vote

Memfasilitasi Proses Belajar

Learning is not racing. Belajar adalah proses, untuk itu kita perlu memberi kesempatan mencoba dan melakukan kesalahan. Bagaimana menerapkan itu pada Si Kecil?

  • Rate Artikel ini

Kira-kira, apa yang membuat anak mudah tergerak untuk merapikan barang-barang yang berantakan? Apa yang membuat dia merasa tidak nyaman jika tidak belajar? Apa yang membuat dia punya pelampiasan yang lebih baik ketika marah?

Kalau melihat teori pendidikan, yang paling banyak mengantarkan anak menjadi lebih baik bukan karena ceramah gurunya, bukan informasi dari TV, bukan pula omelan kita.

Itu semua memang berperan membentuk karakter anak, tapi kecil dayanya. Yang paling besar adalah kesempatan yang diberikan pada anak untuk mengalami sesuatu dengan proses yang terus bertahap.

Otak anak dibentuk dari "proses-mengalami". Namanya proses, tentu menawarkan rasa dan warna yang beragam. Misalnya, terkadang harus salah, terkadang harus kecewa, terkadang harus dipuji, dan seterusnya.

Semua anak kecil memang sudah mengalami ini, tapi yang membedakan adalah ada yang mendapatkan pengarahan untuk belajar sehingga dia menjadi lebih matang, tapi ada yang malah dimatikan prosesnya.

Misalnya, kita menyuruh dia merapikan tempat tidurnya. Karena kita melihat hasil kerjanya masih jauh dari standar, lalu kita perintahkan dia untuk minggir saja, biar mbak-nya yang bertindak.

Pada saat itu, prosesnya sudah berhenti. Padahal, kalau kita terus mengarahkan dia sampai bisa dan terbiasa, itu akan mahal harganya. Demikian juga ketika nilainya turun. Terkadang ini diperlukan agar dia merasakan proses bagaimana memperbaiki diri.

Selain berperan membentuk karakter, memfasilitasi proses juga membuat dia lebih cepat matang, dalam arti tidak mudah mutungan atau ngambek, tidak mudah berpikir hitam-putih, atau lebih bijak. Ini karena proses lah yang sudah mendidiknya.

Memfasilitasi proses dapat kita lakukan dalam bentuk:

  • Lebih banyak mendorong anak untuk menginisiatifkan aksi atau kreasi
  • Lebih banyak memfasilitasi pengembangan diri anak
  • Lebih banyak mengarahkan sehingga anak paham mana yang salah, mana yang berbahaya, dan mana yang belum saatnya

Apakah larangan, hukuman, dan hal-hal yang serupa dengan itu harus dihentikan? Tentu tidak. Sebab, semuanya itu termasuk alat pendidikan. Seperti menjalankan kendaraan, pada saat tertentu, kita memang harus menginjak rem atau kopling.

Tapi, ketika kendaraan sudah di jalan yang aman, ya haruslah gas yang kita prioritaskan. Bukan begitu?

Semoga bermanfaat.