vote

Membentengi Anak Agar Terhindar Diare

Angka diare Indonesia masih terbilang tinggi.

  • Rate Artikel ini

Angka diare Indonesia masih terbilang tinggi. Dua faktor yang sampai sekarang masih bermasalah yaitu tingkat kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan yang masih rendah, termasuk ketersediaan air bersih masih kurang. Maka upaya membentengi anak, bagian dari tindakan pencegahan paling tepat-guna.

DIARE tidak boleh sampai menggangu tumbuh-kembang anak. Anak yang sering diare akan terhambat pertumbuhannya, bisa jadi terhalang pula perkembangan mentalnya akibat asupan gizi di bawah angka kecukupan. Maka diare seberapa bisa harus dicegah, dan caranya tidaklah susah.

Diare paling sering terjadi setelah anak mulai disapih, selain pada bayi yang tidak/kurang mendapatkan ASI. Kita tahu, penyajian susu formula pengganti ASI (PASI) memerlukan tindakan penyajian dengan penyucihamaan alat-alat dan penanganan ekstra hati-hati ‘repot’ melebihi yang biasa dilakukan pada orang dewasa. Mengapa? Oleh karena pencernaan bayi masih sensitif terhadap cemaran kuman paling jinak sekalipun. Dan ini menjadi salah satu penyebab diare. Oleh sebab itu jangan pernah terpikir tidak memberi ASI. Selain kandungan nutrisinya paling cocok, ASI sendiri memiliki komponen yang dapat menanggulangi serangan kuman penyebab diare.

Bayi yang diberi ASI-eksklusif hampir tidak pernah mengalami diare. Terkecuali apabila ibu kurang telaten membersihkan puting susu setiap kali akan menyusui. Namun pukul rata, bayi yang disusui ibu hampir tak ada yang terserang diare. Selain lebih kecil risiko tercemar kuman, dalam ASI terkandung zat kekebalan. Termasuk kekebalan terhadap kuman penyakit usus.

Itu semua di atas bagian dari upaya pencegahan agar bayi tidak terancam diare. Upaya untuk membentengi tubuh bayi paling ampuh, tiada lain kecuali dengan memberikan kekebalan alami dari ASI yang tidak penuh dimiliki susu formula. Kita tahu selain untuk pertumbuhan sel otak, protein ASI itu diperlukan anak untuk pembentukan sistem kekebalan tubuhnya (sel darah putih, dan zat kekebalan immunoglobulin).

Imunisasi rutin untuk bayi, tidak melindungi bayi dari ancaman diare. Tidak juga ada vaksinasi khusus yang membentengi tubuh bayi dari serangan sejumlah penyakit diare. Pembentengan tubuh bayi juga dipengaruhi oleh kualitas nutrisi yang diterimanya. Maka perhatikan kecukupan nutrisi bayi sesuai dengan umurnya. Sepanjang enam bulan bayi bertumbuh hanya dari minum susu belaka. Saat bayi berumur enam bulan, apakah asupan bubur susunya sudah mencukupi.

Kebutuhan bubur susu harus dipenuhi sesuai dengan umurnya sampai berumur 8 bulan, yang selanjutnya harus dipenuhi oleh nasi tim. Bubur susu dan nasi tim hendaklah mengandung lauk (hewani dan nabati) sebagai sumber protein yang dibutuhkan untuk membentuk anti bodi guna melawan kuman diare. Beri juga sayuran yang kaya vitamin dan mineral untuk proteksi dan daya tahan anak. Selain itu sayuran dan bebuahan yang kaya serat akan ‘membersihkan’ usus dari sisa makanan sekaligus kandungan serat-larut akan ‘memberi makan’ bakteri-baik pasukan penjaga usus agar terus berkembang guna membentengi serangan kuman-diare.

Pembentengan tubuh anak terhadap ancaman diare dilakukan dengan membentuk perilaku hidup bersih. Khususnya kebersihan perorangan. Kelemahan anak-anak Indonesia umumnya, kebanyakan karena perilaku hidup bersih tidak dibangun di sekolah maupun di rumah. Para orang tua hendaklah sepenuhnya tahu dan menyadari betapa penting dan berharganya kebiasaan hidup bersih dan mencuci tangan yang benar. Cucilah dengan sabun seluruh permukaan telapak dan punggung tangan sampai ke seluruh sudut jemari kuku, kemudian basuh dengan dengan air mengalir sampai kotoran dan sabun luruh dari tangan dan kuku.

Hanya dari kebiasaan mencuci tangan yang benar, lebih sepuluh penyakit diare bisa dicegah. Maka membentuk kebiasaan mencuci tangan perlu diajarkan, dan dididik. Ini juga bagian dari upaya pembentengan tubuh anak dari ancaman diare. Tak hanya tangan, kebersihan alat-alat makan seperti sendok, garpu, piring, gelas, mangkuk, haruslah di perlakukan seperti membersihkan tangan dengan sabun dan dibilas dengan air-mengalir agar kuman terusir.

Jemari tangan dan alat makan bersih namun makanan dan minuman tercemar, akan buruk akibatnya. Maka kebiasaan memilih jajanan yang tidak higienis, yang tercemar bibit penyakit, sama mengancam anak terserang diare juga. Sebagian besar menu jajanan kita tergolong tidak bersih dan berbuntut diare.

Maka membentuk kebiasaan tidak jajan, dan memilih penganan buatan rumah, cara lain membentengi anak dari risiko terserang diare. Termasuk mengajarkan anak mengenal makanan dan minuman yang sudah rusak (basi), jenis makanan kemasan tercemar kuman (terlihat dari kemasan yang sudah menggembung atau peot), jenis makanan tradisional bongkrek, ikan beracun (ikan buntel), jamur beracun, yang berpotensi memunculkan serangan diare juga.

Ajarkan juga anak membuang sampah pada tempatnya. Sediakan tempat sampah tertutup dan membuangnya setiap hari terlebih sampah basah seperti sisa makanan. Sejatinya ini semua haruslah bagian dari pendidikan kesehatan sekolah ketika para ibu masih kecil dulu.