vote

Cara-cara Mengasah Leadership Pada Anak

Setiap anak, pasti punya potensi kepemimpinan. Tapi, supaya potensi itu bisa berfungsi nanti, butuh aktualisasi sejak dini.

  • Rate Artikel ini

Setiap anak, pasti punya potensi kepemimpinan. Tapi, supaya potensi itu bisa berfungsi nanti, butuh aktualisasi sejak dini. Aktualisasi adalah proses mengasah dengan berbagai cara, termasuk membuat potensi itu menjadi aksi (nyata).

Soal nanti anak punya jabatan atau posisi sebagai pemimpin bagi orang lain, ini lain soal. Fokus kita dalam mengasuh adalah bagaimana mengasah potensi kepemimpinan itu.

Setidak-tidaknya, kalau dia tidak menempati jabatan pimpinan, potensi kepemimpinan yang dimilikinya tetap akan sangat berguna untuk memimpin diri, keluarga, atau pekerjaannya.

Akar dari berbagai bentuk kepemimpinan adalah kemampuan memimpin diri lebih dulu (self-leadership). Siapapun tidak bakal bisa memimpin orang lain kalau kepemimpinan dirinya keropos.

Nah, terkait dengan ini, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengasah potensi leadership mereka, antara lain:


  • Memberikan ruang kemandirian sejak dini sesuai perkembangannya, misalnya memberi tugas tertentu dengan mempersilahkan dia menggunakan caranya sendiri walau tujuannya sudah kita arahkan.
  • Membiasakan dia untuk memiliki tujuan yang jelas, alasan yang jelas, dan target yang jelas, misalnya ketika dia meminta sesuatu. Kita tidak langsung memberikannya sebelum memperoleh penjelasan.
  • Melatih anak disiplin sesuai dengan kebutuhan dan dengan cara-cara yang kita upayakan se-bersahabat mungkin. Disiplin adalah proses yang harus ditempuh anak untuk mulai belajar mengendalikan diri.
  • Memfasilitasi anak untuk mengembangkan berbagai kemampuan yang dibututuhkan untuk kepemimpinan, misalnya tampil di depan, menghargai inisiatif orang lain, memimpin acara di rumah, menunjuk dia sebagai penanggung jawab tentang kegiatan tertentu di rumah dan lain-lain.
  • Mengurangi dominasi kita secara bertahap. Karena terlalu sayang atau ingin sempurna, kita terkadang ikut campur berlebihan pada inisiatif anak. Ini yang harus kita kurangi.

Yang juga penting lagi adalah melatih dia untuk lebih terampil dalam mengungkapkan gagasan atau keinginan yang mudah dipahami orang lain (mengkomunikasikan isi pikiran, perasaan, dan hati).

Misalnya, melatih dia untuk mengurangi ngambek ketika meminta sesuatu. Atau, melatih dia untuk mengkomunikasikan keinginan tertentu kepada kita sebaik mungkin.

Karena setiap orang haruslah menjadi pemimipin bagi dirinya, maka kita pun melatih kepemimpinan ini pada anak kita. Sekali lagi, soal apakah nanti dia ditunjuk untuk menjabat posisi pemimpin atau tidak, biarlah itu kemampuan dan takdir Tuhan yang berbicara.

Semoga bermanfaat.