Serat untuk Balita

Serat pangan, adalah bagian tak tercerna dari bahan pangan nabati, kalangan gizi menggolongkan jenis serat pangan, serat-larut dan serat-tak-larut. Asupan keduanya harus memadai. Kedua serat bersifat mengikat air dan menjaga keberadaan air dalam saluran cerna sehingga memudahkan defikasi (b.a.b). Serat-larut tertentu disebut prebiotik dalam jumlah cukup dapat "memberi makan" mikrobiota-baik yang dibutuhkan sebagai "pasukan-pengaman" dalam saluran cerna. Selain itu serat prebiotik juga mendukung penyerapan berbagai mineral, terutama kalsium.

Kebutuhan serat untuk dewasa antara 25 – 30 gram / hari. Hal ini dapat tercukupi bila konsumsi sayuran dan atau bebuahan antara 6 – 8 porsi. Seporsi buah kira-kira sama dengan 1 buah pisang besar atau sebuah apel sedang. Seporsi sayur = semangkuk salad, atau sepiring sedang urap. Jelasnya bahan makanan apa yang dipilih guna memenuhi kebutuhan serat, lihatlah tabel bahan makanan yang mengandung serat.

Kemudian bagaimana kebutuhan serat untuk anak balita yang isi lambungnya relatif masih kecil? Sama; serat harus terpenuhi. Karena balita juga butuh kesehatan saluran cerna, agar gizi dari makanan yang dikonsumsi, dapat dimanfaatkan tubuh secara maksimal guna mendukung tumbuh-kembang optimal.

Rekomendasi dari American Dietetic Association bahwa kebutuhan harian akan serat makanan untuk anak usia 3 sampai 18 tahun dengan rumus "usia + 5". Misal kebutuhan serat anak usia 4 tahun ialah "4 + 5", yakni 9 gram per hari.

Adanya kemajuan teknologi pangan yang dapat mengambil ekstrak serat-larut prebiotik dari berbagai bahan pangan umbi-umbian, memberi manfaat bagi khalayak untuk membantu mencukupi kebutuhan serat-pangan-larut. Misal 1 gram serat prebiotik fabrikasi setara dengan serat-larut dari 2 – 3 buah pisang. Manfaat lain ialah volume serat yang kecil, memberi "ruangan" bagi balita untuk menikmati makanan lain. Umumnya serat-larut fabrikasi ini di-masukkan dalam susu pertumbuhan, agar dengan mudah anak balita memperoleh asupan serat-larut.

Risiko umum kekurangan serat antara lain konstipasi atau sulit buang air besar. Masalah ini jika berlanjut, dapat membuat balita tidak nyaman dan kesakitan. Risiko yang lebih fatal mungkin mengintai. Kekurangan serat makanan yang terjadi terus menerus, diduga menjadi pemicu terjadi kanker kolon, yaitu rusaknya usus besar dan meningkatnya kadar kolesterol darah, kata ahli gizi Tuti Soenardi.

"Serat dalam makanan berfungsi mengikat air dalam jumlah banyak, sehingga memungkinkan sisa makanan dapat lebih mudah dicerna dan cepat keluar," ujar Tuti Soenardi.

Berbagai manfaat serat untuk anak balita antara lain:

  • Menjaga kesehatan saluran cerna
    • Membantu fungsi sistim saluran cerna
    • Memperbaiki kualitas tinja
    • Mepersingkat waktu transit residu makanan (tinja, toksin) hingga lebih cepat dibuang.
    • Serat larut prebiotik "memberi makan" bakteri probiotik
    • Menekan risiko diare
  • Memperlama isi lambung, rasa kenyang lebih lama -> baik untuk mengatur berat badan.
Perlu diperhatikan kebutuhan makanan selain serat. Konsumsi serat berlebihan akan membuat anak merasa cepat kenyang dikhawatirkan makanan lain seperti lauk-pauk terabaikan. Hal ini tidak menguntungkan bagi anak usia pertumbuhan.iat agar anak tidak kekurangan serat:
  • Sajikan makanan kaya serat secara kreatif agar tampil menarik.
  • Perhatikan pemilihan warna dan tekstur makanan, serta cara memasak yang baik agar kandungan vitamin & mineral terjaga .
  • Kombinasikan warna sayuran minimal 3 macam dalam satu hidangan.
  • Pemilihan tekstur bahan makanan kaya serat harus sesuai dengan kemampuan mengunyah dan mencerna anak balita.

Share artikel ini:

Artikel Terkait