Siapkan Pensiun dari Sekarang!

Muda foya-foya, tua kaya raya? Sayangnya, hidup tak semudah itu. Yang benar adalah muda terencana, tua sejahtera.

Angka harapan hidup penduduk Indonesia diperkirakan meningkat. Data dari Bappenas menunjukkan pada tahun 2025 usia rata-rata orang Indonesia dapat mencapai 73,7 tahun. Dengan angka harapan hidup wanita lebih tinggi dari pria. Hmm... sudah sepantasnya Anda matang dalam merencanakan merencanakan keuangan keluarga di masa depan. Semakin panjang usia Anda, semakin besar pula jumlah dana pensiun yang harus disiapkan. Anda harus siap mandiri secara finansial di masa senja meski tak lagi bekerja.

Pensiun = jatuh miskin?

Pensiun seringkali menakutkan bagi sebagian orang. Sudah kehilangan pekerjaan, kehilangan "kekuasaan", dan tentunya hilangnya penghasilan tetap. Gaya hidup pun harus diubah karena pemasukan uang menurun. Padahal tidak mutlak begitu. "Penurunan gaya hidup di masa pensiun biasanya terjadi karena dana pensiun yang disiapkan tidak dapat mencukupi biaya hidup sesuai keinginan," ujar Desy Widjaja, financial planner dari keluargacerdas.com. Jika Anda persiapkan masa pensiun dengan matang, pensiun bisa menjadi masa yang sangat menyenangkan. Selain waktu luang yang lebih banyak, uang pun bukan masalah.

Sebagai langkah pertama, ketahuilah berapa lama jangka waktu yang Anda miliki untuk mempersiapkan pensiun sesuai kebutuhan. Berapa usia Anda sekarang? Pada umur berapa Anda berencana pensiun? Usia pensiun seseorang berkisar antara 55-65 tahun, sebab pada usia tersebut seseorang dianggap sudah tak produktif lagi oleh perusahaan. Jika usia Anda sekarang 35 tahun, setidaknya masih tersisa 20-30 tahun lagi untuk berkarya dan menabung sebanyak mungkin. Semakin muda Anda memulai, semakin ringan "setoran" yang harus disisihkan untuk pos pensiun.

Apa yang dibutuhkan saat pensiun?

"Besaran dana pensiun sangat bergantung pada gaya hidup masing-masing individu," ungkap Desy. Untuk mengetahui seberapa besar dana yang Anda butuhkan kelak, buatlah rincian biaya hidup Anda saat ini. "Pos-pos pengeluaran rutin seperti sandang, pangan, kebutuhan rumah tangga, hiburan, olahraga, kesehatan, akan tetap dibutuhkan ketika pensiun nanti," tutur Desy. Hanya saja mungkin jumlahnya ada yang berkurang, bertambah, atau bahkan hilang saat pensiun nanti.

Pengeluaran yang lumayan besar untuk cicilan rumah dan kendaraan cenderung tidak perlu dipikirkan lagi saat pensiun nanti. Dengan jangka waktu pelunasan KPR 15-20 tahun, jika Anda mulai membeli rumah di usia 30, artinya masih sempat melunasi pinjaman sebelum pensiun. Hal yang sama dapat berlaku untuk cicilan kendaraan. Terlebih jangka waktu pelunasan kredit kendaraan relatif lebih singkat. Biaya lain yang tak perlu dipikirkan adalah uang saku dan pendidikan anak, jika Anda pensiun di usia 55-65 tahun. "Di usia tersebut lazimnya anak telah dewasa dan mandiri sehingga tidak lagi memerlukan tunjangan biaya hidup maupun biaya pendidikan dari orang tua," jelas ibu dari seorang putra ini.

Nah, cerita menjadi berbeda ketika Anda memutuskan untuk pensiun dini. Beberapa dana tentu masih harus disiapkan. Misalnya dana pendidikan. Cek usia putra-putri Anda, dan perkirakan apakah saat Anda pensiun mereka masih sekolah dan memerlukan biaya.
 
Sumber dana pensiun

Menurut Desy, tanpa perlu memiliki pos pengeluaran pensiun, seseorang otomatis mempersiapkan pensiun dari setiap gaji bulanannya yang dipotong perusahaan. Misalnya melalui jamsostek (besarannya adalah total 5,5% dari gaji yang diterima oleh karyawan setiap bulan disetorkan oleh perusahaan untuk ditabung di sana), atau dana pensiun yang dikelola sendiri oleh perusahaan yang besarannya bervariasi. Namun permasalahannya apakah dana pensiun tersebut akan mencukupi kebutuhan Anda nantinya?

Untuk itu Desy menyarankan untuk mempersiapkan sumber lain. "Jika pensiun yang diberikan oleh perusahaan ternyata tidak dapat menutupi seluruh biaya hidup ketika pensiun, siasatilah dengan membeli asuransi yang uangnya bisa diambil saat pensiun, sekaligus berinvestasi," ungkapnya. 

Menyisihkan dana pensiun artinya Anda menyimpan uang untuk kebutuhan jangka panjang. Menabung dengan cara konvensional akan sulit mencapai jumlah dana yang dibutuhkan di masa depan. Mengapa demikian? "Kenaikan harga barang dan jasa seringkali melebihi inflasi setiap tahunnya. Misalnya uang sekolah yang rata-rata naik sebesar 10-20% setiap tahun. Sementara hasil bunga menabung di bank hanya di bawah 10%," ungkap Desy.

Sisihkanlah dana Anda untuk investasi jangka panjang yang memberikan hasil lebih besar ketimbang tabungan konvensional. Misalnya dengan mengambil asuransi atau reksadana. Beberapa jenis produk investasi menawarkan hasil mulai dari 15% bahkan 30% per tahun. Bandingkan dengan tabungan yang di bawah 10%. Sayangnya seringkali orang takut berinvestasi karena takut menerima risikonya. Sebab semakin tinggi hasilnya semakin besar risikonya. "Janganlah karena takut rugi, lalu tidak berinvestasi," ujar Desy. "Yang penting pahami dulu profil risiko yang Anda miliki sebelum mengambil investasi." 

Untuk persiapan pensiun, Anda tentu ingin yang aman dan menuai hasil di usia tua. "Pilihlah jenis investasi dengan risiko rendah dan berjangka waktu panjang karena lebih aman. Asuransi adalah pilihan tepat. Investasi di sektor properti, emas ataupun reksadana juga bisa menjadi pilihan berikutnya," tutur Desy. Investasi properti sangat dianjurkan mengingat nilainya yang cenderung naik dari waktu ke waktu. Lewat properti pula Anda dapat memperoleh penghasilan tanpa bekerja, misalnya menyewakan rumah dengan menjadikannya tempat kos.

Menghitung Biaya Hidup Anda 30 tahun lagi

Misalnya biaya rutin yang dibutuhkan per bulannya saat pensiun nanti (dengan nilai sekarang) sebesar Rp3.000.000 per bulan. Masalahnya adalah nilai uang selalu berubah setiap tahunnya dengan adanya inflasi. Untuk mempermudah perhitungan, kita pakai asumsi inflasi 10 % per tahun.

Setara dengan berapakah 3 juta saat ini 30 tahun mendatang? Hitung dengan rumus berikut: FV = PV (1+ i)n

FV = Future Value
PV = Present Value
i  = tingkat bunga
n = jangka waktu

FV = PV. [1+ i ]n
= 3.000.000 [1+0,1]30
= 52.348.206,81 atau dibulatkan menjadi
= 52.350.000

Artinya di tahun pertama pertama pensiun Anda membutuhkan dana lebih dari 52 juta per bulan. Di tahun kedua pensiun (usia 66 tahun) kebutuhan pun meningkat menjadi sekitar 57,5 juta per bulan. Begitu terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan asumsi Anda hanya menarik uang tanpa penghasilan tambahan. Setidaknya Anda harus menyiapkan dana lebih dari 10 milyar untuk hidup selama setidaknya 10 tahun. Nilai yang sangat besar bukan? Bagaimana bisa mengumpulkan dana sebanyak itu?

Biarkan Uang Anda Berkembang
Berinvestasi tidak selalu harus dimulai dengan dana besar. Asalkan Anda rutin dan disiplin melakukannya, tujuan investasi pasti tercapai. “Setidaknya ada maksimal dana sebesar 30% dari penghasilan bulanan yang harus disisihkan untuk dana darurat, asuransi dan investasi,” Desy mengingatkan.

Misalnya, Anda berinvestasi sebesar 6 juta per tahun secara rutin atau menyetor 500 ribu per bulan terus menerus selama 30 tahun. Dengan asumsi hasil investasi 15% per tahun, berapa yang dapat Anda peroleh 30 tahun mendatang? Anda dapat mengetahuinya dengan menggunakan rumus:
FVA = {A x [(1+i)n-1]}/i
FVA = {6.000.000 x [(1+0.15)30-1]} / 0.15
FVA =  Rp 2.608.470.878

FVA : nilai masa depan yang ingin dicapai
A : tabungan yang harus dialokasikan
i : bunga yang dipakai sebagai perhitungan
n : jangka waktu investasi atau tabungan
 
Angka yang fantastis bukan? Mengingat total dana yang Anda setorkan selama 30 tahun hanyalah 180 juta (6.000.000 x 30). Semakin tinggi bunga yang ditawarkan semakin besar dana Anda berkembang. Namun tentu risikonya pun semakin tinggi.

Beri ekstra perhatian
Dana kesehatan

Seiring dengan pertambahan usia, kondisi kesehatan cenderung menurun. Pengeluaran untuk kesehatan pun akan meningkat. Anda akan lebih sering ke dokter dan memerlukan lebih banyak suplemen dan vitamin. Bahkan ada kemungkinan rawat inap dan biaya operasi. Siasati dengan ikut serta dalam program asuransi kesehatan yang sesuai kemampuan dan kebutuhan. Namun ada cara yang lebih murah. “Pertahankan gaya hidup dan pola makan yang sehat. Kelola stress yang timbul, pelihara hati dan pikiran yang sehat tentu membuat masa tua menjadi tetap energik dan sehat,” tutur Desy.

Jika si bungsu belum selesai sekolah
Jika dana pendidikan masih dibutuhkan saat pensiun. Segera lakukan survey biaya sekolah dan kuliah yang masih dibutuhkan kelak per bulannya. “Uang sekolah rata-rata naik sebesar 10-20% setiap tahun,” Desy mengingatkan.

Perkirakan jumlah biaya pendidikan di masa depan kemungkinan tersebut. Jika biaya masuk kuliah tahun ini sebesar 20 juta maka dengan menghitung kenaikan sebesar 10% saja per tahun, biaya yang harus dibayar tiga puluh tahun mendatang akan mencapai lebih dari 340 juta rupiah. “Untuk mengatasi masalah ini asuransi pendidikan bisa menjadi jawabannya karena perusahaan asuransi menginvestasikan dana premi yang diterima ke produk investasi yang bisa memberikan imbal hasil lebih tinggi dari bunga tabungan di bank,” jelas Desy.

Share artikel ini:

Artikel Terkait