Sifat Cemburu Yang Merusak

Cemburu memang menjadi pertanda adanya cinta. Sejauh itu kita lakukan karena  ada fakta pendukungnya yang kuat (bukti), kemudian kita bekerjasama untuk menyelesaikannya, tentu ini sehat dan bermanfaat bagi kita, pasangan, dan keluarga.

Tapi kalau sudah buta, kecemburuan itu malah dapat merusak dan menjadi malapetaka bagi cinta, bagi kita dan bagi pasangan. Jika tak teratasi dengan baik, bukan tidak mungkin akan mengancam keharmonisan keluarga.

Cemburu buta adalah cemburu yang tidak ada fakta pendukungnya yang kuat dan tidak membuahkan perbaikan hubungan. Kita cemburu hanya untuk cemburu. Sebagian besar akarnya adalah rasa tidak mampu dan rasa tidak aman.

Rasa tidak mampu adalah keminderan yang kita bangun sendiri di perasan, bukan di kenyataan. Semakin kita merasa tidak mampu untuk menciptakan hubungan yang bagus, maka kita akan semakin terdorong untuk menggunakan cemburu buta sebagai alat  untuk memperkuat posisi.

Rasa tidak aman pun begitu. Kalau kita takut karena ada sebab-sebabnya, itu sehat. Tapi kalau karena rasa hampa atau karena rasa terancam oleh ilusi yang didasari oleh kecurigaan yang membuat kita kehilangan kontrol, maka kita akan semakin menggunakan cemburu buta untuk menciptakan rasa aman.

Jadi, masalahnya bukan di pasangan, tetapi di diri kita. Supaya ini tidak berlanjut, maka perlu kita perbaiki. Langkah perbaikan yang penting itu adalah:

  1. Bukalah pembicaran untuk menemukan sebanyak mungking alasan kenapa saya percaya pada pasangan melalui dialog langsung. Semakin kita tahu siapa pasangan kita, akan membuat kita punya perasaan yang semakin aman. Dialog tidak cukup sekali, tetapi sesuai kebutuhan.
  2. Kurangi membangun ilusi yang didasari oleh kecurigaan terhadap pasangan. Kalau kita menemukan alasan yang mengganjal, lakukan konfirmasi atau cari informasi lebih dulu, lalu bicarakan kesepakatan yang memberi solusi
  3. Alihkan konsentrasi ke hal-hal yang membuat hubungan semakin bagus, misalnya berperan lebih optimal sebagai ibu / ayah.  Ini akan mengurangi rasa tidak mampu.
  4. Temukan kegiatan lain yang membuat kita lebih percaya diri, misalnya meningkatkan ketrampilan atau kegiatan yang bermanfaat bagi keluarga. 

Ini semua masih belum cukup. Karena itu, perlu ada pegangan yang kekuatannya tak bisa diukur dengan kalkulasi logika dan fakta, yaitu keimanan. Semakin kuat iman kita, akan semakin aman perasaan kita. Iman akan meyakinkan kita,  jika kita orang baik, maka kita akan didampingi pasangan yang baik.

Jika pasangan kita ternyata tidak baik di belakang, maka Tuhan akan memberi solusi yang baik atau lebih baik.  Iman bukan hanya percaya, tetapi menjalankan kebenaran yang kita percayai sehingga membuahkan “rasa-bersama-dengan-Tuhan”

Semoga bermanfaat. 

 

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait