Haruskah Kita Sama Untuk Menjadi Sepasang?

Ada yang unik dari hasil wawancara sebuah majalah di Ibu kota terhadap pemenang keluarga harmonis yang diadakan oleh salah satu departemen kementerian. Ketika ditanya rahasia di balik kesuksesannya mempertahankan keharmonisan, ternyata resepnya sudah kita ketahui.

Bedanya, sebagian kita hanya mengetahui tapi tidak menjalankan. Sementara, keluarga ini mengetahui dan menjalankan. Resepnya adalah saling mengalah dan saling memenangkan! Apa ada orang yang tidak mengetahui resep itu?

Sebagian besar pasti sudah tahu. Tapi, untuk menjalankannya, memang butuh perjuangan. Di lihat dari teori komunikasinya, saling mengalah dan saling memenangkan adalah bentuk toleransi yang paling tinggi.

Sebagai proses pembelajaran bersama, toleransi itu bisa kita peroleh melalui sekian perjuangan, yang antara lain adalah:

Dahulukan Melihat Latar Belakang Sebelum Memberikan Penilaian.  Kita bisa berbeda dengan pasangan dari hal-hal kecil, misalnya cara makan, berpakaian, dan mengatur rumah. Jika kita langsung menghakimi, lama kelamaan yang kelihatan dari pasangan adalah kesalahannya.  Kalau sudah begini, komunikasi menjadi cepat panas. Lebih baik kita selidik dulu apa yang melatar belakanginya sebelum menilai. Ini adalah cara untuk bisa memahami pasangan.
 
Butuh keberanian jiwa. Banyak yang gagal memahami pasangan karena ketakutan dan kekerdilan. ”Kenapa saya terus yang memahami dia? Dia juga harus memahami saya juga? Nanti lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan.”  Seringkali, cara mengubah pasangan bukan mendikte dia supaya berubah. Ini malah mengundang penolakan. Caranya adalah dengan menjadi sumber cahaya bagi perubahannya. Dia berubah setelah merasakan perubahan pada kita. Ini butuh keberanian dan pengorbanan.

Mengkomunikasikannya dengan berdialog dan bertanya secara konstruktif.  Berterus terang mengenai ketidaksetujuan kita dapat membuahkan kebaikan, tapi juga bisa sebaliknya. Ini sebagian besar tergantung caranya. Cara yang aman adalah berdialog, bukan mengajak debat. Atau mengajukan pertanyaan yang membuat pasangan merasa dihormati dengan pikirannya. Setelah komunikasi mencair, bolehlah kita mengutarakan apa yang kita rasakan.

Hindari menonjolkan ego pribadi. Banyak orang yang menginginkan pasangannya berubah, tapi alasan dan tujuannya sarat dengan kepentingan pribadi (ego). Namanya ego pasti akan dihadang oleh ego sehingga tabrakan. Supaya selamat, kita perlu menonjolkan nilai-nilai, ajaran, atau kepentingan bersama.

Kreatif menemukan solusi ketiga. Kita ingin A, tapi pasangan kita ingin B. Kalau ini dipaksakan bersama, hasilnya tabrakan. Untuk menghindarinya, kita bisa mengajukan ide kreatif yang bisa mengakomodasi keinginan bersama.

Kita pasti sudah tahu bahwa masalah dalam keluarga itu munculnya bukan saat pacaran, melainkan saat kita berjuang mempertahankan keutuhannya. Keutuhan itu tak menuntut kita harus sama, melainkan menuntut kita bergandengan  dalam mengarungi dinamika. Semoga bermanfaat

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait