Tas Sekolah Berat Ganggu Postur Tubuh Anak?

Beban fisik anak sekolah sekarang jauh melebihi yang dipikul anak zaman dahulu. Bukan semata beban psikis, sama beratnya juga beban fisik. Dampak gemuknya kurikulum berimbas pada volume muatan tas sekolah, seolah memindahkan lemari buku rumah ke dalam tas sekolah. Tanpa disadari, setiap hari sekolah memikul bobot tas yang lebih berat, buruk dampaknya pada postur tubuh anak.

BUKAN pemandangan langka melihat anak-anak sekolah sekarang demikian berat menempuh hari sekolahnya. Pagi hari belum cukup waktu tidurnya sudah duduk di mobil jemputan. Belum sempat sarapan, masih mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai, dan turun dari mobil membopong tas yang tak sebanding dengan bobot tubuhnya.

 

Serba tidak ergonomik

Bukan saja soal beban bobotnya tas sekolah yang anak bawa setiap hari sekolah, hal-hal sikap tubuh, cara duduk, serta posisi tubuh pada setiap kondisi sering menyalahi aturan  ergonomik. Sikap selama duduk di kelas, saat menulis, dan posisi serta cara bermain tidak memenuhi kaidah ergonomik. Itu yang berpotensi mengganggu pertumbuhan selain penyimpangan pada postur tubuh.

Duduk membungkuk, karena dibiasakan tanpa ada yang menegur, sama buruknya dengan menenteng tas maha berat pada sisi sebelah lengan. Posisi ruas tulang belakang miring ke salah satu sisi (shifting), untuk waktu lama dan berulang, itu yang akan membentuk postur tubuh yang salah.

Hanya apabila sejak awal anak dibiasakan duduk, berdiri, berlari, dan melakukan segala jenis pekerjaannya dengan posisi tubuh yang benar saja, maka pertumbuhan tulang-belulang, termasuk ruas tulang belakang tidak menjadi salah, atau berubah patologis. Kita mendidik anak ke arah yang seperti itu.

Demikian pula halnya dalam membawa tas sekolahnya. Seberapa bisa diperingan saja, membawa buku seperlunya, memilah mana yang perlu dibawa dan mana yang boleh ditinggalkan.

Pihak sekolah juga perlu kebijakan yang mendukung untuk tidak selalu harus membawa semua buku yang belum tentu diperlukan setiap hari. Sebagian buku bisa dititipkan di lemari buku sekolah seperti zaman dulu.

 

Memilih tas punggung

Sejarah tas punggung dahulu muncul di Jepang. Tas jenis ini sengaja diciptakan di Jepang agar anak-anak selama di perjalanan kedua lengannya masih bebas memegang buku bacaan. Anak masih sempat membaca buku di atas bus sekolah atau saat menunggu jemputan,  atau kapan saja berada di luar rumah. Namun bahwa tas punggung juga menambah beban pikulan pada tubuh anak, tidak bisa kita sangkal. Tubuh anak yang masih bertumbuh, termasuk ruas tulang belakangnya, mengalami hambatan dengan menambahkan beban pikulan tubuh oleh tas punggung yang disandangnya.

Dalam menggendong tas punggung, posisi tubuh anak hendaknya tetap tegap dan tidak membungkuk agar kondisi lengkung tulang belakang tidak sampai berubah. Ada beberapa lengkung tulang belakang yang harus dijaga dan dipertahankan derajat kelengkungannya demi terpeliharanya postur tubuh yang normal. Hanya apabila lengkung tulang leher dan tulang pinggang terpelihara, maka bobot tubuh akan bertumpu pada titik sumbu tulang belakang yang tepat. Terjadinya perubahan lengkung tulang belakang selain mengubah penampilan, beban yang dipikul tulang belakang akan menimbulkan gangguan pinggang, dan punggung.

Tulang belakang yang terhambat proses bertumbuhnya ketika usia masih kanak-kanak, tidak akan berkembang normal. Maka kegiatan mengangkat beban barbel, atau  angkat berat, akan berakibat menghambat peninggian tubuh anak. Konsekuensi yang dipikul para atlet angkat berat, tinggi badannya menjadi di bawah rata-rata.

Apabila bobot tas sekolah dipikul atau dibawa dengan cara yang keliru, baik di punggung anak maupun ditenteng di sisi sebelah tubuh, sama buruknya terhadap pertumbuhan tulang belakang anak. Maka seberapa bisa beban itu dikurangi, dan ajarkan anak mengangkat tas sekolah secara seimbang. Tas punggung paling ideal selama dibopong dengan posisi tubuh tegap.

 

Memanfaatkan teknologi multimedia

Di hampir kebanyakan negara maju, barang tentu yang sudah mampu, anak sekolah memanfaatkan teknologi multimedia. Sekarang anak sekolah tak perlu membawa buku tulis maupun buku ajar lagi, karena keduanya sudah bisa terangkum dalam sebuah laptop tablet. Materi buku ajar sudah dimasukkan ke dalam tablet, begitu juga buku catatan, dan semua bahan ajar yang diperoleh dari kelas. Ringkasnya, cukup dengan sebuah perangkat tablet.

Tentu sekolah perlu mendukung dengan kebijakan baru di kalangan sekolah yang anak didiknya sudah mampu memiliki komputer jinjing model tablet. Bagi yang belum memungkinkan memilikinya, tetap saja kebijakan membatasi buku yang perlu dibawa, juga sikap pemerintah tidak membiarkan kurikulum nasional tetap gemuk.

Sangat penting bagaimana anak dimampukan memakai otaknya,bukan mengisinya dengan yang belum tentu mereka perlukan. Kesuksesan anak juga karena kemampuan anak kelak memakai isi kepalanya, bukan seberapa besar muatan yang diisi ke dalam kepalanya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait