vote

Menanamkan Kecintaan Menggambar

Pepatah mengatakan “Kecintaan terhadap seni tidak bisa dipaksakan tapi bisa ditumbuhkan.”

  • Rate Artikel ini

Pepatah mengatakan “Kecintaan terhadap seni tidak bisa dipaksakan tapi bisa ditumbuhkan.” Jika Anda bisa memupuk kecintaan mencorat-coret, anak Anda akan mendapat manfaat yang besar.


Menggambar adalah naluri alami untuk berkomunikasi. Jarang ada anak yang menolak untuk menggambar. Melalui gambar, anak bisa menyatakan pikiran dan perasaan dengan cara yang lebih halus dibandingkan perkataan. Ekspresi kreatif merupakan dorongan dari dalam tiap diri anak dan penting bagi perkembangan mereka sebagai individu utuh. Karena seni punya peran penting—dalam hal ini seni visual—Anda perlu mendorong anak mencintai seni menggambar atau melukis.


Namun seni tidak bisa dipaksakan. Seorang anak tidak bisa dipaksa untuk suka menggambar. Tapi ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk menanamkan kecintaan anak terhadap menggambar atau melukis. Variasi media menggambar adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mempertahankan kecintaan anak terhadap seni lukis. Mulai dari media pewarnaan, media menuangkan gagasan, media tambahan, hingga kreasi lanjutan dari sebuah gambar.


Menghindari Kebosanan


Jika hari ini Anda menyodorkan pensil warna, bulan depan Anda bisa memberikan krayon atau spidol, dan ketika si kecil sudah semakin dewasa, cat air serta cat minyak bisa dia gunakan untuk melukis. Selain untuk menghindari kebosanan, variasi media pewarnaan itu juga memberi menambah keahlian anak. Ketika mereka menggunakan spidol, misalnya, tidak perlu tenaga besar untuk menggambar. Sementara saat menggunakan pensil warna, mereka perlu tenaga ekstra agar warna bisa keluar maksimal.


Selain media pewarnaan, masih ada media lain yang bisa Anda variasikan yaitu media menuangkan gagasan. Jika selama ini anak hanya mengenal kertas atau kanvas untuk menggambar dan melukis, mungkin dia perlu berkenalan dengan media lain, seperti kayu, kaca, kain, atau kaleng. Penggunaan media yang bervariasi membuat anak kenal karakter masing-masing material. Misalnya ketika dia diberi kesempatan melukis di atas gelas atau stoples kue, sebaiknya dia lebih dulu diberi tahu bahwa benda berbahan kaca yang akan dilukis perlu dibersihkan dengan cairan khusus atau sabun pencuci piring lalu dikeringkan. Teknik membersihkan yang benar akan menghasilkan lukisan yang bagus dan tahan lama. Pasti si kecil akan lebih senang ketika hasil lukisan terpampang pada stoples yang dia pakai untuk menaruh permen atau tergambar jelas di atas kaos yang bisa dia pakai kemanapun.


Gambar juga bisa dikombinasikan dengan aneka material lain—seperti glitter, potongan kertas berwarna, bahkan tisu—agar hasil gambar menjadi lebih semarak. Selain hasil karya yang lebih menarik, anak tentu semakin antusias menjalani proses pembuatan gambar yang tidak monoton.


Arti Penting Menggambar


Doreen Blumhardt, keramikus dunia berkebangsaan New Zealand, mencari formula mata pelajaran prakarya di institusi pendidikan anak usia dini. Dalam perjalanan berkeliling Inggris Raya, Eropa, dan AS, dia mendapatkan temuan seputar arti penting menggambar bagi anak dari berbagai usia serta kiat untuk menjaga kecintaan si kecil terhadap aktivitas menggambar.


2 tahun
Tidak ada orang yang tahu makna coretan pertama anak di atas kertas. Goresan tangan layaknya benang kusut itu tidak menyerupai obyek apapun yang dikenal orang. Di luar gambar yang dihasilkan batita, corat-coret itu merupakan pelepasan emosi yang sempurna bagi anak. Jika Anda perhatikan, setiap coretan begitu personal. Satu coretan dengan coretan lain pasti berbeda. Secara perlahan, anak semakin bisa mengontrol coretannya dan dia mendapatkan kesenangan atas usahanya. Berikan dia kebebasan untuk mencorat-coret, jangan dilarang.


3 tahun
Inilah usia anak mulai memberikan makna dalam gambar. Meski demikian, hasil gambar anak hanya punya sedikit keterkaitan dengan benda yang tampak oleh mata. Gambar mereka merupakan simbol dari benda yang pada saat itu punya arti dan penting bagi mereka. Ketika seorang anak menggambar manusia, hasilnya bisa saja berupa kepala yang digambar di atas kaki. Meskipun anak melihat bagian tubuh manusia secara utuh, dia hanya menggambar bagian tubuh yang dia anggap penting. Wajah penting karena bisa bergerak saat bicara dan kaki dianggap penting karena bergerak saat berjalan. Anak menggambarkan apa yang dia rasakan, bukan apa yang dia lihat. Pada usia itu, anak butuh perangkat gambar yang tidak memerlukan keterampilan tinggi untuk mengoperasikannya, misalnya kertas ukuran besar dan spidol khusus anak.


4 tahun
Fase menggambar dengan aktif. Artinya, beri pujian dan dorong anak untuk melanjutkan aktivitas menggambar. Ketika si kecil menggambar ayah yang sedang berkebun, beri dia pertanyaan, “Apakah kebun itu terletak di belakang rumah?” atau “Alat apa yang digunakan ayah untuk berkebun?” atau “Ayah memakai baju apa?” dan seterusnya. Anak akan merespons dan melanjutkan gambar karena dia merasa ada orang yang tertarik atas hasil karyanya.


5 tahun
Anak mulai memahami hubungan antara manusia dengan lingkungan. Obyek dalam gambar semakin berhubungan satu sama lain meskipun dia masih menggambar simbol-simbol. Benda yang dianggap penting oleh anak akan dia gambar dalam ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan benda lain. Ketika sebuah obyek—atau bagian tertentu dari sebuah obyek—diperbesar oleh anak, bisa diasumsikan obyek tersebut punya arti penting atau membangkitkan emosi yang dalam. Jadi, jangan terfokus atau bahkan mengkritik anak karena gambarnya Anda nilai tidak proporsional. Lebih baik, biarkan dia bebas berekspresi agar dia terus menyukai aktivitas menggambar dan melukis.