Jika Liburan Tidak Sesuai Harapan

Pernahkan kita mengalami kekecewaan yang sifatnya sudah benar-benar menusuk hati? Misalnya liburan yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari, kita bayangkan seperti apa serunya, tiba-tiba kenyataannya berubah 180 derajat. Padahal, satu-satunya kesempatan kita dalam satu tahun hanya itu. Seperti apa itu kita hadapi secara positif, emotionally, intellectually, dan spiritually?

Wah, kenapa jadi membicarakan hal yang berat-berat, padahal masalahnya soal liburan? Ooo. . , bukan. Melatih penggunaan Emosi Kedua sebetulnya adalah kemampuan yang setiap saat terkait dengan hal-hal yang kita hadapi dalam praktek hidup, dari mulai yang kecil-kecil sampai yang besar. Dan kemudian sering dikenal dengan istilah seperti EQ, SQ, atau IQ.

Kembali ke soal Emosi Kedua, bagaimana ia bekerja? Contohnya, ketika tiba-tiba rencana kita mendapatkan pertentangan dari realitas yang berubah secara drastis, kira-kira luapan emosi yang akan muncul adalah luapan negatif. Misalnya saja kecewa, jengkel, marah, kesal, dan seterusnya. Menurut teorinya, luapan emosi yang kita munculkan sebagai reaksi atas kenyataan yang di luar harapan, itu disebutnya Emosi Pertama.

Emosi Pertama ini sifatnya tidak bisa (sulit) dihindari, sangat manusiawi, dan umumnya tidak membahayakan. Lalu apa yang membahayakan? Yang membahayakan adalah ketika kita membiarkan reaksi Emosi Pertama itu ke tingkat yang semakin dalam, semakin besar atau semakin tinggi skalanya. Praktek itulah yang disebut Emosi Kedua.

Emosi Kedua ini sifatnya pilihan kita sendiri, entah secara sadar atau tanpa sadar. Emosi Kedua sendiri bisa membahayakan dan bisa membahagiakan, tergantung yang kita pilih. Kekecewaan kita atas kegagalan, bisa menjadi kekecewaan yang merusak sistem emosi, apabila itu kita biarkan atau kita perbesar. Tetapi, akan menjadi dorongan yang bagus untuk meraih yang lebih bagus, jika kekecewaan itu kita hentikan dengan cara menciptakan Emosi Kedua yang baru, lebih positif, lebih mencerahkan. Teknik mental yang ringan ini bisa diaplikasikan saat kita menghadapi berbagai realitas yang bertentangan dengan harapan. Dalam ajaran spiritual, seseorang diajari untuk memahami kenyataan buruk yang dialaminya sebagai blessing in disguise dengan mendatangkan Emosi Kedua yang positif.

Bahkan kita juga diajarkan untuk mensyukuri suatu musibah. Bukan musibahnya yang disyukuri, tetapi teknik untuk mencerahkan batin ketika menghadapi realitas buruk. Mensyukuri kegagalan artinya kita menciptakan pemahaman bahwa seandainya rencana kita tidak digagalkan realitas, mungkin akan ada musibah yang lebih besar lagi.

Dengan begitu, batin kita tetap cerah meskipun realitas yang kita hadapi gelap. Batin yang cerah adalah syarat mutlak untuk mengubah realitas hidup kita menjadi semakin cerah. Karena itu, ada pesan yang diwasiatkan orang bijak, bunyinya begini: “Jika kamu mengubah dunia di dalam batinmu, maka Tuhan akan mengubah realitas di luar dirimu.” Mari kita buktikan!

Share artikel ini:

Artikel Terkait