Menyiasati Anak yang Suka Junk Food

Langkah idealnya, sesungguhnya bagaimana sejak awal sudah dirancang agar anak tidak menyukai jenis makanan junk food. Bagaimana besar pun tingkat kesungguhannya, untuk mengubah lidah anak yang sudah telanjur cinta menu bukan di meja makan ibu, jauh lebih pelik ketimbang membentuknya.
Adakah siasat jitu mengantarkan anak kembali memilih nikmatnya hidangan meja makan ibu?

RATA-RATA anak sekarang telanjur memikul menu tidak seimbang. Yang dimakan bukan saja melebihi kebutuhan, takaran gizi utamanya pun sudah kalang kabut. Menu harian anak sekarang sudah lama menyalahi aturan gizi. Lebih banyak porsi lemak, gula, dan garam dikonsumsi, dan lebih sedikit makanan tradisional yang mereka kenal.

Belajar makan dengan kepala, bukan dengan hati
Tak ada cara lain kecuali mulai memandu sikap anak terhadap makan, dan makanan. Bahwa nasib kesehatan hari depan ada pada menu hari ini. Bahwa tidak semua jenis makanan tentu menyehatkan. Perlu belajar jeli memilih mana jenis makanan yang harus dijauhi, dan mana makanan yang perlu dicukupi..

Tidak semua makanan yang lezat menyehatkan. Bukan sedikit makanan yang tidak lezat, tidak gurih, tidak eco, justru membugarkan. Dan seringnya kemudian itu berbenturan dengan soal selera. Sementara selera makan sendiri sejatinya sudah lama tersusun di lidah anak. Bahkan sejak di kandungan mula.

Bagaimana kesan awal anak terhadap menu yang terhidang di meja makan ibu, warisan itu terbentuk di lidahnya sekarang. Warisan yang sama dikirimkan ibu sejak anak di kandungan mula. Apa yang ibu makan ketika mengandung, itu yang menjadi perut anak. Selera milik ibu, begitu jadinya selera anak juga.

Tapi apa lacur. Budaya makan orang sekarang dapat mengantar anak semakin jauh dari selera asal. Demi kepraktisan, pertimbangan lebih instan, selain kemudahan, maka lidah anak belajar secara salah dari menu di luar rumah.

Lidah anak dirusak oleh menu dengan cita rasa tinggi, tapi bernilai gizi rendah. Masyarakat lupa kalau kesehatan itu ada di dapur ibu, bukan di restoran. Dan kondisi lebih suka memilih bukan meja makan ibu, menjadi amat fenomenal bagi kebanyakan anak sekarang.

Dari lidah yang dirusak menu serba boros lemak, gula dan garam, tugas orang tua bagaimana selera rendah anak suka terhadap menu junk food dan sejenisnya, bisa dikendurkan. Mengajarkan kembali kepada anak bahwa menu di luar rumah yang rata-rata sudah menjadi ”ampas” itu, selain bikin kurang gizi, menimbun puluhan penyakit di dalam tubuh. Dapat meledakkan bom waktu penyakit ketika anak dewasa nanti.

Sekiranya sampai tumbuh rasa takut dan waspada akan ancaman penyakit dari memilih makanan yang salah, ini satu pembelajaran agar cerdas menyikapi makanan bukan dengan hati.

Bukan karena rasa belaka, melainkan juga pertimbangan gizi dan aman tidaknya jika dikonsumsi berlebihan, begitu hendaknya dilatih setiap kali anak memilih apa yang akan dimakannya. Hal demikian mestinya hadir dalam kurikulum sekolah dasar. Tapi sayang, sekolah kita tidak melakukannya. Anak kita masih tetap terlunta buta gizi di tengah iming-iming iklan jajanan tak bergizi.

Bahan lokal cita rasa internasional
Apa boleh buat. Tidak mudah menukar lidah anak dengan selera tradisional. Tahu saja bahwa menu rumahan lebih menyehatkan tidaklah cukup. Niscaya saja bahwa sumber makanan alami lebih membugarkan, mungkin terabaikan bila selera makan anak terbiasa digiring ke aroma rumah makan. Lebih terpikat pada menu serba gorengan, serba mentega, serba terigu, dan gula.

Rata-rata anak kita sudah telanjur jatuh hati pada menu barat. Sebagian sudah masuk desa. Ada sepuluh makanan terbanyak yang memberi kontribusi kelebihan kalori pada anak Amerika sekarang. Selain roti, keju, donat, ragam kue, dan daging sapi, sama banyaknya peran keripik, minuman ringan, gula, sirop, selai dan daging unggas berlemak.

Tidak semuanya buruk. Namun cenderung kehilangan sebagian besar zat gizi, miskin serat (fiber), dan miskin pula kandungan vitamin, dan mineralnya. Bayangkan, bagaimana semua makanan terbanyak dikonsumsi itu sebagai suatu menu favorit. Sama sekali sudah menyimpang dari piramida makan sehat (Healthy Eating Pyramid) yang mengajarkan bagaimana perlu lebih banyak olahraga di dasar piramid, dan sesedikit mungkin mengonsumsi lemak, terigu, dan gula. Mengajak memilih menu utama yang hanya berasal dari alam. Gula pasir, terigu, dan mentega, bukanlah pilihan. *)

Masalah makan anak sekarang, masalah bagaimana membalikkan selera makan yang berisiko menggali kubur sendiri. Strateginya, bagaimana menu meja makan ibu bisa menyajikan makanan yang masih senada dengan lidah anak. Masih memihak kepada selera kebarat-baratan.

Kita melihat kalangan vegetarian berhasil menciptakan menu tanpa daging dan ikan, selezat menu aslinya. Dan itu soal seni menciptakan cita rasa. Bahan makanan bisa dipilih apa saja, asal cita rasanya digubah menjadi sesuai dengan lidah anak, setara menu aslinya.

Rata-rata anak sekarang lebih suka steak, burger, atau gorengan. Maka pilihlah daging lokal yang paling rendah lemak yang diolah bergaya lokal seperti daging panggang, lebih banyak sayur, tanpa mentega, tanpa susu atau keju. Begitu juga burger gaya lokal. Pilih roti gandum, dan daging ayam kampung , dengan bumbu yang sama baratnya. . Untuk gorengan memilih hanya minyak baru yang hanya sekali pemanasan (goreng); pilih kentang tanpa bumbu, atau menggantinya dengan ketela, atau ubi. Dengan teknik menggoreng yang bagus, bisa sama renyahnya dengan keripik impor yang kaya keju, dan mentega.

Jangan lupa, bahaya minyak trans mengisi makanan di luar rumah. Minyak yang dipakai hampir pada semua penganan, makanan jajanan pabrik, dan segala yang digoreng. Ini jenis minyak jenuh yang tidak menyehatkan. Dipakai dalam pembuatan mentega (margarin). Tukarlah di rumah dengan minyak jagung kalau bosan minyak zaitun.

Setelah menu meja makan rumah bertukar rupa dan cita rasa, bangun terus tradisi selalu makan bersama. Jangan pernah letih untuk terus mengingatkan ulang kepada anak, bahwa terserang peluang kanker, jantung koroner, stroke, diabetes dengan segala akibatnya, bermula dari salah memilih menu harian. Mati mendadak, cacat kelumpuhan, kebutaan, gagal ginjal, datangnya gara-gara dari kecil sudah melanggar aturan gizi.

Praktiknya tidak gampang memang. Itu baru hanya konsep saja. Jauh lebih sukar implementasinya. Namun yakin kalau setiap ibu punya naluri dan terampil berkiat bagaimana sebuah konsep menjelma menjadi sebuah sentuhan. Di tangan ibu, anak bisa berubah. Juga untuk selera makan yang telanjur terpupuk salah di luar rumah.

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait