Serba-Serbi Kelebihan Multivitamin

Kebanyakan ibu menginginkan anaknya gemuk. Untuk menjadi gemuk ibu meminta dokter meresepkan vitamin. Padahal sejatinya bukan vitamin yang bikin anak jadi gemuk, melainkan kecukupan porsi makannya. Lebih dari itu, bukan gemuk yang mestinya menjadi mimpi setiap ibu, melainkan tidak kurus dan tidak pula gemuk. Lalu di mana posisi vitamin, multivitamin dalam hal ini? Kita membahasnya di sini.

VITAMIN dan suplemen apa pun belum tentu diperlukan setiap anak dan orang dewasa. Memberikan vitamin pada tubuh yang tidak membutuhkannya, hanya akan dibuang sia-sia. Lalu kapan esktra vitamin dan mineral dibutuhkan?

 

Indikasi pemberian vitamin dan suplemen

Hanya apabila tubuh sedang kekurangan vitamin, setelah melihat adanya tanda dan gejala kekurangan (defisiensi) suatu vitamin, saatnya vitamin ditambahkan. Kekurangan vitamin A untuk waktu lama, maka amat perlu ekstra vitamin A. Kekurangan vitamin B6 dan asam folat (folic acid) selama kehamilan. Juga bila kekurangan zat besi (anemia), akan memunculkan aneka keluhan dan gejala baik pada anak, ibu hamil, maupun orang dewasa. Vitamin D dibutuhkan untuk metabolisme kalsium. Dan tubuh membutuhkan lebih sepuluh jenis mineral, yang kesemuanya terkandung dalam multivitamin-mineral.

Baru sembuh dari suatu penyakit, baru dirawat di rumah sakit, mereka yang makannya sulit, tergolong yang berindikasi memerlukan tambahan vitamin-mineral. Di luar kelompok itu, tambahan vitamin tidak diperlukan. Pemberian vitamin dan mineral pada yang tubuhnya sudah kecukupan semua jenis vitamin dan mineral, hanya pemborosan belaka.

Masalahnya, apakah kita bisa menjamin bahwa menu harian kita sudah bisa diandalkan untuk mencukupi seluruh kebutuhan vitamin dan mineral tubuh? Tak cukup hanya porsi, terlebih keanekaragaman menu harian yang diperlukan, agar semua zat gizi yang 45 jenis itu terpenuhi setiap hari.

Hal lain, kendati menu harian beraneka ragam, bila mengolahnya salah, sebagian zat gizinya akan hilang. Bila makanan diawetkan, bila diolah berlebihan, bila sudah tidak segar, akan bernasib sama. Juga apabila bahan makanan yang akan dijadikan menu harian kualitasnya di bawah standar. Sayur mayur yang sudah layu, busuk, atau disimpan lama. Atau diolah dengan wadah yang tak cocok, atau dipanaskan berlebihan.

Jadi perlu dipastikan kalau selain menu harian beraneka ragam, tepat pula mengolahnya, berasal dari sumber yang masih segar. Persoalan lalu timbul, bagaimana sekarang bisa selalu gampang memperoleh sayur mayur dan bebuahan segar. Bagaimana tidak menyimpan sayur dan bebuahan di lemari es agar tidak harus belanja setiap hari. Bagaimana memilih bumbu masak yang masih aman, minyak goreng yang menyehatkan, atau ikan yang belum tercemar, itu persoalan yang kita hadapi ketika keseharian kita cenderung mencari kepraktisan dan perlu yang serba instan.

 

Polusi berlebihan

Selain ada risiko menu harian belum tentu mencukupi kebutuhan tubuh akan semua vitamin dan mineral, dosis kebutuhan tubuh manusia sekarang akan vitamin dan mineral sudah lebih tinggi dibanding yang ada di buku teks sebelumnya (RDA recomended daily allowances).

Mana cukup RDA vitamin C yang di buku teks 100 mg saja sehari, ketika radikal bebas (free radicals) di lingkungan kita sudah berlebihan jumlahnya. Padahal vitamin C membantu tubuh sebagai antioksidan untuk menawarkan radikal bebas yang membanjir di tubuh orang sekarang. Antioksidan yang dibuat oleh tubuh sudah tak memadai lagi mengatasi radikal bebas yang sudah membanjir. Juga kecukupan vitamin E sebagai antioksidan juga, selain beta-carotene. Maka tambahan ketiga sumber antioksidan tersebut menjadi alasan kenapa kita perlukan.

Kita juga menyadari kalau kandungan zat gizi sayur mayur dan bebuahan sekarang sudah tidak selengkap aslinya dulu. Vitamin dan mineral dalam bayam yang dipetik sekarang sudah banyak berkurang dibanding bayam zaman dulu. Begitu juga dengan kandungan vitamin mineral dalam telur, daging, dan kacang-kacangan. Mengapa?

Oleh karena lapisan atas tanah (top soil) yang subur sumber makanan (hara) bagi tanaman, dalam lima dasawarsa ini sudah luruh ke laut dan danau. Padahal lapisan atas tanah itu merupakan sumber mineral penting bagi tubuh manusia. Itu pula alasan mineral yang diberikan oleh sayur mayur dan bebuahan sekarang belum tentu sudah memadai dengan kebutuhan tubuh kita.

Maka untuk lebih amannya, agar tidak sampai kekurangan, tetap perlu menambahkan suplemen vitamin dan mineral kendati bukan tergolong berindikasi memerlukannya. Kalau semua vitamin yang larut dalam air (B dan C) akan dibuang lewat urin bila dikonsumsi berlebihan. Hanya vitamin A,D,E, dan K yang sebaiknya tidak berlebihan. Namun kenyataannya, kendati mengonsumsi ekstra vitamin, dan bila tubuh tidak sampai kelebihan, itu yang menjadi pembuktian terbalik, bahwa tubuh memang mengalami kekurangan vitamin.

Dalam hal mineral juga sebaiknya tidak berlebihan. Namun oleh karena kekurangan satu jenis mineral saja pun sudah mengganggu mesin tubuh, maka suplemen mineral (dalam multivitamin) dianggap masih aman untuk dikonsumsi. Terlebih bila sudah muncul gejala dan tanda kekurangan mineral. Chromium untuk penting untuk pengidap diabetes. Kalsium untuk yang osteoporosis, kalium selenium untuk jantung, zinc untuk dayatahan tubuh dan prostat.

 

Merasa lebih bugar

Patokannya, bahwa tubuh memang sedang kekurangan satu atau lebih vitamin dan mineral, bisa kita buktikan dengan apakah tubuh merasa lebih bugar sehabis diberikan suplemen multivitamin?

Apabila benar merasa lebih bugar dengan ekstra multivitamin-mineral, itu berarti sebelum ditambahkan multivitamin, tubuh memang sudah menderita kekurangan satu atau lebih vitamin-mineralnya.

Idealnya, untuk mengetahui apakah tubuh sedang menderita kekurangan satu atau lebih vitamin dan mineral, dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Dari sana akan terlihat vitamin dan mineral apa sajakah yang tubuh sedang kekurangan (juga diperiksa dengan cara hair analysis). Fakta yang muncul di Amerika, sebagian orang Amerika yang kelihatan porsi makannya memadai, orangnya besar dan gemuk, namun ada sebagian yang kekurangan vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, karena kualitas menu hariannya di bawah standar, kendati porsinya sudah memadai. Kondisi begini dijuluki “hidden hunger”.

Yang serupa bisa menimpa masyarakat kita, melihat menu harian kita sudah menyerupai menu orang Barat. Maka kita sendiri yang paling tahu, apakah kita dan anak-anak kita membutuhkan tambahan vitamin-mineral, setelah melihat seperti seberapa beragam menu harian kita, seberapa banyak jenis makanan yang kita tidak doyan, dan adakah keluhan dan gejala yang muncul terkait dengan kekurangan vitamin dan mineral.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait