Kenali Asal Usul Hari Perempuan Internasional

Di bulan Maret ini, tepatnya tanggal 8, perempuan di seluruh dunia merayakan hari spesial. Hari ini dirayakan sebagai pencapaian perempuan menuju kesetaraan tanpa melihat perbedaan nasionalisme, etnik, bahasa, budaya, status ekonomi hingga politik. 

Ide hari perempuan pertama kali muncul sekitar tahun 1909 di Amerika Serikat, New York. Menyikapi para pekerja garmen perempuan yang memprotes kondisi kerja tidak layak dan mendapat perlakuan yang berbeda ketimbang pekerja laki-laki di tahun 1908. Baru setahun kemudian di Copenhagen, hari perempuan yang sebenarnya diresmikan sebagai suatu gerakan untuk mendukung hak perempuan berkat ide yang dicetuskan oleh Clara Zetkin, aktivis asal Jerman. Konferensi pun diadakan dengan menghadirkan 100 tokoh perempuan dari 17 negara seperti yang dikutip dari situs Perserikatan Bangsa Bangsa.

Aktivitas ini terus hangat sepanjang tahun 1827 hingga 1910, seperti pada tahun 1911 di beberapa negara di Eropa, perempuan bisa ikut memberikan suara dalam pemilihan, kesetaraan bekerja di kantor, mengikuti pelatihan hingga mengakhiri diskriminasi. Bahkan di tahun 1913-1914, hari perempuan menjadi salah satu mekanisme dalam memprotes perang dunia pertama. Para perempuan Russia memprotes adanya perang dunia dengan melakukan demo solidaritas.

Isu hari perempuan internasional tak lagi diberitakan setelah tahun 1917 dan tak tercatat lagi dalam sejarah. Baru di tahun 1975, hari perempuan internasional dirayakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di tanggal 8 Maret. Seiring berjalannya waktu, isu ketidakadilan terhadap perempuan semakin terangkat, seperti studi PBB tahun 2014 yang menunjukkan bahwa 1 dari 3 wanita di seluruh dunia pernah menjadi korban kejahatan atau pelecehan seksual dan pelaku hanya dibiarkan saja atau mendapat hukuman ringan.

Untuk masalah penghasilan pun, masih banyak laporan dari berbagai negara bahwa angka yang diperoleh perempuan selalu lebih rendah ketimbang pria meskipun tingkat kerja dan profesinya sama menurut World Economic Forum’s Gender Gap Report. Di sinilah peran hari perempuan internasional memiliki pengaruh untuk mengangkat perempuan yang mendapat perlakuan tidak adil. Dengan adanya lembaga-lembaga yang dapat menampung aspirasi perempuan dimanapun mereka berada, termasuk para Ibu.

Para tokoh terkemuka pun menilai aktifitas ibu pun bukan sesuatu yang boleh diremehkan, seperti mengurus rumah, membesarkan anak, memasak hingga bersih-bersih. Peran perempuan harus tetap disetarakan meskipun lelaki menjadi kepala keluarga dan isu KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) pun menjadi salah satu sorotan.

Merayakan hari perempuan internasional pun kini semakin mudah tanpa harus melakukan demonstrasi atau long march. Bisa dimulai dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar ya, bu. Misalnya tidak menyindir perempuan lain dengan lelucon yang belum tentu lucu bagi orang lain untuk mencegah perseteruan. Jangan pula menilai perempuan lain jika tidak mengenal baik atau mengetahui kondisi sebenarnya. Jika ada perempuan lain yang dilecehkan atau terancam, segeralah bantu mereka. Yang terpenting adalah menjaga respek atau rasa hormat sesama perempuan ya, bu. Ingat selalu, perlakukanlah orang lain selayaknya ibu ingin diperlakukan.

Di bulan Maret ini, tepatnya tanggal 8, perempuan di seluruh dunia merayakan hari spesial. Hari ini dirayakan sebagai pencapaian perempuan menuju kesetaraan tanpa melihat perbedaan nasionalisme, etnik, bahasa, budaya, status ekonomi hingga politik. 

Ide hari perempuan pertamakali muncul sekitar tahun 1909 di Amerika Serikat, New York. Menyikapi para pekerja garmen perempuan yang memprotes kondisi kerja tidak layak dan mendapat perlakuan yang berbeda ketimbang pekerja laki-laki di tahun 1908. Baru setahun kemudian di Copenhagen, hari perempuan yang sebenarnya diresmikan sebagai suatu gerakan untuk mendukung hak perempuan berkat ide yang dicetuskan oleh Clara Zetkin, aktivis asal Jerman. Konferensi pun diadakan dengan menghadirkan 100 tokoh perempuan dari 17 negara seperti yang dikutip dari situs Perserikatan Bangsa Bangsa.

Aktivitas ini terus hangat sepanjang tahun 1827 hingga 1910 seperti pada tahun 1911 di beberapa negara di Eropa, perempuan bisa ikut memberikan suara dalam pemilihan, kesetaraan bekerja di kantor, mengikuti pelatihan hingga mengakhiri diskriminasi. Bahkan di tahun 1913-1914, hari perempuan menjadi salah satu mekanisme dalam memprotes perang dunia pertama. Para perempuan Russia memprotes adanya perang dunia dengan melakukan demo solidaritas.

Isu hari perempuan internasional tak lagi diberitakan setelah tahun 1917 dan tak tercatat lagi dalam sejarah. Baru di tahun 1975, hari perempuan internasional dirayakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di tanggal 8 Maret. Seiring berjalannya waktu, isu ketidakadilan terhadap perempuan semakin terangkat, seperti studi PBB tahun 2014 yang menunjukkan bahwa 1 dari 3 wanita di seluruh dunia pernah menjadi korban kejahatan atau pelecehan seksual dan pelaku hanya dibiarkan saja atau mendapat hukuman ringan.

Untuk masalah penghasilan pun, masih banyak laporan dari berbagai negara bahwa angka yang diperoleh perempuan selalu lebih rendah ketimbang pria meskipun tingkat kerja dan profesinya sama menurut World Economic Forum’s Gender Gap Report. Di sinilah peran hari perempuan internasional memiliki pengaruh untuk mengangkat perempuan yang mendapat perlakuan tidak adil. Dengan adanya lembaga-lembaga yang dapat menampung aspirasi perempuan dimanapun mereka berada, termasuk para Ibu.

Para tokoh terkemuka pun menilai aktifitas ibu pun bukan sesuatu yang boleh diremehkan, seperti mengurus rumah, membesarkan anak, memasak hingga bersih-bersih. Peran perempuan harus tetap disetarakan meskipun lelaki menjadi kepala keluarga dan isu KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) pun menjadi salah satu sorotan.

Merayakan hari perempuan internasional pun kini semakin mudah tanpa harus melakukan demonstrasi atau long march. Bisa dimulai dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar ya, bu. Misalnya tidak menyindir perempuan lain dengan lelucon yang belum tentu lucu bagi orang lain untuk mencegah perseteruan. Jangan pula menilai perempuan lain jika tidak mengenal baik atau mengetahui kondisi sebenarnya. Jika ada perempuan lain yang dilecehkan atau terancam, segeralah bantu mereka. Yang terpenting adalah menjaga respek atau rasa hormat sesama perempuan ya, bu. Ingat selalu, perlakukanlah orang lain selayaknya ibu ingin diperlakukan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait