Tips P3K Cedera Ringan

Dalam keseharian kita, sangat sulit untuk luput terluput dari kejadian tercedera, ringan maupun berat. Apalagi tindakan mendahulukan keamanan (safety first) di Indonesia masih kurang. Di mana-mana ada resiko terpeleset, terjatuh, atau terantuk. Tidak selalu bantuan pihak medis kita perlukan, adakalanya dapat kita lakukan sendiri. Apa saja yang perlu kita kuasai?

BANYAK kasus kecelakaan di sini yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Sebagian besar karena kondisi lingkungan yang kurang melindungi. Selebihnya seringkali lantaran kelalaian kita sendiri. Lantai licin, undakan tangga tak kelihatan, kurangnya rambu-rambu pengaman di tempat publik. Kita sendiri yang mesti lebih waspada. Meski begitu, cedera tak selalu terelakkan.

Handle with care
Sejak kecil anak sudah dibiasakan untuk mengerjakan apa pun dengan amat berhati-hati, seperti bagaimana cara yang aman menaruh gelas dan barang pecah belah. Terlatih melakukan sesuatu dengan benda tajam, mengerat, memotong, membelah, dan pekerjaan rumah lainnya. Kecelakaan bisa terjadi hanya karena tidak terbiasa berwaspada melakukan sesuatu, terutama yang beresiko mencederai diri sendiri.

Lain dari itu, tentu pendidikan safety first juga tidak boleh dilupakan. Banyak hal tak terduga bagi anak justru menjadi kondisi yang membahayakan, termasuk perlunya bekal tips bagaimana menyeberang jalan raya, bagaimana waspada selama berada di jalan dan tempat umum.Melatih anak selalu waspada di mana pun dapat mencegah kejadian yang membahayakan maupun mencelakakan dirinya sendiri. Dengan demikian kemungkinan tercederai menjadi lebih minimal. Tugas orangtua juga untuk membekali anak dengan melatihnya membiasakan berwaspada, sehingga kejadian tercederai yang sebetulnya tidak perlu, bisa dicegah.

Luka memar
Apa pun yang mencederai tubuh oleh benda tumpul keras, apakah terjatuh, terbentur, terantuk, terjeduk, akan menimbulkan luka memar. Terlebih pada bagian tubuh yang dekat dengan tulang. Memar bisa terjadi di bagian kulit tubuh mana saja.Memar berarti ada bagian pembuluh darah di bawah kulit yang rusak akibat tumbukan, sehingga darah merembas ke jaringan, dan menimbulkan warna kulit berubah kebiruan, tanpa adanya luka terbuka. Dibiarkan pun luka memar akan menyembuh sendirinya. Bekuan darah di bawah kulit akan diserap oleh tubuh. Namun mengompres dingin akan membantu mempercepat pemulihan. Secara komstetis, luka memar dikeluhkan tak sedap dipandang. Maka ada jenis obat oles yang mempercepat penyerapan bekuan darahnya.Luka memar tentu juga menimbulkan keluhan nyeri setempat. Rasa nyeri yang tidak tertahankan atau tidak nyaman perlu dibantu dengan obat analgetik yang bisa dibeli bebas di warung. Selama bisa tanpa minum obat, sebaiknya tak perlu mengkonsumsinya.

Luka terbuka
Walaupun oleh benda tumpul keras, bisa saja cedera yang ditimbulkannya berujung luka terbuka. Tumbukan keras pada permukaan kulit yang dekat dengan tulang, memunculkan luka terbuka, dan darah mengalir keluar. Ada bagian kulit yang pecah, robek, atau terbelah. Luka terbuka memerlukan perawatan agar lekas menyembuh, selain tidak terinfeksi.Penyembuhan luka terbuka diupayakan agar menyembuh secara primer. Artinya, sembuh sempurna tanpa terjadinya infeksi pada luka. Untuk itu, prinsip perawatan luka terbuka harus memenuhi persayaratan higienis dan asepsis. Luka perlu dirawat secara steril. Mulai dari pembersihan lukanya dengan cairan steril, dan penutup luka yang terpilih. Kalau perlu, sebaiknya bersihkan dengan sabun lunak pada luka yang kotor, atau luka digigit hewan. Lalu disterilkan dengan bahan antisepsis (alkohol 70%), dengan tujuan agar luka terbuka tidak tercemar bibit penyakit, termasuk kuman tetanus. Jenis luka dalam memerlukan pembersih larutan peroksida yang bisa dibeli bebas di apotek.

Hanya apabila luka terbuka dirawat secara aspesis maka luka mendapatkan kesempatan untuk menyembuh sempurna (primer) tanpa memberi peluang masuknya bibit penyakit. Dalam hitungan beberapa hari luka akan merapat tanpa bengkak, tanpa meradang, tanpa nyeri.Tak cukup hanya perawatan luka secara steril belaka. Selama luka dalam proses menyembuh, diupayakan agar tidak kemasukan bibit penyakit dari luar. Maka selain luka perlu tertutup, jangan pula tercemar oleh air dari luar. Kita tahu air mandi sekalipun belum tentu steril. Sekali luka terkena air, proses penyembuhan luka akan terhambat, dan berujung infeksi.Luka yang dalam penyembuhannya terinfeksi atau penyembuhan sekunder, tidak akan sembuh sempurna. Penyembuhan sekunder menyisakan bekas luka (parut) akibat tumbuhnya infeksi tumpangan pada luka. Luka akan basah, bernanah, bengkak, merah, dan masih terasa nyeri.

Hal lain, kita perlu memperhatikan penutupan luka. Luka terbuka tidak boleh ditutup kelewat rapat. Penutup luka yang ideal masih ada ventilasi agar udara masih bebas menyentuh luka. Penyembuhan luka juga membutuhkan udara luar. Maka luka, terlebih yang dicurigai tetanus, sebaiknya tidak ditutup terlalu rapat atau perlu memilih penutup luka yang berpori.Sewaktu menutup luka yang lebar, upayakan agar kulit yang terbelah dirapatkan sehingga memberikan kesempatan kepada jaringan buat menyatu rapat kembali. Setelah luka disterilkan, pilih penutup luka (plester). Sekarang banyak jenis yang khusus yang mampu lebih kuat merapatkan luka, sehingga dalam kondisi amat rapat. Selama luka terbuka tidak terlalu lebar, plester jenis ini dapat menggantikan penjahitan luka.

Luka umumnya akan mengering setelah seminggu, dan penutup luka boleh dibuka dengan catatan tidak terasa nyeri, bengkak, atau bernanah sebelumnya. Namun apabila dalam beberapa hari luka tetap masih nyeri, menjadi bengkak, dan bernanah, penutup luka harus dibuka, dan diberikan obat atiobotika, selain perlu minum antibiotika juga untuk menyelesaikan infeksi pada lukanya.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait