vote

Serba-Serbi Makanan si Kecil

Memilih susunan hidangan untuk si Kecil terkadang menjadi rumit ketika Ibu mulai memikirkan banyak hal seperti apakah jenisnya sudah sesuai, cara penyimpanannya dan pengolahannya apakah sudah tepat serta apakah nanti hasil masakannya bisa dihabiskan si Kecil atau tidak. Sebenarnya, sederhana sekali untuk memastikan apakah makanan si Kecil sudah sesuai atau belum dengan cara memahami hal-hal berikut ini.

  • Rate Artikel ini

Memilih susunan hidangan untuk si Kecil terkadang menjadi rumit ketika Ibu mulai memikirkan banyak hal seperti apakah jenisnya sudah sesuai, cara penyimpanannya dan pengolahannya apakah sudah tepat serta apakah nanti hasil masakannya bisa dihabiskan si Kecil atau tidak. Sebenarnya, sederhana sekali untuk memastikan apakah makanan si Kecil sudah sesuai atau belum dengan cara memahami hal-hal berikut ini.

Ketika si Kecil mulai berusia 1 tahun maka makanan si Kecil sudah sama dengan orang dewasa yaitu terdiri dari kelompok karbohidrat, protein, sayur dan buah. Kelompok karbohidrat  seperti nasi, jagung, kentang, ubi, singkong, dll, serta  kelompok protein yang terdiri dari daging, ikan, telur, ayam, susu, tahu, tempe dan kacang-kacangan.  Sedangkan kelompok sayur dan buah banyak jenisnya yang bisa dikonsumsi si Kecil secara beragam. Selain empat kelompok ini terdapat juga tiga bahan yang sudah bisa dikonsumsi si Kecil namun dalam jumlah yang sesuai, yaitu gula, garam dan minyak. Menjadi catatan penting bagi Ibu adalah selalu memberikan makanan yang sudah matang kepada si Kecil, jangan makanan mentah termasuk sayur yang biasa dikonsumsi mentah seperti selada, dan jangan juga dalam keadaan setengah matang seperti sate atau telur setengah matang. Telur setengah matang yang dimaksud adalah putih telurnya belum sempurna berwarna putih dan memadat, masih terdapat yang berwarna bening.  Jika putih telurnya sudah putih dan memadat, sementara kuningnya masih setengah cair ini sudah dikategorikan telur matang. Sebelum usia 5 tahun, sistem imun si Kecil belum maksimal sehingga sebaiknya berikan makanan yang tidak beresiko tercemar bakteri.

Bahan makanan ini dapat diolah dengan berbagai cara, bisa dengan merebus mengunakan air atau santan, mengukus, menumis, memanggang, memepes, dan menggoreng.  Banyak ibu yang khawatir menggunakan santan untuk mengolah makanan si Kecil. Ada yang khawatir karena kandungan kolesterolnya, juga khwatir karena makanan dengan santan cenderung dipanaskan berulang. Santan terbuat dari kelapa dan kelapa adalah tumbuhan, sedangkan kolesterol adalah zat yang hanya terdapat pada jaringan hewan. Nah, berhubung santan adalah tumbuh tumbuhan maka tentu saja tidak ditemukan kolesterol di dalamnya.  Namun, memang santan merupakan makanan yang tinggi lemak jika dikonsumsi berlebihan tentu saja akan menganggu kesehatan pembuluh darah.  Penggunaan santan yang tidak terlalu kental dan tidak sering dipanaskan berulang baik diberikan kepada si Kecil, selain hidangan si Kecil menjadi gurih,  zat gizinya pun tidak banyak yang rusak.

Dalam perkembangan kuliner makanan dan upaya meningkatkan nilai gizi makanan, terkadang santan diganti dengan susu. Memang, ketika suatu hidangan diolah dengan tambahan susu terjadi peningkatan nilai protein dan mineral pada hidangan tersebut dan rasa hidangan juga semakin gurih. Tetapi, perlu diketahui bahwa susu adalah sumber protein yang tdiak boleh terlalu lama dan sering dipanaskan karena kandungan proteinnya sangat rentan terhadap suhu pemanasan. Oleh karena itu hidangan ini tidak boleh dipanaskan ulang dan memasukkan susu pada pemasakannya juga saat bahannya sudah setengah matang.  Tambahan susu pada makanan akan membuat kepadatan gizi makanan menjadi bertambah maka sangat baik diberikan pada anak anak yang membutuhkan gizi tinggi seperti anak anak yang status gizinya kurang (kurus). Selain susu, bahan makanan lain yang meningkatkan kepadatan energi suatu hidangan adalah margarin dan minyak kelapa.

Hal lain yang dikhawatirkan ibu adalah mengenai makanan yang telah diproses atau makanan olahan seperti makanan yang dikalengkan. Selain ikan, daging, dan buah, sayuran pun hari ini juga sudah mulai dikalengkan, begitu juga dengan kacang-kacangan.  Kandungan zat gizi pada makanan ini terbilang baik dan bernilai gizi sama dengan makanan segar. Namun, yang perlu disikapi adalah adanya tambahan zat bahan tambahan pangan (BTP) pada makanan kaleng. Bahan tambahan pangan ini biasanya digunakan untuk memperpanjang masa simpan, mempertahankan kandungan gizi makanan, juga memperbaiki cita rasa makanan, dll. Zat BPT ini aman dikonsumsi dalam jumlah tertentu, namun karena memang BTP terbuat dari zat kimia maka sebaiknya tidak sering mengonsumsinya. Ibu harus bijak menggunakan bahan makanan olahan dengan selalu membaca label pangan untuk mengetahui apa saja BTP yang ditambahkan dan memastikan jumlahnya tidak berlebihan.

Permasalahan lain yang tak kalah seringnya menjadi pertanyaan Ibu adalah bagaimana menyimpan sayur dan mengolah sayur agar zat gizinya tidak hilang, namun teksturnya empuk dan disukai si Kecil. Penyimpanan kebanyakan sayur dan  buah-buahan adalah pada suhu dingin, walau jenis tertentu harus disimpan pada suhu ruang. Cara penyimpanannya adalah tidak bercampur satu sama lain, juga tidak bercampur dengan makanan jenis lain seperti susu, daging, dll. Dikemas yang rapi, namun jangan dalam keadaan tertutup rapat karena harus ada celah udara. Kemudian, sebelum disimpan buah dan sayur utuh pastikan dalam keadaan kering dan tidak basah. Jika buah-buahan dan sayuran telah dipotong kecil kecil maka harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, namun tidak boleh disimpan terlalu lama. Penyimpanan pada suhu dingin hanya bertujuan memperlambat proses pematangan dan kerusakan saja. Sebaiknya dalam dua hari, sayur dan buah harus segera dikonsumsi habis. 

Sedangkan proses memasak memang bertujuan untuk membuat tekstur makanan menjadi lunak sehingga mudah dicerna oleh tubuh. Namun sebaliknya proses memasak yang berlebihan akan membuat kehilangan zat gizi lebih banyak. Tidak menutup kemungkinan, proses memasak dapat memicu terbentuknya zat toksik pada makanan tersebut. Sebelum proses memasak, perhatikan cara persiapan sayuran untuk si Kecil. Potonglah sayuran dengan ukuran standar, jangan terlalu kecil akan membuat  kehilangan zat gizi lebih banyak. Selanjutnya sayuran bisa dimasak dengan berbagai cara, mengukus lebih bisa mempertahankan nilai gizi pada sayuran, namun si Kecil jarang menyukai cara ini.

Selanjutnya, Ibu bisa memilih cara merebus dengan air atau santan atau menumisnya terlebih dahulu baru kemudian memasukkan air dan bahan. Cara ini juga relatif aman untuk mempertahankan kandungan gizi sayur namun hal yang perlu diperhatikan adalah tambahkan air secukupnya saja sesuai dengan jumlah yang bisa dihabiskan si Kecil, lalu masukkan sayur ketika air telah mendidih, dan angkatlah sayur dalam keadaan setengah matang. Waktunya sangat bergantung pada jenis sayuran, namun petunjuk yang bisa Ibu jadikan patokan adalah dengan menekan tekstur sayur apakah sudah lunak atau belum dan air rebusan sayur belum mengalami perubahan warna. Pematangan sayur akan berlanjut terus walau sayur tidak lagi berada di atas kompor yaitu  hingga suhu air perebusan sayur menjadi hangat. Dalam suhu hangat sayur sudah bisa diberikan pada si Kecil dengan terlebih dahulu memotong sayur menjadi ukuran lebih kecil di piring makan si Kecil. Si Kecil akan mudah menerima tekstur sayur tersebut apalagi jika pemberian sayur itu pada kondisi yang nyaman, bercampur dengan bumbu dari lauk dan Ibu dapat memacu semangat si Kecil lagi dalam mengonsumsi sayur dengan cerita cerita positif tentang sayur.   

Selain sayur, teknik pengolahan daging juga sering menjadi pertanyaan Ibu karena teksturnya yang liat dan keras. Tak jarang hidangan daging masih alot ketika selesai dimasak dan tentu saja ini membuat proses pencernaan bekerja lebih berat. Beberapa hal bisa dilakukan untuk membuat daging empuk yaitu dengan membuat potongan daging lebih kecil, setelah itu dapat juga dilumuri parutan nanas terlebih dahulu baru kemudian direbus dengan air secukupnya selama lebih kurang 30 menit. Selanjutnya daging bisa dimasak sesuai selera dan air perebusan daging inipun dapat digunakan sebagai campuran air pada masakan berikutnya yaitu menjadi air kaldu. Daging sumber protein dan mineral dengan cara perebusan tidak akan membuat protein dan mineralnya mengalami kerusakan. Kecuali setelah ini akan ada pemasakan ulang kembali secar berulang, tentu saja akan merusak protein dan mineral daging. 

Daging juga bisa diolah menjadi berbagai produk seperti daging giling, bakso dan sosis. Namun daging olahan ini memiliki kadar protein yang lebih rendah dibanding daging segar, walau masih layak untuk dikonsumsi. Tetapi tetap menjadi perhatian untuk tidak terlalu sering memberikan si Kecil daging olahan karena selain kandungan gizinya lebih rendah,  proses pengolahan  yang terlalu panjang pada daging dapat saja membuat kerusakan protein sehingga membentuk zat baru yang dalam jumlah akumulatif tidak baik untuk kesehatan.  Daging olahan seperti daging giling memang sebaiknya segera dikonsumsi. Jika memang ingin menyimpannya terlebih dahulu, maka simpanlah pada wadah yang bersih tidak bercampur dengan bahan lain, tertutup rapi dan pada suhu beku. Penyimpanannya juga disesuaikan dengan porsi yang akan digunakan karena setelah dikeluarkan dari freezer harus segera diolah. Tidak hanya daging olahan, tapi semua daging yaitu daging segar, ikan dan ayam yang dibekukan setelah dikeluarkan dari freezer harus segera digunakan.  Saat proses pencairan dari tekstur beku juga sangat memungkinkan berkembangnya bakteri, oleh karena itu proses pencairan ini harus menggunakan wadah yang bersih tidak bercampur dengan bahan lain dan segera dilakukan pemasakan. 

Daging giling terbuat dari campuran berbagai daging sehingga kandungan lemaknya tidak beraturan, selain itu resiko sebaran bakteri juga sangat tinggi antara campuran daging tersebut. Ibu harus hati hati sekali memilihnya.  Ibu dapat melihat warnanya, warna merah segar menandakan daging giling dalam keadaan baik. Jika warnanya kusam apalagi cenderung abu abu maka bisa dipastikan bahwa daging ini giling sudah mengaami kerusakan.

Sama halnya dengan daging, ikan adalah merupakan sumber protein, namun kekhususan ikan adalah dari kandungan asam lemak rantai gandanya yaitu omega tiga. Kandungan omega tiga ini terdapat pada semua ikan dan tinggi pada jenis ikan tertentu seperti ikan tuna, dan salmon. Omega tiga ini sangat mudah rusak terutama saat proses pemasakan dengan suhu tinggi seperti menggoreng. Maka sebaiknya ikan dengan kandungan omega tiga diolah dengan pemasakan yang tidak menggunakan suhu tinggi seperti kukus, rebus, tumis dan pepes. Penyimpanan ikan sebelum diolah sama halnya dengan daging yaitu pada suhu beku, dalam wadah yang sesuai dengan porsi yang akan dikonsumsi.

Untuk semua makanan yang dimasak, jika tidak ingin segera dikonsumsi maka simpanlah segera pada suhu dingin. Saat akan mengonsumsinya makanan tinggal dihangatkan saja, bukan dimasak ulang dengan suhu tinggi dan lama. Penggunaan bumbu bumbu alami seperti daun kunyit, daun salam, lengkuas, jahe dan kunyit pada masakan dapat meningkatkan masa simpan makanan yang telah matang, karena bumbu bumbu ini mempunyai sifat antibakteri.  Kesimpulannya adalah usahakan selalu memasak makanan dalam jumlah secukupnya saja agar sekali dimasak dan dapat segera habis untuk dikonsumsi. 

Terbaru