Kompetensi Kunci Menghadapi Kompetisi

Dalam prakteknya, masih banyak yang mengabaikan perbedaan antara kompetisi dan kongkurensi. Kalau melihat filosofinya, kompetisi adalah ajang yang menawarkan kesempatan untuk membuktikan seberapa hebat kita di bidang kita. Hidup ini kompetisi, persaingan global itu kompetisi, tempat kerja kita adalah kompetisi.

Lalu bagaimana dengan kongkurensi? Kongkurensi adalah praktek yang bertujuan untuk menjatuhkan, atau memukul mundur orang lain. Kalau kita bandingkan, di dalam kompetisi itu tidak ada kejahatan dan kecurangan. Tetapi di dalam kongkurensi, kejahatan itu nyata. Karena banyak orang yang menggunakan kongkurensi dalam kompetisinya, makanya ada istilah kompetisi kotor atau tidak sehat.

Tapi, dalam kompetisi, menurut Mohamad Ali, petinju legendaris, yang kita kalahkan adalah diri kita. Soal bahwa dalam kenyataannya ada orang lain yang harus kalah, itu biasa dalam pertandingan.

Mengalahkan diri di sini maksudnya adalah mengalahkan berbagai energi negatif di dalam diri yang membuat kita gagal menjadi orang yang unggul dalam kompetisi. Orang yang unggul inilah yang kita sebut dengan orang yang kompeten. Kompetensi adalah satu-satunya senjata untuk memenangkan kompetisi.

Dari pengalaman McClelland (Spencer, 1993), hanya kompetensi itulah yang bisa digunakan sebagai alat untuk memprediksikan apakah seseorang itu bisa memiliki kinerja yang bagus atau sebaliknya. Katanya, sertifikat akademik atau pengalaman kerja seringkali tidak bisa digunakan untu menyimpulkan apakah seseorang itu kompeten atau tidak. Banyak orang yang punya nilai akademik bagus tetapi di tempat kerja tidak bagus kinerjnya. Banyak orang punya pengalaman kerja dimana-mana tetapi kinerjanya biasa-biasa.

Pertanyaannya adalah, kompetensi apakah yang paling dibutuhkan untuk menghadapi persaingan global dewasa kini? Khusus di bidang karir, para pakar kompetensi sudah sering membicarakan hal ini. Untuk menegaskan apa yang sudah kita ketahui, di bawah ini adalah sejumlah jenis kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan global:

  1. Dorongan untuk meraih prestasi kerja ke tingkat yang lebih tinggi. Indikatornya adalah ketika kita mampu memunculkan inisiatif perbaikan atau perkembangan secara efektif, efisien, dan sejalan dengan nilai dan norma organisasi.
  2. Mengetahui keunggulan personal dan menggunakannya secara optimal. Keunggulan ini bisa berasal dari bakat bawaan atau keunggulan yang dihasilkan dari pemberdayaan.
  3. Memiliki mentalitas yag dibangun dari konsep-diri positif. Kongkritnya adalah memiliki kepercayaan-diri yang bagus atau ”pede”. Tidak semua orang yang tidak unggul itu disebabkan karena tidak mampu. Yang sering terjadi adalah karena tidak percaya diri.
  4. Mengetahui, memiliki, dan bisa menggunakan sumber informasi atau sumber pengetahuan yang relevan dengan kepentingannya.
  5. Meningkatkan skill. Skill di sini bisa berbentuk soft skill, seperti misalnya komunikasi, kerjasama dalam tim, tanggung jawab, dan lain-lain. Atau bisa juga berbentuk hard skill, seperti misalnya penguasaan komputer, penguasaan tehnik, atau keahlian profesional.

Jika kelima jenis kompetensi itu selalu kita tingkatkan skalanya, pasti kita akan memenangkan kompetisi di tingkat apapun, baik lokal, regional atau global. Sekali lagi, bukti kemenangan itu bukan dalam bentuk kita mampu mengalahkan orang asing yang bekerja di Indonesia, melainkan menjadi lebih jaya dengan diri kita. Dengan meningkatkan kompetensi, bukan hanya survival kita, melainkan kita bisa menjadi lebih hebat. Mudah-mudahan bisa kita jalankan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait