tulang belakang baru ketahuan bahwa ada darah di cairan otak. Diagnosisnya harus dengan CT scan, itupun kadang-kadang luput. MRI baru positif hari ke 3-4. Kadang-kadang ada tanda cedera lain di kepala atau tulang-tulang kalau anak juga sering dipukul.

Pada kasus yang berat dapat menyebabkan anak meninggal, kalaupun sembuh dapat menjadi cacat. KAsus yang ringan dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar, gangguan gerak dan perilaku di kemudian hari.

Referensi:
American Academy of Pediatrics. Shaken baby Syndrome: Rotational Cranial Injuries. Pediatrics 108 (1), July 2001.

Share artikel ini:

Artikel Terkait