“Kok Si Kecil Lebih Sayang baby sitternya daripada Saya?”

Di jaman sekarang ini, banyak kita jumpai fenomena dimana seorang ibu merasa “jauh” dari anaknya sendiri. Mereka merasakan bahwa baby sitter-nya, ternyata lebih disayangi oleh anaknya ketimbang dirinya sebagai ibu yang telah melahirkannya. Misalnya saja pada saat si kecil sakit, ternyata hanya baby sitternya lah yang bisa membuat anak tenang, pada saat baby sitternya pulang kampung maka si kecil menjadi rewel dan uring-uringan, atau sikap si kecil yang tidak perduli dengan kehadiran atau ketidakhadiran ibunya, dsb. Biasanya fenomena seperti ini terjadi karena ibu tidak mau atau tidak mampu meluangkan waktu untuk menjalin interaksi dengan anaknya, misalnya karena energinya sudah terkuras habis untuk bekerja di luar rumah, malas, bosan, merasa tidak sabar atau tidak trampil dalam mengurus anak.

Bila hal ini sampai terjadi pada kita, maka kita perlu introspeksi, karena sebenarnya kejadian-kejadian seperti di atas merupakan suatu pertanda bahwa interaksi yang terjalin diantara kita dan si kecil harus segera diperbaiki. Secara disadari atau tidak, perlakuan yang anda berikan selama ini terhadap si kecil membuat ia bersikap “cuek” terhadap anda. Misalnya saja karena kesibukan anda bekerja, anda tidak pernah lagi meluangkan waktu untuk bermain dan memeluknya, anda tidak pernah lagi mengajaknya bicara, menemaninya makan, berusaha membacakan cerita atau hal-hal lain yang dapat mendekatkan anda pada si kecil. Pada saat itu seluruh kegiatan tersebut, digantikan oleh baby sitter sehingga otomatis anak akan lebih dekat dengan baby sitternya ketimbang dengan anda. Hal ini akan lebih terlihat jelas, terutama pada saat anak berusia 1-2 tahun, dimana anak berada pada periode pembentukan rasa percaya dan aman. Pada masa itu, anak sangat peka terhadap adanya figur afektif. Sehingga orang yang dirasakannya paling dapat membuatnya merasa aman dan nyamanlah yang akan menjadi sosok yang “dekat” dengannya. Bila pada saat itu baby sitternya yang lebih berperan dalam memberikan kebutuhan akan rasa aman dan nyaman pada anak, maka tidak heran kalau anak akan sangat "dekat" dengan baby sitternya.

Hal ini tentu saja merupakan sesuatu yang memprihatinkan karena kita menjadi terlalu tergantung pada baby sitter, yang notabene orang “luar” yang belum tentu bertahan lama bekerja di rumah kita. Selain itu, terdapat banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari kurangnya “kedekatan” anak dengan orangtuanya. Misalnya membuat anak menjadi susah diarahkan oleh orangtuanya, anak tumbuh menjadi pribadi yang rapuh, kurang percaya diri, anak merasa terabaikan, dsb.

Untuk mencegah dan mengatasi keadaan seperti di atas, berikut ini ada beberapa tips yang dapat dijadikan pedoman dalam berinteraksi dengan anak :

  1. Sesibuk apapun anda, tetap luangkan waktu untuk memberikan perhatian dan kasih sayang pada anak. Bila anda bekerja di luar rumah seharian, sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja usahakan untuk selalu meluangkan waktu berinteraksi dengan anak. Usahakan hari libur, anda pergunakan sebaik-baiknya untuk lebih mendekatkan diri pada anak dan meminimalkan peran baby sitter terhadap anak. Bila keadaan memungkinkan, usahakan untuk tetap memberikan ASI sewaktu anda bersamanya. Karena sewaktu menyusui, akan terjalin ikatan emosi yang lebih dekat dengan anak.
  2. Utamakan kualitas hubungan dengan anak. Hal ini berarti pada saat kita bersama anak, usahakan terjadi interaksi. Manfaatkan waktu yang ada, walaupun sedikit, dengan terus menunjukkan kasih sayang dan perhatian yang tulus pada anak. Misalnya dengan menciumnya, mengajaknya bicara, membacakan cerita, menggendongnya, kontak mata, senyum, membelai hangat, dsb.
  3. Perlu ditanamkan niat yang sungguh-sungguh untuk menjalin “kedekatan” dengan anak. Hal ini diperlukan agar kita benar-benar menyiapkan diri baik fisik maupun mental kita dalam berinteraksi dengan anak. Jangan sampai kita merasa terpaksa dalam mengasuh anak, karena hal ini justru akan menjauhkan hubungan kita dengan anak.
  4. Tetap tenang, percaya diri dan tidak putus asa bila menemui kesulitan dalam menghadapi anak. Jangan terpancing emosi dan tetap berusaha untuk sabar bila anak rewel. Gunakan kreativitas dan naluri keibuan untuk membujuk dan mengusahakan agar anak nyaman bersama anda. Ada baiknya banyak bertukar pikiran atau berdiskusi dengan orang yang sudah berpengalaman dalam proses pengasuhan anak atau dengan banyak membaca buku-buku yang bisa menambah wawasan dan ketrampilan dalam mengasuh anak.
  5. Tetap konsisten dalam memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak sehingga anak dapat membangun kelekatan emosional yang langgeng (bertahan lama), yang akan mempengaruhi kemampuan menyesuaikan dirinya kelak di kemudian hari.

Share artikel ini:

Artikel Terkait