Membantu Si Kecil Atasi Bullying

Membantu Si Kecil Atasi Bullying

Dari livechat kita beberapa waktu lalu tentang bullying, banyak pertanyaan atau cerita dari para Ibu tentang si Kecil-si Kecilnya yang menjadi korban bullying. Tentu tidak mudah bagi kita, seorang Ibu, mendengar buah hati kita disakiti. Tetapi, emosi yang berlebihan dari kita tidak akan membuat masalah si Kecil menjadi lebih ringan. Ibu tetap perlu berusaha fokus pada emosi si Kecil. Berikut beberapa langkah yang dapat Ibu lakukan, khususnya dalam menjalin komunikasi yang terbuka ketika si Kecil menjadi korban.

  • Pahami bahwa tidak mudah bagi si Kecil untuk bercerita atau melaporkan tentang perlakuan bullying yang ia terima. Korban biasanya merasa takut karena diancam pelaku, takut disalahkan atau merasa yakin tidak ada yang bisa bantu.
  • Lebih banyak mendengarkan si Kecil dengan penuh perhatian. Duduk di sampingnya dan jaga kontak mata dengan si Kecil. Dengarkan seluruh cerita si Kecil tanpa menyela.
  • Tunjukkan bahwa kita paham apa yang ia rasakan dan berterimakasihlah pada si Kecil karena dia sudah mau bercerita. Lalu, yakinkan si Kecil bahwa dia aman dan banyak yang bisa membantu dia.
  • Diskusikan dengan si Kecil apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying yang ia hadapi. Ibu dapat menawarkan bantuan apa yang si Kecil harapkan dari Ibu.
  • Jalin komunikasi dan kerjasama dengan pihak sekolah untuk atasi masalah bullying ini.

Membantu si Kecil mengatasi bullying sebenarnya tidak hanya berkisar ketika si Kecil menjadi korban, tapi juga bagaimana si Kecil-si Kecil kita tidak menjadi pelaku dan saksi yang tidap peduli. Menurut Signe Whitson dalam bukunya 8 Keys to End Bullying (2014), ada beberapa poin penting yang perlu diterapkan di rumah untuk membantu si Kecil untuk mengatasi dan sekaligus mencegah terlibat dalam bullying. Berikut beberapa poin tersebut, antara lain:

  1. Manajemen emosi
    Baik si Kecil yang melakukan bully maupun sebagai korban, mereka cenderung memiliki kesulitan untuk mengekspresikan emosi dengan tepat. Yang satu mengekspresikan secara berlebihan sehingga menekan/menyakiti yang lainnya. Sedangkan yang satu lagi, kesulitan untuk mengekspresikan emosinya sehingga menekan terus perasaannya sehingga yang timbul adalah kecemasan atau perasaan tertekan. Ibu bisa bantu si Kecil mengolah emosinya dengan baik, yaitu dengan cara memberikan kesempatan si Kecil untuk mengekspresikan emosinya, bukan mematikan melainkan mengajarkan cara ekspresi yang tepat dan bagaimana mengendalikannya. Bisa dimulai dengan membahasakan emosi yang si Kecil rasakan sehingga si Kecil kenal nama dari emosinya “Kamu sedang senang/marah ya?” Lalu ajarkan untuk mengekspresikan emosinya lewat kata “Kalau sedang marah, katakan saja ‘marah’ tidak perlu pukul-pukul...” Jangan si Kecil untuk marah atau menangis, karena nanti dia akan bingung bagaimana mengendalikan emosinya, lebih baik katakan “Kalau mau menangis, kamu bisa masuk kamarmu dulu sebentar”
  2. Kembangkan empati.
    Si Kecil masih sulit untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain atau merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh orang lain dari perilakunya. Oleh karena itu, empati si Kecil perlu diasah sedini mungkin. Caranya? Perlakukan si Kecil secara empatik. Kenali, pahami dan hargai perasaannya sehingga si Kecil juga akan berbalik memperlakukan orang lain dengan penuh empati. Misalnya saat dia terlihat kedinginan, Ibu dapat memeluknya dengan mengatakan “Kamu kedinginan ya, sini Ibu peluk” atau saat melihat ada si Kecil kucing kebingungan mencari induknya, Ibu dapat membahas dengan si Kecil bagaimana kiranya yang dirasakan si Kecil kucing tersebut.
  3. Penyelesaian konflik.
    Si Kecil perlu diajarkan dan juga dicontohkan bagaimana menyelesaikan masalah tanpa kekerasan atau menyakiti orang lain. Misalnya bantu si Kecil menyelesaikan konflik saat berebutan mainan dengan adik atau temannya. Berikan kesempatan masing-masing untuk bercerita dan ajak mereka untuk  menentukan solusinya, misalnya bermain bergantian dengan batasan waktu masing-masing.
  4. Bersikap asertif.
    Korban bully mengalami ketidakmampuan untuk mengungkapkan rasa tidak sukanya atas perlakuan yang ia terima. Ibu dapat membiasakan si Kecil untuk bersikap asertif dengan cara membiasakan menanyakan pendapat si Kecil tentang sesuatu, misalnya menanyakan pendapat si Kecil tentang tujuan rekreasi di akhir pekan. Ibu juga menghindari mengharuskan si Kecil menurut saja tanpa diberi kesempatan untuk berdebat atau bernegosiasi tentang suatu aturan.
  5. Membangun pertemanan.
    Bantu si Kecil memilih teman yang baik dan bagaimana berinteraksi dengan teman tanpa menyakiti teman atau tersakiti oleh teman. Prinsipnya si Kecil boleh berteman dengan siapapun tapi tidak semua perlakuan temannya harus ia terima. Misalnya, si Kecil bisa menolak bermain dengan seorang teman karena suka memukul, tapi si Kecil boleh kembali bermain lagi jika temannya tadi sudah berubah. Untuk memudahkan mengawasi pertemanan si Kecil, Ibu dapat membuat si Kecil dan teman-temannya betah main di rumah Ibu.

Demikian Ibu pembahasan kali ini. Semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak sempat dijawab di livechat yang lalu ya...:)

Share artikel ini:

Artikel Terkait