Krisis Global? Bagaimana Dengan Investasi Kita?

(Bekerja sama dengan Quantum Magna Financial)

Dalam dua bulan terakhir, semua media dipenuhi oleh berita kemungkinan datangnya krisis global. Lalu bagaimana dengan investasi kita?

Apapun yang terjadi, jangan panik. Biasanya panik itu disebabkan oleh ketidaktahuan atau ketidakmengertian akan sesuatu yang terjadi pada dunia sekeliling kita.

Mari kita bahas terlebih dahulu apa yang sebetulnya terjadi di dunia keuangan. Amerika Serikat sedang berhadapan dengan kehancuran besar-besaran di bidang keuangan. Akar permasalahan diawali dengan apa yang disebut Subprime Mortgage. Subprime Mortgage ini adalah KPR dengan bunga tinggi untuk orang-orang yang dinilai tidak layak mendapatkan pinjaman pada bunga normal. Sekitar 3 tahun yang lalu, para peminjam berisiko tinggi ini, kemudian gagal bayar. Kondisi semakin parah karena Subprime Mortgage ini disekuritisasi atau dijadikan surat berharga. Bank-bank besar juga menggunakan dana pinjaman untuk memperdagangkan surat berharga Subprime Mortgage ini. Maka gulungan utang tak terbayar pun membayangi institusi-institusi besar di Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara Asia.

Indonesia memiliki sedikit sekali "exposure" terhadap surat berharga Subprime Mortgage. Namun kita tetap terkena dampaknya. Padahal perekonomian Indonesia tidak dalam kondisi buruk. Anda tentu semakin bertanya-tanya. Apa yang sebetulnya terjadi?

Akibat krisis di negara asalnya, investor asing sangat membutuhkan dana kas. Maka mereka pun melepas investasi mereka di negara berkembang seperti Indonesia. Inilah mengapa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun drastis hingga di bawah level 1.500. Setelah itu, tentu investor asing ini membutuhkan USD, inilah mengapa Rupiah melemah.

Anda, krisis atau tidak krisis, kita tetap perlu berinvestasi. Ada banyak ”opportunity” yang dapat kita manfaatkan, apalagi saat harga-harga instrumen investasi melemah dalam kondisi perekonomian yang baik-baik saja.

Sebagai contohnya, harga saham perusahaan-perusahaan terbaik negeri kita sedang turun sangat tajam. Bahkan ada beberapa perusahaan yang harga sahamnya turun 50%-75%. Anda bisa mengibaratkan Bursa Efek Indonesia sebagai toko tas favorit Anda. Apakah Anda akan tergoda untuk belanja jika tas-tas dalam toko tersebut sedang SALE besar-besaran?

Jangan juga buru-buru belanja saham. Ayo perhatikan profil risiko Anda masing-masing.

(1) Profil Konservatif
Jika Anda memiliki profil konservatif, sebaiknya revisi Rencana Keuangan Anda. Cobalah untuk mencanangkan Tujuan Jangka Pendek di bawah 5 tahun saja. Inipun hanya menggunakan produk-produk investasi yang berisiko rendah dan memiliki hasil investasi rendah. Contohnya : Tabungan, Deposito, Reksadana Pasar Uang, Reksadana Terproteksi atau Emas / Logam Mulia.

(2) Profil Moderat
Untuk Anda dengan profil moderat, segeralah untuk memeriksa portofolio investasi. Jangan sampai ada investasi yang melebihi profil risiko Anda. Jangan lupa bahwa Anda tetap harus berinvestasi pada produk moderat dan agresif untuk jangka waktu panjang. Contohnya : Reksadana Campuran dan Reksadana Saham.

(3) Profil Agresif
Anda dengan profil Agresif biasanya sudah juga mengerti bahwa saat harga-harga turun, justru inilah saatnya belanja! Anda tentu tidak terganggu jika hasil investasi menunjukkan angka minus yang cukup besar. Contoh produk agresif diantaranya : Reksadana Saham atau pembelian Saham langsung.

Nah dengan cara ini, Anda tentu bisa mengerti mengapa Anda tidak perlu buru-buru menghindari risiko investasi. Ingatlah bahwa Anda perlu memfokuskan diri pada pencapaian tujuan finansial, bukan sekadar mengejar hasil investasi.

Investasi tetap harus kita lakukan pada kondisi ekonomi apapun!

Salam.

Share artikel ini:

Artikel Terkait