Asik Membatik

Menjelaskan seputar seluk-beluk batik akan menumbuhkan kecintaan anak terhadap karya seni asli Indonesia.

Batik memang budaya tradisional namun bukan berarti batik tidak cocok dengan anak Anda. Teknik membuat batik sebetulnya cukup mengasikkan dan menantang imajinasi anak melalui proses pembuatan motif dan mewarnainya. Bisa dibilang, membatik sebetulnya menggambar di atas kain dengan “cat” dan “kuas” yang tidak biasa.

Batik merujuk pada teknik pewarnaan yang dihasilkan oleh bahan malam (wax) yang diaplikasikan ke atas kain menggunakan canting untuk menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau bisa disebut wax-resist dyeing. Kini, batik tidak hanya menjadi konsumsi orang dewasa. Remaja bahkan anak-anak bisa menggunakan batik sebagai busana sehari-hari. Batik sudah dikemas ke dalam bentuk dan corak yang lebih moderen, trendy, dan bervariasi. Karena itu, kesempatan anak untuk menyukai produk batik semakin besar. Selain itu, batik dekat dengan keseharian sehingga lebih mudah mendekatkan batik kepada anak.

Ketika Anda ingin mengenalkan kegiatan membatik kepada anak, pastikan anak sudah bisa memperhitungkan risiko karena malam yang digunakan sebagai media membatik harus selalu dalam keadaan panas. Selain itu, pembelajaran akan lebih berarti jika anak diberi pemahaman seputar keterkaitan batik dengan pelestarian budaya. Usia sekolah yakni 6 tahun ke atas dianggap paling pas untuk mulai mengenalkan anak pada batik. Selain sudah bisa mengantisipasi risiko, pengetahuan terhadap warisan budaya bisa menjadi tambahan pengetahuan yang bisa menunjang pelajaran di sekolah.

Kesabaran, ketekunan, dan kreativitas anak terasah dengan memelajari teknik membatik. Jika kecintaan Anda memakai scarf batik sudah terhitung sebagai bentuk apresiasi maka kegiatan membatik si kecil adalah bentuk pelestarian budaya yang luar biasa.

Tanamkan kecintaan
Tanpa pendekatan khusus, sulit mengajak anak menekuni kegiatan membatik. Meminta dia duduk tenang dalam waktu cukup lama dan membutuhkan konsentrasi, bukan hal mudah. Anda perlu menyiapkan strategi agar anak tertarik dan menikmati proses membatik. “Akan lebih mudah jika anak memang hobi menggambar. Katakan bahwa ia bisa menggambar apa saja yang ia suka dia atas kain,” kata Ema yang juga berprofesi sebagai guru melukis. Canting, malam, dan kain mori akan menambah ketertarikan anak karena ia bisa menggambar dengan media yang berbeda. Biarkan anak tetap menggambar binatang favorit hingga tokoh kartun pujaannya saat belajar membatik. Ketika aktivitas “menggambar” sudah selesai, libatkan anak dalam proses selanjutnya, yakni pencelupan warna dan proses pelarutan malam. Setelah itu, “sulap” hasil karya anak menjadi benda yang bisa ia pakai sehari-hari, misalnya saputangan, kain pembungkus kotak pensil, atau untuk hiasan dinding setelah diberi bingkai. Untuk anak yang lebih dewasa, ketertarikan bisa dibangkitkan melalui sedikit penjelasan terkait seluk-beluk batik.

Pertama kali belajar, waktu satu jam sudah cukup. Lebih dari itu, anak bisa merasa bosan, kecuali ia memang menikmati kegiatan membatik. Selanjutnya, Anda perlu melihat ketertarikan anak. Jika ia ingin terus belajar, dukung minatnya serta segera beri fasilitas. Kegiatan membatik juga akan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama antara orang tua dan anak. Pada akhir pekan, sesekali ajak anak berkunjung ke sentra pembuatan atau penjualan batik, dan museum yang bisa membuat ia semakin dekat dan paham tentang batik.

(PT. Nestlé Indonesia bekerjasama dengan Majalah Parents Indonesia )

Share artikel ini:

Artikel Terkait