Syukuri Sampai Yang Terkecil

Secara bahasa, syukur itu artinya rindang, selain juga mengandung arti ucapan terima kasih. Arti yang demikian ini, jika dimaknai lebih dalam, memiliki keterkaitan yang logis.

Bila kita berhasil membiasakan hidup bersyukur atau berterima kasih atas apa yang sudah ada di kita, maka ini akan membentuk diri kita sebagai pribadi yang rindang: nyaman dipakai berteduh oleh orang lain.

Langkah yang bisa kita jalankan untuk menjadi seperti pohon yang rindang itu dapat mengacu ke rumus 3P berikut ini:

P1 = Penilaian
Nilailah apa yang sudah ada ini sebagai nikmat yang perlu kita syukuri. Gunakan kaca mata pandangan yang positif supaya bisa menghasilkan kesimpulan yang positif.

Bagaimana kalau yang kita miliki ternyata masalah? Haruskah kita mensyukurinya? Ini pun perlu disyukuri dalam pengertian bahwa ”masih untung” masalah yang kita miliki tidak sebesar masalah orang lain yang lebih bermasalah dari kita.

Atau juga dengan memunculkan pemahaman bahwa seandainya Tuhan tidak menolong kita, mungkin masalah yang kita hadapi akan lebih besar lagi. Penilaian dan pemahaman demikian membuat jiwa kita lebih rindang.

P 2 = Penggunaan
Gunakan apa yang sudah ada untuk mencapai yang belum ada. Seperti juga Tuhan memberi kita dua kaki, demikian juga mestinya kita melangkah. Satu kaki untuk menerima apa yang sudah ada, tapi kaki yang satunya lagi untuk meraih apa yang belum ada. 

Seburuk apapun keadaan kita hari ini, katakanlah begitu, tapi jika kita berhasil menggunakannya untuk menjadi landasan perbaikan, keadaan itu tetap berguna buat kita.

Tapi, jangan lupa bahwa cara yang akan kita gunakan pun  haruslah positif, alias  tidak menyimpang. Jika ini terus kita lakukan, pasti usaha kita akan membuahkan hasil, seperti buahnya pohon yang rindang. 

P3 = Peningkatan
Target  utama dari Penilaian dan Penggunaan adalah mewujudkan peningkatan pada hidup kita, sesuai keadaan kita masing-masing, mungkin keharmonisan, kemajuan, atau pencapaian prestasi kerja.

Semakin banyak peningkatan yang sanggup kita raih, semakin mudah kita bersyukur  sejauh kita tetap bisa mengontrol diri dan tidak kosong dari nilai-nilai.

Begitu kita kosong, kemajuan kita malah membuat kita semakin rakus, sehingga apapun yang kita miliki tidak sanggup membuat kita bisa menikmatinya.  Padahal, kebahagiaan itu letaknya bukan pada apa yang kita miliki, namun sejauh mana kita mampu mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Semoga bisa kita jalankan sehari-hari.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait