Ni Luh Putu Ary Pertami Menaklukkan Manca Negara Lewat Sepatu

Di saat serbuan berbagai produk luar negeri membanjiri Indonesia hingga nyaris menenggelamkan produk asli negeri ini, beberapa pengusaha lokal justru sukses memasarkan produknya ke berbagai negara. Salah satunya adalah Ni Luh Putu Ary Pertami. Produk sepatunya yang bermerek Nilou saat ini sudah dipasarkan di sekitar 20 negara di benua Eropa, Amerika, Australia, Selandia Baru, juga Asia.

Usaha pembuatan sepatu ini dimulai Ni Luh pada tahun 2004, setahun setelah ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai direktur pemasaran di sebuah perusahaan Amerika yang bergerak di bidang pakaian. “Usaha ini saya mulai dari kecintaan saya terhadap produk fashion, khususnya sepatu,” ujarnya tentang alasan memulai usahanya.

Ni Luh memulai langkahnya dengan membuat contoh model-model sepatu yang akan dipasarkan untuk musim berikutnya. Beberapa kendala diakui sempat dialami saat awal produksi, diantaranya keterbatasan persediaan material untuk aksesori penunjang yang berkualitas. “Selain itu perlu waktu dan kesabaran tinggi untuk membina para artis pembuat sepatu untuk membuat kreasi atau model yang mereka belum pernah kerjakan sebelumnya, dan menghasilkan produk akhir dengan kualitas yang bisa kita sejajarkan dengan produk berkualitas tinggi,” tambah Ni Luh yang produknya di Indonesia bisa didapatkan di AlunAlun, Grand Indonesia, dan Ddesigner, Pasaraya Grande, Jakarta.

Langkah awal merambah pasar internasional dimulai dengan membuka sebuah showroom di Bali pada tahun 2005. Melalui showroom tersebut, Ni Luh dan timnya menjaring para pelanggan dari mancanegara, baik para pemakai maupun pemilik butik yang akan menjual produk Nilou di negaranya masing-masing. Selain itu ia juga memiliki perwakilan penjualan atau distributor yang membantu mengembangkan pemasaran produknya di Prancis dan Australia.

Keberhasilan menjaring pelanggan barulah langkah awal dari kesuksesan merambah pasar internasional. Sebagai sebuah produk fashion, sepatu yang yang akan dijual harus dipersiapkan jauh hari sebelum produknya siap dijual secara retail pada butik pelanggan. Untuk setiap musim (season), perlu waktu sekitar delapan bulan, dari masa penjualan ke butik hingga produk bisa dinikmati oleh konsumen akhir, yaitu pemakai sepatu.

Dari pengalaman memasarkan produk ke luar negeri, Ni Luh menyebut kualitas sebagai faktor paling utama yang menentukan keberhasilan pemasaran produk. Caranya dengan mempergunakan material dengan kualitas terbaik, serta menjaga kualitas kerja dari para artis pembuat sepatu. Menurutnya, kualitas sepatu produksinya dapat terjaga karena semua dibuat di workshop milik sendiri, sehingga mudah mengontrol kualitas dan menjaga standar internasional yang sudah diterapkan sejak awal.

Cara memasarkan produk serta pemilihan segmen pelanggan juga disebut Ni Luh memegang peranan amat penting. Pengusaha sebaiknya menentukan segmen pelanggan dari awal, sehingga dapat mengkonsentrasikan usaha dan memaksimalkan kualitas dari produk yang djjual, sesuai dengan jenis pelanggan yang diinginkan. “Karena tingkat persaingan yang semakin ketat, para pelanggan tak akan memilih produk karena harga yang mereka anggap murah. Yang lebih penting, mereka merasa mengeluarkan uang yang pantas sesuai jenis barang dan pelayanan yang mereka peroleh,” ujarnya.

Menghadapi persaingan yang amat ketat di pasar internasional, terutama dengan merek-merek besar yang telah populer sebelumnya, strategi yang dilancarkan Ni Luh adalah melibatkan para pembeli sebagai bagian dari usahanya. Karena proses kelahiran Nilou dimulai dengan cinta dan proses produksinya pun benar-benar dilakukan dengan hati, ia sadar bahwa produknya hanya akan menyentuh pasar dan segmen tertentu.

Berdasarkan pengalamannya, Ni Luh berbagi kiat bagi para pengusaha Indonesia yang ingin meraih pasar global. Persyaratan utama adalah penguasaan bahasa dan jenis usaha, pengetahuan dibidang teknologi, serta kemampuan pemasaran yang sesuai dengan bidang usaha agar dapat memasarkan produk secara maksimal. Selain itu, sebaiknya juga membina hubungan dengan mencari wakil penjualan atau distributor di negara yang menjadi tujuan pemasaran produk. Hal tersebut dapat dilakukan baik melalui internet atau dengan membuka kantor perwakilan di negara sendiri.

Namun Ni Luh juga mengingatkan bahwa semua akan menjadi lebih bermakna dan bisa dinikmati bila kita menerapkan beberapa prinsip seperti mencintai apa yang kita lakukan, memperhatikan kesejahteraan dan kenyamanan bekerja, serta memberikan tanggung jawab sekaligus membangkitkan rasa memiliki yang tinggi di semua jenjang jabatan, sehingga setiap karyawan akan melakukan tugasnya dengan sepenuh dan penuh cinta. “Selain itu Anda juga dituntut tidak mudah putus asa dan menyerah karena kendala yang pasti akan dihadapi pdalam proses pengembangan usaha, memelihara hubungan baik dan kepercayaan yang telah diberikan oleh semua pihak yang menjadi bagian dari usaha kita, serta .tetap menjaga hubungan baik dengan pihak yang menjadi bagian dari kehidupan kita sebelum merintis usaha sendiri karena kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu kembali dengan mereka,” ulasnya.

Meski bisa dibilang berhasil menaklukkan pasar global, Ni Luh tak segera berpuas diri. Masih banyak yang ingin dilakukannya, di antaranya kembali mengembangkan lini utama yang menjadi dasar usahanya, yaitu memasarkan produk high end dengan brand Niluh Djelantik pada tahun 2008. “Merk ini kami pilih sesuai dengan filosofi kami bahwa Indonesia juga menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi dan dapat disejajarkan dengan produk dari negara luar yang telah identik sebagai pusat produksi produk fashion, khususnya sepatu. Sedangkan Nilou sendiri akan tetap kami pasarkan dan nantinya akan menjadi produk unggulan kami untuk segmentasi pasar yang lebih muda dan terjangkau,” ungkapnya tentang keinginannya. Yang jelas Ni Luh bertekat tetap menjalani usahanya dengan sepenuh hati, didampingi oleh para pelanggan yang telah setia menemaninya selama lima tahun terakhir.

Share artikel ini:

Artikel Terkait